"Bagaimana? Kau sudah menemukannya? Baiklah. Aku akan segera ke sana." Revan membelokkan setir menuju tempat yang sudah anak buahnya katakan. Mungkin ini kesempatannya agar Yuna bersedia tinggal bersama. Setidaknya, mereka bisa memiliki banyak waktu untuk berbicara dan membuka pintu menuju kebahagiaan untuk Kania. Ckiiit …. Revan menghentikan mobilnya di depan warung dimana Yuna berada. Ia segera turun dari mobil dan memasuki warung yang kini tak begitu ramai. Ia melihatnya, melihat Yuna juga anaknya, namun bukan hanya mereka karena ada Deon di sana. Ia mengepalkan tangan kuat. Kenapa harus pria itu? Apakah Yuna lebih memilih menghubungi pria itu daripada dirinya? Revan memilih menekan sesuatu yang bergejolak seolah ingin memberi Deon pelajaran kemudian melangkah menghampiri meja merek