58

1709 Words

Mentari pagi Surabaya mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamar, namun Lintang terbangun dengan perasaan yang sama sekali tidak tenang. Ia mendudukkan diri di tepi ranjang, mengusap wajah manisnya yang terasa sembab dan matanya yang sedikit bengkak akibat kurang tidur semalaman. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak di dalam dadanya. Seharian kemarin ia benar-benar menerapkan aksi mogok bicara dan mendiamkan Dewa total. Apa aku salah ya? batin Lintang bimbang. Namun di sisi lain, ego dan hatinya yang sensitif berontak. Lintang merasa dirinya berhak marah, berhak kecewa. Mas Bule-nya itu tiba-tiba saja pergi meninggalkannya ke Jakarta tanpa ada obrolan atau aba-aba sebelumnya, padahal situasi emosional Lintang sedang tidak stabil pasca-kejadian di lingkungan rumah mereka. Meski

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD