Suara alarm ponsel yang lembut memecah keheningan kamar hotel tepat pukul 03.00 WIB. Di balik selimut tebal berwarna putih, Lintang hanya mengerutkan hidung kecilnya. Kelopak matanya bergerak pelan, lalu kembali terpejam beberapa detik, seolah berusaha menawar waktu tidur yang terasa masih sangat kurang. Tok. Tok. Tok. Pintu kamar diketuk perlahan dari luar. "Mbak Lintang..." suara Kalinda terdengar lirih. "Sudah jam tiga, Sayang." Lintang mengembuskan napas panjang. "Iya... Bun...." Jawabannya terdengar begitu pelan, bahkan lebih mirip gumaman orang mengigau. Beberapa detik kemudian ia memaksakan diri duduk di atas ranjang king size kamar hotel. Rambut panjangnya berantakan, poni depannya berdiri ke sana kemari, sementara matanya masih sembab karena kantuk. Ia meraih ponsel di nak

