Bab-3

1032 Words
Demi keluarga, demi bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat. Sella menerima tawaran Bima untuk menjadi Ibu s**u. "Aku butuh uang, kapan lagi aku bisa dapat uang sebanyak itu? Dengan uang itu aku bisa membayar hutang kedua orang tuaku." Sella bermonolog sambil mengerjakan pekerjaannya sebagai sekretaris Bima. Meskipun pekerjaan itu bertolak belakang dengan Sella yang notabennya perempuan baik baik, tetapi dia tidak memiliki pilihan lain selain menerima pekerjaan itu demi keluarga. "Cuma jadi Ibu s**u aja, ngga akan ada icip icip," gumamnya kembali menguatkan kepercayaan diri agar bisa lebih yakin dengan keputusan yang diambil. Sella menghela napas berkali kali lalu tak lama, terdengar suara seseorang membuka pintu dari ruangan Bima yang berada di sebelah kirinya. Sella langsung berdiri, dia tahu yang akan keluar dari ruangan itu adalah bosnya. "Kita berangkat sekarang," kata Bima pada sekretaris cantiknya. Bima menatap Sella dari atas sampai bawah kaki. "Kenapa muka kamu tegang begitu? Emang saya mau bawa kamu ke tempat pelelangan? Saya cuma mau mengajak kamu ke salon dan tempat spa." Sella menelan saliva keras kemudian menjawab, "I-iya Pak, ayuk." Ia pun mengemasi meja kerjanya dengan tangan gemetar. Bima merapikan jasnya sambil menunggu Sella merapikan meja kerja. "Cepat! Saya ada janji dengan Mama saya malam ini." Sella mengangkat kepala yang sedari tadi tertunduk, "Jadi bukan malam ini Pak?" Bima melihat jam di lengan kekar, "Nanti jam sepuluh malam kamu harus datang ke Hotel Grasia." "Tapi Pak, masa cewek cantik kayak saya ke Hotel malam malam begitu?" Bima terdiam, 'Iya juga sih,' batinnya kemudian mengatakan, "Kamu datang ke Hotel itu jam tujuh malam. Saya sudah booking Hotel untuk satu malam. Nanti saya datang ke sana setelah urusan saya dan Mama saya selesai." Kembali Sella menelan saliva keras lalu menjawab, "I-iya Pak, nanti saya ke sana jam tujuh malam. Tapi di sana ada pelayanannya kan Pak? Soalnya saya ngga punya uang buat beli makan malam. Uangnya kan buat naik taksi." Bima berdecak, "Nanti saya kasih uang buat kamu makan di restoran. Cepat berangkat, kamu harus melakukan perawatan dulu." "Eh, tapi perawatannya ditemenin sama Pak Bima?" tanya Sella semakin gugup, bagaimana bisa dia melakukan sauna bersama bosnya? "Ya ngga lah, saya ada urusan di luar. Saya cuma antar kamu ke sana, dan membayar semua tagihan. Nanti kamu pulang naik taksi aja dan jangan lupa ke Hotel Grasia jam tujuh," jawab Bima. "Iya Pak," angguk Sella lalu berjalan mendekati bosnya. Bima melangkah lebih dulu menuju lift menuju parkiran. Sedangkan Sella mengekor dari belakang. Keduanya memang sering keluar berdua untuk melakukan meeting, itu sebabnya kedekatan mereka tidak pernah dianggap lebih oleh para karyawan yang lain. Sella semakin gugup saat membayangkan dia akan berduaan di kamar hotel bersama bosnya. "Masuk," ucap Bima membuka pintu mobil. "Makasih, Pak." Sella masuk ke mobil tersebut. Bima berlari memutari mobil mewahnya lalu duduk. "Pakai sabuk pengaman," katanya. "Jangan gugup, saya ngga akan gigit kamu, tapi kalau icip icip ... saya ngga janji," kekehnya. "Pak Bima kan udah janji ngga akan icip icip, please la Pak. Jangan, saya masih mau nikah dan punya keluarga. Saya memang butuh uang, tapi saya ngga mau nyerahin mahkota saya apalagi demi uang." Bima menyeringai, "Kamu tenang aja, udah saya bilang kalau saya ini memiliki kelainan. Saya ngga akan nyentuh kamu, justru tugas kamu cuma bangunin Burung Perkutut saya biar berkicau lagi. Saya juga mau nikah dan punya anak. Untuk itu saya sedang berjuang agar Burung Perkutut saya bisa digunakan." Sella mengangguk, "Kita sama sama membutuhkan ya, Pak. Tolong jangan rugikan saya." "Justru saya yang takut, kamu ngapa ngapain saya," kekeh Bima. Sella mengernyitkan dahi, "Kok saya yang ngapa ngapain Pak Bima? Mikir ke sana aja saya gelay." "Gelay? Apaan tuh?" tanya Bima. "Jijik, Pak." "Halah, sekarang kamu bilang jijik, nanti pas kamu lihat ukurannya saat dia bangun, bisa minta nambah kamu," tawa Bima pecah. Sella bergidik ngeri, semakin ilfeel dengan bosnya yang satu ini. Setelah puas tertawa, Bima menatap sekretaris cantiknya sesaat lalu bertanya, "Kamu punya pacar?" "Eh, kenapa Pak Bima nanya begitu?" "Ck! Saya nanya begini karena saya takut merusak hubungan orang. Ngomong aja, kamu punya pacar atau ngga?" Sella menggelengkan kepala. Sedangkan Bima sedang fokus menyetir. Hening! "Jawab," kata Bima. "Saya udah jawab," balas Sella. "Mana jawabannya? Saya ngga denger?" Bima menatap sekretarisnya. "Kamu jawab di dalam hati? Pantas saya ngga denger, kamu pikir saya ini IndiHome." "Indigo, Pak," tandas Sella. "Iya itu maksudnya," angguk Bima. "Cepet jawab. Kamu punya pacar atau ngga?" "Saya ngga punya pacar, Pak, tapi kalau cowok yang saya suka ... ada." "Siapa? Saya?" kekeh Bima percaya diri. Sella mengangkat sebelah bibirnya. "GR banget," gumamnya pelan. "Siapa?" tanya Bima. Presdir itu memang tidak sabaran setiap kali berbicara dengan lawannya. "Ada, Pak, rahasia," jawab Sella. "Cowok?" tanya Bima. "Ya cowok lah Pak, masa cewek? Emang saya kaum Pelangi." "Kirain," kekeh Bima. "Siapa? Ada di kantor? Karyawan saya? Office Boy saya? Atau satpam yang jaga gedung saya?" Sella menggaruk alis yang tidak gatal lalu mengatakan, "Penting banget ya, Bapak Bima tahu?" "Penting sih ngga, saya cuma penasaran aja sama selera kamu. Siapa tahu di luar prediksi BMKG." Sella mengernyitkan dahi lalu menjawab, "Yang jelas cowok itu lebih ganteng dari Pak Bima. Lebih baik dan juga lebih keren." Bima mengejek dengan memajukan bibir bawahnya. "Di dunia ini saya laki laki paling tampan, kata Mama saya." "Itu kan menurut Mama, Pak Bima. Beda lagi kata Mama saya." Bima menatap sekretarisnya lekat, "Siapa lelaki paling tampan versi Mama kamu?" "Bapak saya," kekeh Sella. Bima mengangguk, "Papa saya juga ganteng kata Mama saya." Sella mengulum senyum, sebenarnya pembahasan random seperti ini sudah sering mereka lakukan setiap kali mereka sedang dalam perjalanan meeting. Namun perjalanan kali ini berbeda, karena Sella dan Bima tidak sedang terlibat dalam pekerjaan. "Pak Bima, mau nikah?" tanya Sella penasaran. Bima mengangguk. "Udah ada calonnya?" Kembali Sella tak bisa menahan diri untuk bertanya. "Sudah," jawab Bima yakin. "Pacar Pak Bima? Kok saya baru tahu Pak Bima punya pacar?" "Bukan, tapi wanita yang mau dijodohkan Mama saya. Malam ini saya ketemuan sama dia. Itu sebabnya saya meminta kamu untuk bangunin Burung Perkutut saya sebelum saya dan wanita itu menikah. Ngga mungkin kan saya ngga bisa melakukan apapun di Malam Pertama nanti." Sella manggut-manggut. "Pak Bima tenang aja, saya pastikan Burung Perkutut Pak Bima bisa berkicau lagi." Bima tersenyum lebar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD