Bab-4

1030 Words
Bima mengantar Sella ke salon langganan sang ibu sekaligus tempat perawatan para artis dan istri pejabat. "Kamu masuk aja ke dalam, di sana ada orang suruhan saya yang akan mengajakmu perawatan. Semua biaya perawatan kamu sudah saya lunasi khusus hari ini. Saya mau pulang, ada janji sama Mama saya," kata Bima saat mobilnya berhenti tepat di depan salon kecantikan. Sella menatap bagian depan salon itu dengan kedua mata melebar, bahkan mulutnya menganga karena kagum. 'I-ini beneran, aku akan melakukan perawatan di sini?' gumamnya dalam hati. "Cepat turun. Ngga mungkin kan kamu nyuruh saya nungguin kamu perawatan di sini?" Mesin mobil kembali dinyalakan oleh Bima. "Tapi di dalam beneran ada yang ngarahin saya, 'kan Pak? Soalnya saya ngga tahu harus masuk ke ruangan mana dan harus melakukan perawatan apa di dalam," ucap Sella sambil menundukkan kepala. "Kan tadi saya udah bilang sama kamu, kalau di dalam udah ada orang suruhan saya yang bakal ngarahin kamu. Saya juga udah ngebayar lunas paket perawatan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kamu tenang aja." Sella menyeringai, "Makasih banyak ya, Pak. Jujur baru pertama kalinya saya masuk ke tempat seperti ini. Sebenarnya saya takut, dan malu." "Buat apa takut? Apalagi malu? Toh kamu itu wanita, sudah sewajarnya kamu melakukan perawatan di dalam. Kecuali yang masuk ke sana saya." "Iya juga sih." Sella meremas bagian bawah kemeja yang dikenakan. "Saya masuk sekarang, Pak?" "Tahun depan," jawab Bima. "Ya sekarang, Sella Marlela. Masa lebaran monyet?" "Nama saya Sella Satiya Pak, bukan Marlela?" Bima mengatur tingkat kesabarannya. "Masih mau berdebat soal nama? Atau kita pindah tempat aja, kayaknya kamu lebih cocok perawatan di Pet shop." "Yang bener aja dong Pak, emang saya kucing Anggora?" "Cepet turun!" perintah Bima. "Saya ada janji temu sebentar lagi. Ngga sempat mandi, bau asem." "Tapi Pak Bima tetap ganteng kok," kekeh Sella. "Ya jelas, saya emang ganteng dari lahir." Bima merapikan alis tebalnya, dan menatap wajah blasterannya di depan kaca spion. "Tapi sayang," ucap Sella sambil memegang handle pintu mobil. "Sayang apa?" lirik Bima. "Burungnya ngga bisa berkicau!" Sella pun bergegas turun sebelum terkena amukan Bima. Sella berlari, takut mendengar teriakan bosnya. Hidung CEO itu kembang kempis seperti seekor kerbau yang siap menyeruduk orang di depannya. "Dasar sekretaris ngga ada ahlak! Kalau ngomong suka bener." Ia pun melajukan mobil meninggalkan salon kecantikan. Sedangkan Sella memasuki Lobby salon mendekati dua orang yang menyambut kedatangannya. Sella terkesima melihat bangunan salon mewah itu, yang terlihat sangat indah dan elegan. "Mari ikuti saya," ucap dua orang pegawai salon. Sella pun mengikuti mereka ke dalam ruangan yang sudah disiapkan untuk melakukan perawatan total dari ujung kaki sampai ujung kepala. Untuk pertama kalinya Sella merasakan seperti seorang RATU sehari, dilayani bahkan tubuhnya mendapatkan sentuhan yang menyegarkan dari profesional. Ia juga diberikan makanan dan minuman mewah. 'Enak juga ya jadi orang kaya? Andai aja Pak Bima itu suami aku, pasti aku bisa setiap hari merasakan ini, tapi ngga mau ah. Siapa juga yang mau nikah sama Bos Impoten? Lagian, biarpun aku mau sama dia, belum tentu dia mau sama aku,' batin Sella yang tengah menikmati perawatan wajah. *** Kedatangan Bima ke rumah disambut sang ibu dengan senyuman dan juga pertanyaan ..., "Gimana, berhasil?" Bima mengendurkan dasi di leher, "Aku aja belum masuk ke rumah Ma, tapi Mama udah nanya itu." "Ya udah, kamu tinggal jawab aja, apa susahnya?" Jihan mengekor Bima yang berjalan masuk ke dalam rumah. "Ah!" desah Bima setelah merebahkan tubuh kekarnya ke atas sofa panjang di ruang tamu rumah mewah kedua orang tuanya. Jihan ikut duduk, "Siapa wanita itu? Apa dia mau menolong kamu?" "Iya, dia mau, karena bayaran yang aku berikan mahal." "Ya ngga apa apa, yang penting berhasil. Siapa tahu Burung Perkutut kamu bisa berkicau, Mama udah ngga sabar pengen ngenalin kamu ke anak teman Mama." Bima menoleh ke samping kiri, tempat duduk ibunya. "Bukannya malam ini Mama nyuruh aku ketemuan sama seseorang?" "Iya, ketemu dulu baru bahas soal perjodohan, tapi kalau kamu belum sembuh, ya Mama malu. Pokoknya kamu harus sembuh dulu, biar malam pengantin kalian nanti lancar." Bima menghela napas panjang, kemudian bersandar ke sandaran sofa sambil melebarkan kedua tangan. "Semoga aja kali ini berhasil. Aku juga udah kangen, pengen melakukan itu," gumamnya pelan. "Ngomong ngomong, siapa yang mau jadi tumb-al? Maksud Mama, wanita mana yang mau menjadi Ibu s**u kamu? Dia cantik ngga? Katanya dia masih perawan? Kok bisa?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut Jihan hanya dijawab dengan helaan napas oleh Bima yang kemudian berdiri. "Aku mau mandi dulu, kita bahas setelah aku mandi. Badan aku bau, lengket." Jihan memegang lengan anaknya, "Selamat aja, kalau nanti Mama mau keluar nemuin orang tua Irina. Nanti malam kak Irina mau ketemu sama kamu. Mending kamu jelasin sekarang, siapa wanita itu," desaknya. Bima terdiam, tidak mungkin dia mengatakan kalau wanita itu adalah Sella, sekretarisnya. Dia tahu Jihan sangat mengenal Sella. "Jawab, Bima," desak Jihan. "Pokoknya wanita itu mau menjadi Ibu s**u, udah gitu aja. Yang penting sekarang kan bukan siapa wanita itu, tapi apa dia bisa menyembuhkan penyakit Impoten sialan ini," jawab Bima. Jihan melepas genggaman tangannya, "Iya juga sih," angguknya. "Ya udah, kamu mandi aja dulu. Mama mau ke rumah orang tua Irina." "Jadi nama wanita itu, Irina?" tanya Bima yang baru saja mengetahui nama calon istrinya. "Iya, namanya Irina. Dia cantik, pintar, baik dan bodynya mirip gitar Spanyol. Mama yakin kamu bisa langsung tertarik saat melihat dia." Bima tersenyum simpul, "Jadi ngga sabar pengen ketemu," kekehnya. "Udah cepet mandi, dan jangan lupa bawa sesuatu saat kamu ketemuan sama dia. Mama yakin dia akan klepek klepek sama kamu." Bima mengencangkan dasinya kembali, "Ya pasti kalau soal itu sih, karena aku ini kan tampan. Wanita mana yang bisa menolak pesona aku." Jihan tersenyum, "Tapi tetap aja kamu memiliki kekurangan. Semoga cara yang Mama saranin buat kamu itu, berhasil." "Hmm, semoga," harap Bima lalu kembali berjalan menuju kamar. "Mama pergi diantar supir aja, jangan menyetir sendiri!" "Iya," sahut Jihan berjalan menuju halaman rumah. Sedangkan Bima bersiap untuk menemui Irina, wanita cantik yang sebentar lagi akan menghiasi hari harinya dan menyempurnakan hidupnya sebagai seorang Presdir sukses dan kaya raya. "Sella, jangan sampai dia gagal membangunkan Burung Perkutut ini. Hanya dia harapanku satu satunya agar bisa menikah dengan wanita seperti Irina." Sang Presdir masuk ke dalam kamar mandi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD