Selesai melakukan perawatan kecantikan, Sella kembali pulang ke rumah diantar oleh ajudan Bima.
"Silakan bersiap siap Nona. Ini pakaian dan segala pernak pernik untuk membuat penampilan Anda semakin sempurna," ucap seorang lelaki yang sedari tadi mengawasinya.
"Makasih." Sella pun mengambil paperbag dari tangan lelaki itu lalu masuk ke dalam kostan tempat tinggalnya selama ini.
Hidup menjadi sebatang kara di Kota Besar, membuat Sella harus bisa mengendalikan pengeluaran, itu sebabnya dia tinggal di kostan kecil, tetapi dikhususkan untuk wanita.
"Pakai gaun? Kelihatannya gaun ini mewah," gumam Sella saat mengeluarkan isi paperbag. Ia pun menempelkan gaun itu ke depan tubuh kemudian berputar putar, sambil tersenyum memandangi wajah cantiknya.
"Gila sih, pantes aja perawatan di sana mahal, hasilnya aja bikin pangling. Kalau aku kembali ke kampung dengan penampilan seperti ini, pasti Bapak sama Ibu ngga kenal sama aku."
Sella masih memandangi dirinya dengan kagum di depan cermin, hingga tanpa sadar dia belum membersihkan tubuh di kamar mandi.
Drttt!
Suara getaran ponsel terdengar. Ia melihat ada satu panggilan tak terjawab dari Bima.
"Aish! Mau apa sih Pak Bima? Nanti juga aku duluan yang sampai ke hotel," gerutunya kemudian menerima telepon.
"Kamu di mana? Cepat ke Hotel, tunggu saya di sana. Jam sepuluh malam saya datang. Pokoknya kamu ngga boleh ke mana mana sebelum saya datang!"
"Iya Pak, ini juga lagi siap siap. Lagian sekarang masih jam enam sore, sebentar lagi saya ke sana. Pak Bima tenang aja, saya ngga akan ke mana mana sesuai dengan perjanjian kita."
"Bagus, jangan sampai kamu melanggar perjanjian, atau saya batalkan kontrak kerja sama kita. Saya batalkan uang yang akan saya transfer setelah pertemuan kita malam ini."
"Iya Pak Bima, tolong jangan marah marah, nanti semakin tua. Lagian siapa juga yang mau membatalkan kerja sama? Saya butuh uang dan Pak Bima butuh belaian."
"Nah, itu kamu tahu. Semoga aja kamu bisa membangunkan Burung Perkutut saya, soalnya saya mau nikah sama perempuan cantik pari purna."
"Tapi janji ya Pak, jangan pake icip icip. Rugi di saya dong, Pak Bima nikah sama cewek lain, malah icipin saya duluan."
"Kamu tenang aja, pokoknya kalau Burung saya berkicau, kita sudahi. Artinya saya sembuh," kekeh Bima. "Ngomong ngomong, kamu udah selesai melakukan perawatan? Udah kinclong kayak Amoy di Kelenteng?"
"Udah kinclong plus wangi, plus cantik dan masih banyak lagi plus plusnya. Pak Bima tenang aja, pokoknya saya yang dulu bukanlah yang sekarang."
"Sip kalau begitu," balas Bima. "Cepat ke Hotel, saya udah ngga sabar pengen lihat reaksi Burung Bima Perkasa."
"Sip, Pak."
Sella meletakkan ponsel ke atas nakas setelah Bima mengakhiri panggilan. Ia kembali menatap diri di depan cermin lalu mengatakan, "Semua ini Sella lakuin demi kalian. Sella ngga mau hidup kita dibayang bayangi hutang. Pokoknya Sella akan membuat kalian bahagia dengan uang yang Sella dapatkan. Kalian tenang aja ya," ucapnya sambil memandang foto kedua orang tua dan adik adiknya.
Sebagai tulang punggung keluarga, Sella harus berpikir keras untuk mendapatkan uang dan juga untuk mengangkat derajat kedua orang tuanya agar tidak terhina.
"Saatnya mandi. Jam tujuh makan malam di restoran, jam delapan masuk kamar dan nunggu Bos Absurd itu," gumam Sella lalu masuk ke dalam kamar mandi.
***
Bima memandangi wajah tampannya di depan cermin. "Perfect," pujinya pada wajah dengan hidung mancung dan dagu terbelah yang membuat ketampanan sang Presdir terlihat sempurna.
Selesai memastikan wajahnya sudah tampan, dia bergegas keluar dari kamar.
"Namanya siapa, Ma?" tanya Bima sambil memasukan ponsel ke dalam saku jas.
"Irina, dia sudah nunggu kamu di restoran Italia," jawab Jihan.
"Oke, aku mau berangkat dulu. Ma, Pa." Bima berjalan tergesa-gesa menuju garasi rumahnya.
"Bima mau ketemu sama siapa, Ma?" tanya lelaki paruh baya yang duduk bersama istrinya di ruang keluarga.
"Sama Irina, wanita yang sering Mama ceritain itu loh. Mereka mau ketemuan malam ini," jawab Jihan.
"Oh, Irina. Cantik?"
"Kalau soal cantik, jangan ditanya. Pokoknya dia itu wanita sempurna."
"Bagus kalau begitu, Papa udah ngga sabar pengen gendong cucu dari Bima."
"Sama Mama juga," kekeh Jihan.
Kedua orang tua Bima masih berbincang membicarakan anak mereka. Sedangkan Bima sudah tiba di restoran Itali tempat janji temunya dengan Irina.
Bima berjalan gagah memasuki restoran. Kedatangannya disambut ramah oleh dua penjaga restoran mewah yang berdiri di depan pintu kaca.
"Nona Irina sudah menunggu di ruang VVIP," ucap salah satu lelaki yang kemungkinan tahu tentang pertemuan itu.
"Terima kasih," ucap Bima lalu masuk ke dalam restoran.
Dia melihat seorang wanita sedang duduk di tempat mewah yang dipesan khusus oleh Jihan.
"Ehem, maaf lama menunggu," sapa Bima ramah.
Wanita itu berdiri sambil tersenyum, kemudian dia mengulurkan tangan pada Bima. "Irina," katanya.
"Bima Perkasa," balas Bima menyambut uluran tangan itu. "Silakan duduk, apa kamu sudah memesan makanan?"
"Belum, tapi aku sudah memesan minuman untuk kamu." Irina duduk di depan Bima.
"Terima kasih," ucap Bima sambil menatap kagum pada kecantikan Irina. "Kamu cantik," pujinya.
"Terima kasih, kamu juga tampan," balas Irina.
Bima merapikan alis tebalnya kemudian meminum minuman beralkohol di atas meja.
Tak lama dua orang pelayan datang membawa buku menu. Keduanya memesan makanan yang sama.
"Sudah lama menunggu?" tanya Bima pada Irina.
"Belum lama, mungkin lima menitan," jawab Irina.
Bima menganggukkan kepala, "Hmm, soal rencana kedua orang tua kita. Apa kamu menerima perjodohan itu?"
Irina terdiam sambil terus menatap Bima. Wajah tampan Bima mampu mengalihkan dunianya, apa lagi alasan untuknya menolak perjodohan?
Bima lelaki sempurna, dan pastinya banyak wanita yang ingin menjadi istri dari Presdir kaya raya itu.
"Bagaimana? Apa kamu mau menerima perjodohan itu?" Bima meraih jemari tangan Irina yang berada di atas meja.
Sejujurnya, Bima juga sudah merasakan ketertarikan pada Irina sejak pertama kali melihat wanita itu.
"Iya, aku mau menjadi istrimu," angguk Irina tersenyum lebar.
Bima berbunga bunga, ingin rasanya melompat dari gedung tinggi sangking bahagianya.
'Akhirnya sebentar lagi aku memiliki istri. Sella harus bisa membangunkan Burung Perkutut ini. Harus!' batin Bima.
***
Di tempat berbeda. Selesai makan malam, Sella kembali ke kamar Hotel. Ia berbaring di atas tempat tidur sambil memandangi dek kamar.
"Lama," gerutunya. "Jam berapa sih Pak Bima datang? Udah ngantuk."
Bosan hanya menatap atap kamar. Ia pun turun dari ranjang kemudian berolahraga kecil.
Nyut!
Sella menghentikan kegiatan saat merasakan denyut menyakitkan dari dua gundukan kembarnya.
Rasa nyeri itu menyiksa, rasanya ingin segera dikeluarkan dari dalam tubuh. "Pak Bima lama banget sih," kesalnya karena menuruti ucapan Bima untuk tidak memompa ... sebelum dia datang.
Krek!
Sella tertegun saat melihat Bima masuk ke dalam kamar.