Bab 41

1246 Words

Aurel menggenggam tangan Samuel kuat-kuat ketika mereka bergerak menuju pintu samping kamar yang terhubung ke lorong servis hotel. Nafas Aurel naik turun, bukan hanya karena panik, tapi juga karena tubuhnya masih bergetar oleh apa yang baru saja terjadi di antara mereka—sentuhan, bisikan, hampir-kecupan, dan pengakuan yang terselip di sela rasa takut. Samuel membuka pintu pelan, memeriksa apakah lorong aman. Lorong itu sepi, hanya lampu putih pucat yang menyinari jalur panjang menuju lift khusus staf. Samuel menarik Aurel masuk lalu menutup pintu kembali, memastikan suara klik kunci tidak terdengar terlalu keras. “Cepat,” bisik Samuel, namun ia tetap menahan tangan Aurel agar tidak terpisah darinya. “Aku dengar langkah kaki di ujung sana.” Aurel menelan ludah. “Mereka sudah naik sampai

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD