Pagi itu, Aurel terbangun lebih cepat dari biasanya. Cahaya matahari masih lembut, sedikit saja menembus tirai, memberikan warna keemasan tipis pada kamar yang besar dan terlalu sunyi itu. Ia menatap langit-langit, mencoba menenangkan pikiran yang sejak semalam terus berputar tanpa jeda. Aurel menarik napas panjang. Ucapan Samuel semalam—dingin, to the point, tapi entah kenapa tetap jujur—masih terngiang. Meski hatinya sedikit perih, ia tahu laki-laki itu tidak berniat jahat. Samuel hanya… begitu. Terlalu kaku. Terlalu sibuk. Terlalu terbiasa hidup sendirian. Dengan setengah mengantuk, Aurel bangun dan langsung menuju dapur. Rutinitas sederhana seperti menyiapkan sarapan membantunya merasa berguna. Setidaknya ia tidak hanya duduk dan menumpang hidup di rumah mahal ini tanpa berkontribusi

