Bravino menendang kursi di dekatnya. Sudah berulang kali ia menghubungi Ivy, sejak terakhir kali tadi Kaisar yang menjawabnya. Ia tidak takut dengan ancaman Kaisar tadi ataupun predikat pengganggu calon istri orang yang akan menempel padanya. Peduli setan dengan semua itu. Yang ia khawatirkan saat ini adalah kondisi Ivy juga putranya. Bisa saja Kaisar marah dan mungkin juga menyakiti wanita juga anaknya itu. Tak kuat rasanya bila ia harus menunggu lebih lama tanpa ada kepastian mengenai dua orang yang paling ia cintai di dunia ini. "Apa aku langsung ke sana aja?" Bravino menghubungi Suryo. "Siapkan mobil sekarang!" Setelah menarik sebuah jaket jeans dari dalam lemari, Bravino langsung keluar dari kamarnya. Menuruni tangga seperti hendak terbang saja. "Vin, kamu mau ke mana?" Barbar

