“Pembohong" Suasana di lapangan bola yang awalnya hangat oleh suara tawa Regi, seketika mendingin. Langit sore yang begitu cerah mendadak mendung oleh rasa kekecewaan si kembar. Wajahnya yang semula jenaka saat menghadapi ocehan Regi, kini berubah menjadi serius, tipikal ekspresi yang dia gunakan saat harus mengambil keputusan krusial di ruang rapat. “Maafkan Uncle, Regi. Kali ini saja, Uncle harus pergi,” ucap Arsen sambil mengacak rambut Regi pelan. Regi yang awalnya bersemangat, ingin mengalahkan Abangnya, kini Bibirnya melengkung ke bawah. “Bukankah Uncle bilang ingin bermain dengan kita? lalu kenapa sekarang malah menyudahi nya sebelum waktunya?" Pertanyaan itu membuatnya saketika terdiam Arsen beralih menatap Rega. Putra sulungnya itu tidak berteriak seperti adiknya. Rega

