Suasana di restoran mewah itu seketika hening Suara denting sendok dan garpu yang tadinya mendominasi, kini berganti dengan ketegangan yang membuat mereka terdiam. Tuan Bagas berdiri tegap di ujung meja, menatap Arsen dengan pandangan yang seolah bisa melubangi kepalanya, tajam dan menantang. Kehadirannya yang tiba-tiba bagaikan hakim yang siap menjatuhkan vonis mati dari segala kepercayaan diri Arsen yang menginginkan Khalisa. Arsen terdiam sejenak. Dia menundukkan kepalanya untuk sesaat, bukan takut atau gemetar ketakutan seperti kebanyakan pria yang berhadapan dengan Tuan Bagas. Arsen meletakkan sendok dan garpu dengan sangat tenang. Dia mengusap sudut bibirnya dengan ujung jas nya, padahal di depannya tersedia serbet kain putih yang bersih. Galen mendelik, “Astaghfirullah" M

