BAB 4

1044 Words
Renan menarik Yuna keluar dari aula, tatapannya penuh g a i r a h, tubuhnya terasa panas dan ada sesuatu yang menuntutnya untuk melakukan suatu hal yang lebih. Kini mereka sudah berada di sebuah lorong yang sepi. Renan menarik Yuna mendekat dengan tatapan memohon, Renan meminta tolong pada Yuna. "To—" Tapi, ucapannya terhenti saat Renan menatap wajah Yuna. Dia tidak sedang mimpi atau mabuk. Renan dengan kesadaran penuh menatap wajah wanita yang mirip dengan Yuna. "Yuna? Kamu Yuna?" pekik Renan sambil memegang ke dua pipi Yuna. Yuna berusaha melepaskan tangan Renan dari pipinya. Dan itu berhasil, Yuna berusaha untuk lari dari Renan. Namun tangannya segera di ganggam kembali oleh Renan. "Jangan pergi Yuna, jangan pergi," pinta Renan dengan suara beratnya. Matanya memerah tubuhnya lemas, keringat dingin pun keluar dari pelipisnya. Menahan sesuatu yang ada di dalam dirinya. "Aku bukan Yuna, bukan," elak Yuna yang berusaha melepaskan dirinya dari Renan. Karena obat perangsang itu membuat Renan terus menarik tangan Yuna tidak melepaskannya. "Tolong, tolong aku. Bawa aku..." pinta Renan dengan sangat memohon. Melihat mantan suaminya yang sangat kesusahan itu. Matanya memerah, keringat kecil keluar dari pelipisnya. Ia pun berubah pikiran, tidak tahu apa yang terjadi pada mantan. "Ikut aku," ucap Yuna yang memapah tubuh Renan untuk mengikutinya. Renan dengan susah payah mengikuti langkah Yuna menuju ke sebuah kamar. Langkahnya tertatih, tubuhnya terlalu panas. Sebuah desakan terus menuntut Renan agar segera di tuntaskan. Yuna membawa Renan ke atas tempat tidur. Ia baringkan mantan suaminya itu di sana. Matanya membulat sempurna saat Renan membuka kancing kemejanya satu persatu. "Panas, tolong aku Yuna!" Sebutnya memanggil nama Yuna dengan amat sangat jelas. Sontak Yuna amat sangat panik, matanya melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari solusi. "Tunggu, tunggu sebentar aku akan cari bantuan." Saat Yuna akan mencari bantuan, lengan Yuna di tarik oleh Renan. Masuk ke dalam dekapannya. "Hanya kamu yang bisa membantu ku Yuna," pinta Renan dengan suara yang lirih. Tatapan mereka bertemu, ada gejolak yang Yuna rasakan di dalam hatinya. Mata tajam namun teduh itu, tidak Yuna pungkiri ia juga merindukan sentuhan mantan suaminya. "Tolong aku kali ini saja," pinta Renan sekali lagi. Dan itu berhasil membuat Yuna terhipnotis oleh permainan Renan. Tanpa Yuna sadari, kepalanya mengangguk setuju untuk membantu Renan. Setelah mendapat persetujuan dari Yuna. Renan segera mengukung tubuh mungilnya itu. Sebelah tangan Renan, memegang tengkuk lehernya. Perlahan Renan mempersatukan ke dua bibir mereka untuk saling bertemu pertama kalinya kembali. Yuna memejamkan matanya, membiarkan Renan untuk menyentuh lebih dari itu. Dan malam itu pun menjadi malam panas bagi mantan suami istri tersebut. --- Mata Yuna terbuka, tubuhnya terasa pegal namun fresh. Perlahan dia mengitari pandangannya ke sekeliling. Yuna merasa bingung dengan tempat yang ia lihat. "Aku di mana?" gumamnya dengan suara ciri khas orang bangun tidur. Tubuhnya terasa berat seperti ada yang menindih. Matanya membulat sempurna saat melihat sebuah tangan besar sedang memeluknya. Yuna langsung menoleh ke samping, dan matanya terbelalak melihat siapa yang kini ada di sampingnya. Yuna baru teringat apa yang terjadi dengan mereka semalam. Kepalanya mendadak pusing, dadanya terasa sesak. "Sial kenapa aku bisa melakukan itu dengannya," ucapnya dalam hati. Yuna melihat tubuhnya di balik selimut, benar saja dia tidak memakai sehelai benang pun. Seketika dia panik melihat dirinya yang polos seperti. Perlahan Yuna bangun, ia tidak mau sampai membangunkan Renan di tengah tidurnya yang lelap. Satu persatu Yuna mengambil kembali bajunya yang berserakan di lantai. Di masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai pakaiannya kembali. Dengan cepat kini Yuna sudah memakai pakaiannya kembali. Ia keluar dari kamar mandi, berjalan dengan mengendap- ngendap agar tidak menimbulkan suara yang menggangu tidur Renan. Perlahan Yuna akhirnya berhasil keluar dari kamar Renan. Kini kepingan-kepingan ingatan Yuna tidur bersama Renan terus berputar di dalam pikirannya. Yuna terus memukul- mukul kepalanya, berharap bayangan itu hilang. Sayangnya, sentuhan Renan masih bisa Yuna rasakan sampai saat ini. Bagaimana tidak mereka melakukannya hingga berkali-kali seolah melepas rindu selama ini. "Sialan kenapa malah jadi gini sih!" Yuna terus menggerutui dirinya. Kalau keputusannya tadi malam amat salah. "Yuna kamu kenapa?" tanya Farhan, bingung dengan keadaan Yuna yang cukup acak-acakan. "Kamu sakit?" Yuna terkejut dengan kehadiran Farhan temannya. Ia segera merapihkan penampilannya agar tidak di curigai oleh sahabatnya itu. "Kamu kenapa hey? Kok pucat wajahnya? Sakit?" tanya Farhan khawatir, sambil memegang pundak Yuna. Yuna mengangguk pelan, "Iya kepala aku agak sakit, aku mau ijin dulu Han. Boleh kan?" Pinta Yuna. "Boleh kamu istirahat aja di kosan, mau aku antar?" tawar Farhan. "Gak usah aku naik kendaraan umum aja. Aku pulang dulu," pamit Yuna yang sedikit menundukkan kepalanya dan langkahnya terburu-buru Dia tidak mau jika Farhan melihat beberapa bercak merah di lehernya, akibat Renan. Farhan menautkan ke dua alisnya heran. "Kenapa dia?" Kini Yuna sedang berada di bis kota. Tatapannya kosong ke depan, ia menyandarkan kepalanya ke jendela bis kota. Yuna sangat menyesali perbuatannya semalam, tapi juga tidak menyangkal dia menikmati permainan mantan suaminya. Ternyata sekarang dia lebih liar, Yuna segera menggelengkan kepalanya menepis pikiran kotor dari otaknya. "Astaga bisa-bisanya aku mikir kesana. Terbesit di dalam pikirannya, "Apa dia udah menikah lagi?" --- Di sisi lain kini Renan sudah terbangun, ia sedang duduk di sisi ranjang dengan kepala yang masih terasa sangat berat. Ia mendesah kasar saat melihat Yuna sudah tidak ada di sampingnya lagi. "s**t! Bisa-bisanya aku kecolongan. Dia masih hidup ternyata, aku menemukan Yuna," gumam Renan ada rasa bahagia yang dia rasakan. Akhirnya penantiannya selama ini tidak sia-sia, apa yang dia yakini ternyata benar adanya kalau Yuna masih hidup. Renan tidak percaya kalau Yuna sudah meninggal, walaupun eyangnya memperlihatkan jasad Yuna, tapi Renan percaya jika itu bukan lah jasad sang istri. "Yuna ku belum meninggal dia masih hidup, dia masih hidup," gumamnya lagi dengan suara yang menggebu-gebu. Renan menatap tangannya yang semalam benar-benar menyentuhnya. Terbesit dari sudut bibirnya yang tertarik membentuk senyuman tipis. "I found you." Renan segera beranjak dari tempat duduknya, ia bergegas untuk mencari Yuna. Renan yakin jika Yuna masih berada tidak jauh darinya. Setelah memakai pakaiannya kembali Renan segera mencari keberadaan Yuna di hotel tersebut. Matanya terus mengitari setiap sudut hotel, hampir satu jam dia mencari Yuna namun nihil. Renan mengusap wajahnya kasar, "s**t, ternyata dia sudah pergi!" Di sudut lain Farhan melihat sosok yang selalu Yuna hindari. Ia cukup terkejut dengan kehadiran Renan di tempat kerjanya. "Bukannya itu Renan? Apa karena ini Yuna? Astaga!" ______________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD