BAB 3

1076 Words
Yuna tengah duduk di sebuah coffee shop untuk menghilangkan penat sebentar di jam istirahatnya. Kepalanya terasa cukup sakit, kala lingkungan kerjanya yang tidak baik-baik saja. Menghembuskan napas pelan, Yuna menyeruput ice coffee latte, dengan tatapannya tertuju pada layar ponsel melihat sosmed yang sedang booming sekarang. Artis sepak bola akhirnya menceraikan istrinya. "Wah duda baru nih," gumamnya pelan. "Siapa yang duda baru?" Yuna langsung menoleh ke arah sumber suara, ternyata Farhan yang tiba-tiba ada di depannya. "Ish bikin kaget aja!" balas Yuna. Farhan tersenyum tipis, wajahnya yang tampan membuat para wanita merebutkannya. Tapi, tidak dengan sahabatnya ini. Yuna cenderung biasa saja melihat wajah Farhan. "Minum kopi doang? Gak sama snacknya gitu? Atau apa?" Yuna menggelengkan kepalanya. "Gak ah, ini aja lagi males." Farhan menaikkan sebelah alisnya, "Nanti magh kamu kambuh, minimal roti atau apa ya, udah aku pesenin juga." Yuna mengerjapkan matanya. Sahabat sekaligus atasannya ini memang sangat perhatian. Sering sekali Yuna di kirim makanan oleh Farhan kalau malam hari. "Hah, tapi kan aku gak pesen Han," protesnya ingin menolak tapi tidak enak. "Emang kamu gak pesen, tapi aku yang pesen buat kita berdua," jelasnya membuat Yuna akhirnya tidak bisa menolak lagi. Yuna menghela napasnya kasar. "Kenapa sih kamu kaya gini? Kan aku jadi enak, eh gak enak maksudnya," kekehnya. Farhan pun ikut tertawa mendengar ucapan Yuna. Ini yang dia suka dari Yuna, perempuan baik hati dengan sifat random. "Makanya jangan protes tau! Toh tinggal makan ini." Yuna pun membenarkan ucapan Farhan. Ada baiknya dia tidak terlalu mempermasalahkannya. Mungkin sudah rizki Yuna saja lewat Farhan, yang penting perempuan itu tidak memanfaatkan temannya. --- Meeting telah usai, di mana dua perusahaan telah berhasil menjalankan kerja samanya. Beberapa orang keluar dari ruangan, tapi tidak dengan Renan dan Tama yang lebih memilih menunggu dulu sebentar. Renan menatap gelang yang tidak sengaja ada di tangannya. "Lu kepikiran gelang itu?" tanya Tama. Renan menganggukkan kepalanya, bayangan wanita itu mengingatkan dia pada seseorang. Suaranya, postur tubuhnya, dan inisial huruf yang ada di gelang itu, semua menunjukkan ciri-ciri mantan istrinya. "Gua kepikiran kalau yang tadi itu Yuna," jelas Renan. Tentu saja Tama berdecak kesal, lagi-lagi mantan istrinya. Sedangkan dia tidak boleh sembarang menyebut. "Ren, Ren, inget Ren kalau mantan istri lu itu—" "Gua gak percaya, kalau Yuna udah meninggal. Jasadnya aja gak ada, gua yakin eyang gua yang ada di balik ini semua," paparnya. Tama menggelengkan kepalanya, sudah bingung dengan pemikiran temannya itu. "Lu coba deh selidiki, apa emang bener eyang lu sejahat itu sama lo? Soalnya gua gak yakin!" "Alasannya apa lu gak yakin?" "Eyang lu itu gak seburuk itu Ren, percaya sama gua!" Renan yang mendengarnya pun menjadi malas. Tidak ada alasan yang jelas tentang firasat Tama. Ia segera beranjak dari tempat duduknya. Dan pergi meninggalkan Tama. "Ren, tunggu woy. Inget nanti malem ada acara juga di sini," peringat Tama, yang tidak di gubris oleh Renan. --- Kini Yuna sedang mencari gelangnya yang hilang. Itu adalah satu-satunya harta benda yang Yuna punya dari ibunya, dan kini hilang begitu saja? Yuna sampai mencari di jalan tempat ia menuju coffee shop. Tatapannya sangat fokus mencari benda yang sangat berharga tersebut. "Di mana astaga? Please jangan hilang dong, lu nyawa gua," gumam Yuna sambil terus mencari keberadaan gelangnya. Hingga sampai ke kantor dia mencari ke seluruh penjuru demi mendapatkan gelang itu. "Yun cari apa?" tanya Poppy temannya yang bekerja sama dengan Yuna. "Cari gelang tangan gua Pop, ilang gitu aja," jelas Yuna dengan wajah sedih. "Coba lu inget-inget terakhir lu sadar gelang lu gak ada di mana?" tanya Poppy. "Di coffee shop depan, tapi gua cari udah gak ada tetep." Yuna memasang wajah frustasinya. "Ya udah gua bantuin cari sebelum kita di suruh buat bersihin ruang aula," jelasnya. Yuna menoleh ke arah Poppy. "Ruang aula? Bakal ada pesta lagi?" "Katanya sih gitu bakal ada pesta yang di adaain sama pak Gelen, itu loh pemilik perusahaan furniture terbesar," jelas Poppy. Yuna mengangguk saja, tanpa ingin tahu siapa orang itu dan bagaimana bentuknya. "Gosipnya pak Gelen itu selingkuh loh. Dan lu tahu, selingkuhannya itu selebgram dong," sambung Poppy. Yuna hanya memasang wajah datar, sumpah demi apa. Yuna benar-benar tidak penasaran dengan Gelen-gelen itu. Mau dia selingkuh kek, dia nikah siri kek bodo amat, yang terpenting adalah gelangnya. "Kalian lagi apa? Cepat ke aula, nanti malam akan ada acara di sini!" ucap ketua OB. "Ba-baik bu," jawab mereka serempak. --- Renan duduk di sofa kamarnya, ia membuka dua kancing atas kemejanya sambil menyandarkan punggungnya di sofa. Matanya terpejam sebentar, akhir-akhir ini dia kurang tidur karena pikirannya yang ke mana-mana. Sebelah tangan Renan memijat keningnya, kepalanya terasa sangat berat. Badannya pun terasa tidak enak sepertinya Renan harus ambil cuti sehari untuk istirahat. Ponselnya berbunyi, mengganggu istirahatnya. Tangan kirinya meraih ponselnya, matanya yang sangat berat harus terpaksa ia buka. Ada pesan dari Tama, mengingatkan jam berapa acara dimulai. Renan berdecak kesal, ia melihat jam yang ada di tangannya. Renan segera beranjak dari tempatnya untuk bersiap-siap. Tidak butuh waktu lama bagi Renan untuk berganti pakaian. Kini dia sudah berada di dalam mobil untuk menuju ke hotel Sartika. Acara begitu sangat meriah, di mana para pejabat, pengusaha berada di sana. Renan dengan jas hitam, kemeja navy di tambah dasi dan aksesoris mahal yang melekat di tubuh Renan, menambah kesan ketampanannya. Beberapa wanita di sana menatap terus ke arah Renan mencari perhatian. Tapi sayangnya Renan tidak tertarik dengan mereka. Tama melambaikan tanganya, memberi tahu pada Renan keberadaannya. "Gua kira lu gak akan dateng," ujarnya saat Renan sudah ada di dekatnya. Renan hanya diam sambil mengitari sekitar, matanya menyipit saat ia melihat sosok wanita yang yang menabraknya tadi siang. Saat Renan akan menghampiri wanita itu, tanganya di tarik oleh Tama. "Mau ke mana? Acara mau di mulai. Renan mengurungkan niatnya, pikirnya nanti akan ia hampiri wanita tersebut. Acara pembukaan di mulai di mana Renan saat ini sibuk basa basi menyambut rekan kerjanya. Beberapa pelayan menawarkan minum pada Renan. Ia mengambil salah satu minuman yang tidak mengandung alkohol. Ia tidak mau mengambil resiko di tempat ini. Renan menikmati minuman yang dia ambil, matanya kembali menangkap sosok wanita yang dia cari. Ia pun melangkahkan kakinya menuju wanita yang memakai masker tersebut. Saat Renan berjalan menuju wanita tersebut, ada yang tidak beres dengan dirinya. Suhu tubuhnya terasa panas, Renan pun tau kenapa dia bisa seperti ini. "Sialan!" Renan mempercepat langkahnya, berjalan menuju gadis tersebut dan segera memegang tangannya. Yuna terkejut saat tangannya di genggam oleh orang asing. Tatapannya langsung tertuju pada pria yang ada di dekatnya dengan keadaan membungkuk. "T-tolong, tolong aku!" ____________
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD