Oliver keluar dari dalam mobil mobil. Tanpa memegang senjata api, pria itu bergegas menuju pintu klinik yang sudah terbuka. Pria itu mengumpat berulang kali dalam hati, melihat tiga orang anak buahnya terikat dengan mulut disumpal. “Berhenti di situ!” Belum juga masuk ke dalam klinik, seseorang menghentikan ayunan kaki Oliver. Oliver berdiri di ambang pintu dengan tatapan lurus ke depan. Sepasang rahang yang terkatup, kini saling menekan-nekan kuat. Bola matanya bergerak, menemukan Tom serta tiga orang lainnya yang juga sudah tak lagi berdaya. Duduk di lantai dengan tangan dan kaki terikat, sementara mulut mereka sumpal kain. ‘Bodoh!’ Ingin sekali Oliver mengumpat keras Tom dan anak buahnya yang lain. Bagaimana bisa mereka ditundukkan oleh orang-orang itu? Oliver merasa harga dirinya se

