Meskipun hati Grace masih berduka, namun nyatanya kepedulian teman-temannya membuat dia sesikit melupakannya. Seharian ini dia belerja membuat hatinya lumayan lebih baik dari sebelumnya.
Saat siang Grace mendapatkan telefon dari Xavier namun tidak di jawab olehnya. Xavier akhirnya hanya mengirimkan pesan padanya namun tetap tidak mendapatkan balasan.
Xavier yakin jika sebenarnya Grace tau jika dia mengirmkan pesan untuknya, hanya saja Grace sengaja tidak membalasnya.
Xavier hanya bisa menghela nafas panjangnya dan memang harus banyak-banyak bersabar menghadapi Grace. Dia yakin jika suatu saat Grace akan luluh dengan kesbarannya.
Memang benar, jika Grace sengaja tidak memabalasnya karena selain malas, dia sedang makan bersama teman-temannya.
Saat ingin pulang, ada pesan masuk dari Xavier yang mengatakan jika dia sudah berada di depan kantor Grace.
Lagi-lagi Grace tidak menjawabnya namun langsung keluar dari kantornya, dia melihat sekitar lebih dulu sebelum masuk ke dalam mobil Xavier.
"Apa kau ingin mampir ke suatu tempat lebih dulu?" Tanya Xavier.
"Tidak! Aku ingin pulang." Ucap Grace dengan singkat yang akhirnya di angguki saja oleh Xavier.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Tanya Xavier, dia mencoba mencairkan suasana dan ingin sering berkomunikasi dengan calon istrinya.
Grace terdiam sebentar, sebenarnya dia sedang tidak mood untuk mengobrol, entah kenapa dia belum bisa menerima dengan sukarela, padhal dia sendiri yang sudah memutuskan untuk menerima Xavier kembali.
Xavier tidak bertanya lagi dan mengira jika Grace sepertinya sedang lelah karena dia tidak menjawab pertanyaanya.
"Baik." Jawab Grace yang membuat Xavier akhirnya tersenyum.
Meskipun singkat dan lambat menjawabnya, namun Xavier cukup senang karena Grace masih menjawab pertanyaannya.
"Aku sudah mempersiapkan pernikahan kita, jika kau sudah siap untuk membahasnya katakan saja, mungkin saja kau tidak menyukai konsepnya." Ucap Xavier.
"Aku tidak mau pernikahan yang mewah, ingat itu." Ucap Grace yang dimengerti oleh Xavier.
Dia sedari awal memang sudah di wanti-wanti oleh orang tua Grace jika tidak memperbolehkan mereka menikah nantinya dengan pesta yang mewah karena Grace masih dalam keadaan berduka, Xavier menyetujuinya karena pesta pernikahan pun tidak begitu dipermasalahkan olehnya, yang terpenting adalah janji suci mereka nantinya dan menjadi pengikat hubungan antara mereka berdua.
Mereka tidak begitu banyak mengobrol karena Xavier sendiri tidak banyak bertanya melihat mood Grace sedang buruk. Setelah sampai bahkan Grace langsung turun dari mobil namun Xavier mencegahnya.
Grace reflek menarik tangannya yang membuat Xavier melepaskannya.
"Maafkan aku. Aku hanya ingin memberitahu jika aku tidak bisa mampir karena aku ada meting." Ucap Xavier.
"Ya, terserah padamu." Ucap Grace.
"Terima kasih." Lanjutnya sebelum turun dari mobil yang di senyumi oleh Xavier.
Sejujurnya dia merasa hatinya sesih karena untuk disentuh olehnya saja dia seperti tidak mau, padahal dulu jika Grace di antar olehnya. Grace selalu manja dan memberikan ciumannya kepadanya.
"Kau harus sabar, Xavier! Ingat sebentar lagi Grace menjadi milikmu." Gumam Xavier menyemangati dirinya sendiri.
Dia menghela nafas panjangnya dan akhirnya pergi dari sana dan menuju restoran untuk metingnya.
*****
Keesokkan paginya, Grace kembali di antar oleh Xavier, sikap Grace masih sama namun Xavier tidak mempermasalahkannya, setelah memastikan Grace turun dan ingin masuk ke dalam kantor, barulan Xavier pergi dari sana.
"Aktingmu terlalu bagus, Grace." Ucap Starla saat Grace ingin masuk ke dalam kantor, Grace reflek menghentikan langkah kakinya dan menoleh, dia terkejut ketika ternyata Starla yang ada di belakangnya.
Grace tadinya ingin menghiraukannya dan langsung masuk ke dalam kantor namun terlejut saat Starla mencegahnya dan bahkan mencengkram tangannya.
Grace langsung melepaskan diri dengan mendorong Starla yang membuat dia semakin merasa murka.
"Berani sekali kau mendorongku." Starla menatap tajam ke arah Grace namun sedari dulu Grace memang tidak takut dengannya.
"Apa maumu?" Tanya Grcae tanpa basa-basi.
"Kau tidak pantas dengan Xavier, sudah baik kau meninggalkannya tapi kau malah mau menikah dengannya hanya karena alasan perkataan terakhir calon suamimu. Alasan yang bodoh!" Ucap Starla.
"Lihatlah! Kau hanya bekerja sebagai pesuruh, rendahan. Sedangkan Xavier adalah seorang pembisnis, latar belakangmu sama sekali tidak cocok dengannya. Kau seharusnya tau diri." Lanjutnya.
"Lalu maksutmu kau yang pantas bersama Xavier begitu?" Ucap Grace tersenyum remeh.
"Ya, tentu saja! Aku adalah anak dari seorang pembisnis, wajahku cantik dan aku juga berpendidikan. Aku adalah wanita yang sempurna. Hanya aku yang pantas dengan Xavier. Bukan dirimu!" Ucap Starla.
Bukannya marah, Grace malah semakin tersenyum remeh tanda mengejeknya.
"Aku sudah meninggalkan Xavier selama bertahun-tahun tapi kau masih belum bisa meluluhkannya dan membuat dia memilihmu, itu artinya semua yang kau katakan tidak ada artinya." Ucap Grace.
"Nyatanya orang yang menurutmu tidak cantik dan tidak berpendidikan ini lebih di pilih oleh Xavier dibandingkan denganmu yang katanya sempurna." Lanjutnya.
"Berani sekali kau—
Starla benar-benar emosi, dia bahkan rasanya ingin menampar Grace hanya saja keamanan di sana menghampiri mereka.
"Ingat kata-kataku. Seperti dulu kau berpisah dengan Xavier. Akan aku pastikan jika kau dan dia berpisah kembali. Jika bukan aku. Maka tidak ada wanita manapun yang bisa mendapatkannya." Ucap Starla lalu pergi dari sana.
"Anda tidak apa, Nona Grace?" Tanya keamanan.
"Tidak apa, Pak! Terima kasih." Grace tersenyum dan akhirnya masuk ke dalam kantornya.
Senyumnya berubah menjadi dingin, ternyata selama bertahun-tahun Starla masih saja mau menganggunya.
Dia masih sangat ingat selain Helen, Starla juga penyebab berpisahnya dirinya dan Xavier.
Starla selalu menganggunya dan mengompori Helen yang tidak suka dengannya, dia selalu membuat dirinya dan Xavier salah paham yang akhirnya Grace menyerah dan meninggalkan Xavier.