Althea bangkit dari kursi, wajahnya memerah. Tentu saja ia pernah membayangkan apa yang dikatakan teman-temannya, hanya saja terlalu malu untuk mengatakan. “Tu-tunggu, kalian kenapa, sih?” Tamara mendekat dan berbisik. “Wajahmu merah, Althea. Yang dibilang mereka berdua itu hal lumrah. lngat, kasih tahu kami kalau kalian udah ciuman, ya?” “Jangan lupa harus foreplay sebelum ML, jangan main serang aja. Ntar kesakitan,” ucap Gania. Althea menutup telinga dan berlari ke pintu. “Aku pulang dulu. Lama-lama bisa sesat kalau sama kalian.” Diiringi tawa yang menggelegar dari tiga temannya, Althea berlari menyusuri halaman menuju mobilnya yang terparkir. Saat melihat kemacetan di depannya, ia menarik nafas panjang, menyadari akan lelahnya menyetir dalam kemacetan. Tiba di rumah Evander, Adeli

