Lucy menatap langit malam, ditemani Jimmy-tangan kanannya-. Langit terlihat sangat indah, bintang bertaburan dengan bulan bersinar terang, membelah kegelapan. Pemandangan ini mengingatkannya tentang masa lalu, bersama suami yang telah menyakitinya membuat dirinya benar-benar gila. Pemandangan bagaimana pria itu memberikan kejutan kembang api serta makan malam di pantai, juga bertingkah konyol yang melupakan siapa diri mereka. Pria yang mencoba untuk membunuhnya, menyiksanya, menyakiti hatinya, dan pembunuh dari kedua orangtuanya. Perasaan Lucy benar-benar hancur melihat bagaimana pria itu berselingkuh tepat di depan matanya. Hans berciuman dengan Tiffany yang sangat terobsesi dengan suaminya itu.
Lucy menjatuhkan airmata. Ia sangat tidak percaya dengan fakta yang ada. Cinta yang begitu besar ia rasakan harus berubah menjadi dendam demi membalaskan dendam secara diam-diam pada suaminya. Sebenarnya ia tidak ingin melakukan ini semua, namun seorang penjahat tidak boleh terus dimaafkan, bukan? Seorang penjahat akan terus mengulangi kejahatannya jika ia belum sadar. Hal inilah yang ingin Lucy lakukan. Membalas dan membuat pria itu sadar akan segala kejahatannya.
Sekitar dua puluh menit ia bersedih, mengingat masa lalu, segera ia hapus airmatanya. Ia harus kuat, jika tidak hancurlah semua usahanya selama ini. Ia menoleh pada Jimmy yang selalu menjaganya. Meski ia hanya di teras, pria itu tetap melindunginya, bisa saja musuh menyerang tiba-tiba. Ya, Lucy mengerjakan bisnis gelap seperti suaminya, mengubah warna mata dan rambut, menurunkan berat badan, menambah tinggi, sehingga ia cukup jauh berbeda dari sebelumnya.
"Apa makan malam sudah siap?" Ia bertanya untuk memastikan.
Sebab malam ini adalah malam dimana ia akan melanjutkan rencananya bertemu suaminya untuk yang kedua kalinya.
"Sudah, Nona," jawab Jimmy.
Lucy mengodekan tangannya agar pria itu pergi dan tanpa basa-basi Jimmy langsung pamit. Kakinya melangkah menuju kamar anak-anaknya, anak dari Hans. Meski mereka tidak pernah bercerai, namun Lucy telah dikabarkan telah meninggal, karena itu ia tidak perlu repot-repot mengurus perceraian. Ia dapat langsung memulai rencana balas dendamnya.
Wanita itu mencium puncak kepala kedua anak kembarnya dan bermain dengan mereka sebentar. Ia selalu menghabiskan waktu untuk mereka, sepadat apa pun pekerjaannya. Lucy menatap jam tangan yang menunjukkan pukul 07.59 PM yang berarti suaminya akan tiba satu menit lagi. Ya, Lucy tahu benar pria itu tidak akan datang lambat atau cepat, pria itu akan datang tepat pada waktu yang ditentukan. Sekali lagi, benar-benar tepat pada waktu yang ditentukan.
Lucy melangkah pergi meninggalkan kedua anaknya yang dijaga oleh pengasuh. Ia tidak mau Hans mengetahui kemiripan kedua anak mereka pada pria itu atau semua rahasianya akan terbongkar. Lucy pun pergi menuju ruang makan. Tepat saat ia duduk di kursi makan, bel berbunyi.
Ting-Tong!
Tanpa menunggu perintah, Jimmy segera membukakannya, mempersilakan pria itu duduk bersama tangan kanannya-Ken. Seolah Jimmy dan Lucy telah merencanakan dan menunggu hal itu. Jimmy kembali duduk di sisi Lucy untuk memulai makanan pembuka yang disiapi oleh pelayan yang ada. Aura yang tidak biasa selalu terpancar dari Hans, sudut mata yang dingin selalu melambangkan ketenangan serta kekejamannya. Hanya melihat fisiknya pun mampu membuat wanita memuja. Tampan, berkuasa, kaya, dan tidak bisa ditebak, pria misterius.
"Silakan," Lucy mempersilakan dan memakan makanan pembuka bersama mereka. "Bagaimana soal—"
"Aku menerima kerja sama itu," ucap Hans tenang memakan makanannya.
Lucy mengerjap-ngerjapkan mata dan menatap Jimmy tidak percaya. Secepat itu Hans menerima kontrak mereka? Lucy tersenyum puas. "Terima kasih," ucapnya langsung lanjut dengan aktifitas makan.
"Aku tidak melihat suamimu," ucap Hans masih tenang nan dingin auranya selalu membuat orang-orang terpesona padanya, berkharisma.
Lucy menyeringai tipis lalu segera menurunkannya saat melihat Ken melirik ke arahnya. "Aku tidak punya."
Setelah itu pelayan mengganti piring-piring yang sudah kosong itu dengan makanan lezat. Hans menatap Lucy masih dalam keadaan tenang.
"Berapa umurmu?" tanya Hans mengkaitkan jari tepat di depan bibirnya.
Lucy menatapnya balik. "Dua puluh tujuh tahun."
Hans meminum wine yang tersedia di samping makanannya. "Wajahmu masih terlihat muda."
Lizy tersenyum di dalam hati, ia memakan makanan yang ada sambil terus memikirkan topik apa yang dapat ia gunakan untuk memperdekat pria itu. Ya, ia ingin membuat Hans terpesona padanya, menghancurkan karir dan mematahkan hati pria itu.
"Di mana istrimu? Kau tidak membawanya?" tanya Lucy ingin sedikit mengorek isi hati pria itu pada dirinya.
"Dia di surga, bersama anak kami."
Lucy menunjukkan ekspresi sedih. "I'm sorry to hear that."
"Tidak apa, lagipula aku tidak percaya jika ia sudah mati," ucap pria itu memakan makanannya.
Tentu saja, karena aku kabur darimu...-Lucy
"Mengapa kau tidak mencarinya?" tanya Lucy menghentikan suapan ke mulutnya.
"Aku mencarinya." Hans masih memakan makanannya.
Pembohong! -Lucy
Lucy hanya menatapnya dengan tatapan intimidasi. Beberapa detik setelahnya ia kembali memakan makanannya, mood-nya hancur entah kenapa. Tidak lama, datanglah Sherly-pengasuh anaknya.
"Nona, anak-anak menangis tidak seperti biasanya," lapor Sherly.
Lucy langsung terlihat pucat ia tidak ingin rencananya hancur di tengah jalan, jika Hans melihat anaknya yang mirip dengan wajah pria itu, Hans pasti akan langsung tahu identitasnya. Lucy mengepalkan tangan, jantungnya berdegub lebih kencang dari sebelumnya sebab sudah hampir dua tahun ia habiskan untuk mempersiapkan rencananya, ia tidak ingin rencana itu hancur.
"Kau punya anak?" tanya Hans mengangkat alis kanannya.
"B-begitulah." Senyum Lucy masih mencoba agar terlihat anggun dan santai.
"Di mana ayahnya? Mengapa kalian tidak segera menikah?" tanya Hans beruntun, tatapannya seketika sedikit menajam.
"Kami putus dua bulan yang lalu," jawab Lucy berusaha menutupi kebohongannya. "Baiklah, saya permisi sebentar."
Lucy langsung beranjak menuju kamar kedua anaknya dan menenangkan mereka, tapi tidak seperti biasanya kedua anaknya sangat cerewet. Sebisa mungkin Lucy menghibur Nick dan Stacy, tapi mereka tidak juga berhenti menangis.
Hans berdiri dari kursinya. Entah mengapa ada perasaan sedikit mencurigakan di dalam benaknya. Ia melangkah menuju tempat di mana Lucy masuk ruangan. Terus melangkah hingga ia dapat mendengar tangisan kedua bayi kecil, namun saat itu juga anak buah Lucy menghadangnya.
"Maaf Tuan, anda tidak boleh masuk sembarangan," peringat salah satu anak buah itu sambil menunduk. Ia tahu siapa yang ada di hadapannya ini, pria paling kejam si Raja Mafia yang dapat melakukan apa saja padanya. Namun, ia hanya melakukan tugasnya, bukan?
Hans menghentikan langkah, menatap pria yang menghalanginya itu langsung dibekuk oleh Ken, sementara anak buah Lucy yang lain bersiap untuk menembak mereka. Perlahan Hans menoleh pada pria yang memperingatinya itu.
Raja Mafia itu mengangkat dagu salah satu anak buah Lucy dengan punggung sepatunya dan berucap, "Kau mencoba menghentikanku?"
Kret.
Pintu ruangan itu terbuka dan segera tertutup lagi. Lucy baru saja keluar dan terkejut menatap pemandangan yang ada di depannya tidak suka.
"Maaf, apa yang Anda lakukan, Mr. Stone?" tanya Lucy menahan amarah. Ya, bagaimana bisa pria itu berbuat kurang ajar di rumah orang?
"Dia melawanku, Nona. Dan semua orang tahu apa yang akan terjadi jika melawanku." Hans menyeringai tipis menatap wanita yang ada di hadapannya.
Hati Lucy berdesir mengingat pertemuan pertamanya dengan pria itu. Kata-kata itulah yang terucap untuknya dari Hans. Ia mengingatnya dengan baik, bagaimana pria itu selalu digilai wanita dan bersikap tenang, kapan pun dan di mana pun. Namun, segera Lucy tepis pemikiran itu.
"Dan saya tidak akan diam jika keluarga saya diperlakukan seperti itu." Lucy mengambil pistol di paha mulus miliknya. Ya, untuk para mafia, mereka adalah keluarga.
Hans terkekeh singkat, kemudian pergi ke pintu utama yang diikuti Ken di belakangnya. Ia berucap tenang, "Aku menunggu surat kontrakmu."