Layar ponsel Bian akhirnya menyala. Ada notifikasi masuk. Degup jantungnya melonjak begitu ia melihat nama Nadira muncul lagi. Nadira Hahaha, masakanku kan biasa aja. Tapi kalo kamu betah, aku bikinin lagi kapan - kapan. Atau mau dimasakin apa itu, Indomie, ya Bian menatap pesan itu lama. Kalimatnya sederhana, tapi mengandung sesuatu yang membuat dadanya terasa hangat. Ia membacanya ulang tiga kali, seolah takut kehilangan rasa manis yang muncul dari kata - kata Nadira. Semakin dibaca, semakin, semakin membuatnya tersenyum. Tangannya refleks mengetik, lalu berhenti. Ia sadar sedang tersenyum sendiri. Pipinya bahkan terasa hangat, padahal ruang tunggu bandara dingin oleh AC. Bian Boleh juga, trial error ya, Nggak apa- apa deh, kalo aku diare, kamu yang beliin obat. Begitu pesan itu t

