Dan di sana, di balik keheningan itu, ia sadar: ia sedang menunggu seseorang yang mungkin tidak akan hadir lagi dengan cara yang sama. Ada jarak yang tidak boleh ia langkahi, ada batas yang tak bisa ia sentuh. Tapi di hatinya, diam - diam berontak, dan ngotot masih berharap. Senyum kecil di layar ponsel, yang barusan ia lihat, lebih menyakitkan daripada badai paling ganas di dapurnya. Karena badai bisa ia lawan dengan pisau tajam dan keberanian. Tapi senyum itu? Ia hanya bisa menerimanya, meski membuatnya runtuh perlahan dari dalam. Hati Nadira seolah tercekat. Ada rasa yang sulit dijelaskan, bukan cemburu sepenuhnya, bukan juga marah. Lebih seperti kesadaran pahit bahwa sejak awal, ia tidak pernah berada di posisi yang bisa menuntut apa pun. Tangannya refleks menutup layar ponsel. Ia

