BAB 79

1728 Words

Jarum jam merayap lambat melewati angka dua malam. Koridor rumah sakit bersalin di kawasan Jakarta Selatan itu begitu sunyi, menyisakan bau antiseptik yang khas bercampur dinginnya pendingin ruangan. Keheningan larut malam itu sesekali dipecah oleh derap langkah tergesa dari beberapa perawat yang bersiaga. Namun, di balik pintu kayu jati ruang bersalin VIP, suasananya terasa jauh lebih menegangkan. Lampu-lampu kamar sengaja dibuat temaram, memantulkan bayangan dua manusia yang sedang berjuang keras melewati batas ketahanan fisik dan duka masa lalu. ​Elara terbaring pasrah di atas ranjang medis. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, membuat beberapa helai rambut hitamnya menempel basah di dahi. Setiap beberapa menit sekali, tubuhnya akan menegang hebat. Kedua tangannya mencengker

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD