Waktu berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun, tetapi bagi Elara, beberapa bulan terakhir ini terasa berlalu seperti aliran air pegunungan yang menyejukkan. Badai besar yang dulunya memorak-porandakan seluruh sendi kehidupannya kini telah benar-benar mengendap ke dasar masa lalu. Semua luka lama itu tidak lagi menjadi beban, melainkan telah menjelma menjadi fondasi yang teramat kokoh bagi lembaran barunya yang jauh lebih bermakna. Di dalam ruang kerja barunya—sebuah ruangan berdesain minimalis dengan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah taman belakang—Elara duduk dengan tenang di balik meja kayu jati kuno. Sepasang matanya fokus menatap layar monitor, sementara jemarinya bergerak lincah dan berirama di atas papan ketik. Menariknya, untaian kalimat yang ia susun saat ini bu

