Menggoda Atasan

1648 Words
Selena berjalan cepat kembali menuju pantry di lantai 60. Dengan hati-hati, kali ini ia membuat teh hangat sesuai permintaan Julian. Ia bahkan memeriksa berkali-kali agar tidak ada kesalahan lagi. “Kalau kali ini masih salah, mungkin aku bisa-bisa dipecat…” gumamnya pelan. Setelah teh selesai, ia membawa cangkir itu menuju ruang CEO. Namun baru saja sampai di depan pintu, Heni sudah berdiri di sana sambil membawa beberapa berkas. Heni menatap cangkir di tangan Selena. “Kamu mau ke mana lagi?” Selena langsung menjawab sopan. “Saya disuruh membuatkan teh untuk Pak Julian, Bu.” Heni mengangguk singkat. “Oh, berikan saja pada saya. Tuan Julian sudah pergi ke ruang meeting.” Selena sedikit terdiam. “Oh… sudah pergi?” “Iya. Ada rapat penting dengan para direksi.” Selena menyerahkan cangkir itu perlahan. “Baik, Bu.” Heni menerima teh itu. “Kamu bisa kembali ke divisi kamu.” Selena menghela napas kecil. “Baik, Bu. Saya kembali dulu.” Ia berjalan menuju lift karyawan dengan langkah lemas. Begitu pintu lift tertutup Selena langsung menggerutu pelan. “Sialan banget… ternyata dia cuma ngerjain aku. Apa dia masih dendam karena aku tabrak dirumah sakit tadi. ” Ia bersandar di dinding lift sambil memonyongkan bibir. “Suruh buat kopi, salah. Suruh buat teh, ternyata dia malah pergi meeting. Memangnya aku ini asisten pribadi atau korban latihan mental?” Ting. Pintu lift terbuka. Selena kembali ke divisi administrasi dengan wajah lelah. Baru saja ia masuk suara keras langsung menyambutnya. “Selena! Dari mana saja kamu?!” Itu suara Bu Siska, supervisor divisinya yang terkenal galak. Selena langsung menunduk. “Maaf, Bu…” Bu Siska melipat tangan di d**a. “Jam kerja itu untuk bekerja, bukan untuk keluyuran! Mana pekerjaanmu? Kenapa kamu pergi begitu saja?” Selena buru-buru menjelaskan. “Saya tadi disuruh membuatkan kopi untuk Pak Julian, Bu… lalu teh juga…” Bu Siska mendengus sinis. “Jangan cari alasan.” Selena terdiam. “Bu, saya benar—” “Mana mungkin CEO baru menyuruh karyawan magang seperti kamu membuatkan kopi? Jangan mengada-ada!” Beberapa rekan kerja mulai melirik dari meja masing-masing. Selena merasa wajahnya memanas karena malu. “Saya tidak bohong, Bu…” Bu Siska menunjuk meja kerjanya. “Sudah! Cepat selesaikan pekerjaanmu. Kalau laporan itu belum selesai hari ini, jangan harap kamu bisa pulang tepat waktu.” Selena menggigit bibir. “Baik, Bu…” Ia berjalan menuju mejanya sambil menahan kesal. “Hari ini benar-benar ingin menghancurkan hidupku…” batinnya lelah. Selena baru saja duduk di mejanya ketika ponselnya kembali berdering. Ia melirik layar dan wajahnya langsung berubah lelah. “Papa…” Dengan enggan, ia mengangkat panggilan itu sambil menahan napas. “Halo, Pa…” Suara Ferdi langsung terdengar keras dari seberang sana. “Halo, Selena! Kenapa dari tadi kamu tidak mengangkat telepon? Sengaja menghindar, ya?” Selena memejamkan mata sejenak. “Bukan begitu, Pa. Aku sedang sibuk, banyak pekerjaan di kantor hpnya aku silent.” Ferdi mendengus kasar. “Papa tidak peduli kamu sibuk atau tidak.” Selena sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. Jantungnya langsung terasa berat. “Pa…” “Pokoknya Papa tidak mau tahu. Nanti malam kamu harus ikut makan malam dengan Pak Ardan.” Suara Ferdi tegas, tanpa ruang untuk penolakan. Selena langsung menegakkan tubuhnya. “Aku tidak mau, Pa!” Beberapa rekan kerja mulai melirik ke arahnya. Ia menurunkan suara, namun emosinya jelas terdengar. “Aku sudah bilang, aku tidak mau dijodohkan dengan pria itu. Dia sudah punya istri!” Ferdi malah semakin marah. “Lalu kamu mau apa? Terus hidup miskin? Kamu pikir hutang keluarga ini bisa lunas sendiri?” “Kenapa harus aku yang selalu dijadikan alat?!” Suara Selena mulai bergetar. “Aku juga punya hidup, Pa. Aku juga ingin menentukan masa depanku sendiri.” Namun Ferdi tetap dingin. “Hidupmu? Masa depanmu? Jangan lupa siapa yang membesarkanmu.” Kalimat itu lagi. Selalu itu. Selena menutup matanya rapat. “Kalau bukan karena kami, kamu masih hidup di panti asuhan!” Tangannya mengepal. “Papa—” “Malam ini. Jam tujuh. Pak Ardan akan menjemput mu. Jangan buat malu keluarga.” Tut. Telepon langsung dimatikan. Selena hanya bisa menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak. Tiara yang duduk di sebelahnya mendekat pelan. “Kamu kenapa?” Selena tersenyum pahit sambil menatap layar ponselnya yang sudah gelap. “Aku disuruh makan malam lagi dengan om-om itu…” Tiara langsung membelalak. “Ya ampun, serius? Tega banget mereka!” Ia duduk lebih dekat sambil menatap Selena penuh prihatin. “Bagaimana dengan program bayi tabungmu? Kalau mereka terus memaksamu seperti ini, bagaimana nanti?” Selena menarik napas pelan. “Itulah kenapa aku harus bertahan. Kalau aku sudah hamil, mereka tidak akan bisa menjualku seenaknya lagi.” Tiara mengangguk cepat. “Benar! Kalau kamu sudah hamil, setidaknya kamu punya alasan kuat untuk menolak perjodohan itu.” Ia menatap Selena penuh harap. “Jadi… bagaimana? Prosedurnya tadi berhasil?” Selena terdiam sejenak. Tangannya perlahan menyentuh perutnya yang masih datar. Lalu ia menjawab dengan suara pelan. “Aku sudah menjalani prosedurnya.” Tiara langsung memegang tangan Selena. “Serius?!” Selena mengangguk. “Iya… pagi tadi, sebelum ke kantor.” Tiara tersenyum lebar. “Ya Tuhan, Sel! Ini kabar besar!” Namun wajah Selena tetap tidak sepenuhnya bahagia. “Aku masih takut, Tiara. Takut gagal… takut ketahuan… takut semuanya berantakan.” Tiara menggenggam tangannya lebih erat. “Dengar, kamu sudah sejauh ini. Jangan menyerah sekarang.” Matanya serius. “Kalau dunia tidak memberimu keluarga, maka kamu sendiri yang akan menciptakannya.” Kalimat itu membuat mata Selena kembali berkaca-kaca. Ia tersenyum kecil. “Terima kasih… setidaknya masih ada kamu yang berdiri di sisiku.” Tiara tersenyum hangat sambil menggenggam tangan Selena. “Tentu saja. Kita akan merawatnya bersama nanti.” Selena menatap sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca. “Kalau benar aku berhasil hamil… kamu harus jadi tante favoritnya.” Tiara langsung mengangkat dagu dengan bangga. “Itu sudah pasti. Aku bahkan siap jadi tante paling keren di dunia.” Mereka berdua tertawa kecil. Namun belum sempat suasana hangat itu bertahan lama suara Bu Siska terdengar keras dari seberang ruangan. “Kalian berdua kenapa malah ngobrol terus?!” Seluruh divisi langsung hening. Bu Siska berjalan mendekat dengan wajah galak. “Pekerjaan kalian sudah selesai? Laporan belum masuk, data belum rapi, tapi masih sempat bergosip?” Tiara langsung duduk tegak. “Maaf, Bu… kami hanya sebentar.” Bu Siska melipat tangan di d**a. “Sebentar, sebentar. Kalau semua orang kerja ‘sebentar’, perusahaan ini sudah bangkrut dari dulu.” Selena langsung menunduk. “Maaf, Bu Siska…” Belum sempat Bu Siska melanjutkan omelannya, Heni datang dari arah lift dengan langkah cepat. Semua orang otomatis menoleh. Sekretaris pribadi CEO itu berdiri di depan divisi administrasi sambil membawa beberapa dokumen. “Nona Selena?” Selena refleks berdiri. “Iya, Bu?” Heni menyerahkan sebuah map kecil. “Tuan Julian memanggil Anda.” Seluruh ruangan langsung hening total. Tiara membelalak. Bu Siska ikut terdiam. Selena sendiri hampir lupa cara bernapas. “S-saya?” Heni mengangguk profesional. “Iya. Ada beberapa barang penting yang baru tiba di lobby bawah. Anda diminta mengambilnya dan mengantarkannya langsung ke ruang beliau.” Selena masih tidak percaya. “Kenapa harus saya kana ada OB…” Tatapan Heni membuat Selena langsung memperbaiki kalimatnya. “Maksud saya… baik, Bu. Saya akan segera ke bawah.” Heni mengangguk lalu pergi. Begitu Heni menghilang dari divisi administrasi, suasana ruangan langsung berubah. Semua mata tertuju pada Selena, seolah ia baru saja memenangkan undian paling aneh di kantor itu. Beberapa rekan kerja mulai berbisik pelan. “Kenapa Tuan Muda Julian terus memanggil dia?” “Padahal cuma anak magang…” “Jangan-jangan mereka punya hubungan khusus?” Selena langsung merasa ingin menghilang dari muka bumi. Tiara mendekat sambil menahan senyum jahil. “Sel… kenapa Pak Julian terus mencari kamu?” Selena memijat pelipisnya. “Aku juga ingin tahu jawaban dari pertanyaan itu.” Tiara menyenggol lengannya pelan. “Jangan-jangan…” Selena menatap curiga. “Jangan-jangan apa?” Tiara menahan tawa. “Jangan-jangan dia naksir kamu lagi?” Selena hampir tersedak udara. “Apa?!” Beberapa kepala langsung menoleh. Tiara buru-buru menutup mulut Selena. “Ssst! Pelan sedikit!” Selena menepis tangannya. “Kamu sudah gila, ya? Mana mungkin CEO sedingin kulkas itu menyukaiku!” Tiara mengangkat bahu santai. “Ya siapa tahu. Selera orang beda-beda tau.” Selena memutar mata. “Dia cuma mau ngerjain aku bukan suka sama aku jangan ngaco kamu.” Sebelum mereka bisa lanjut bercanda, suara Bu Siska kembali terdengar. Tatapannya tajam mengarah pada Selena. “Kamu jangan macam-macam di depan Tuan Muda Julian. Mengerti?” Selena langsung berdiri tegak. “Iya, Bu.” Bu Siska melangkah mendekat melipat tangan di d**a. “Fokus bekerja, bukan menggoda atasan. Tuan Muda Julian itu bukan orang sembarangan.” Selena membelalak. “Saya tidak pernah—” Bu Siska memotong tegas. “Beliau sudah dijodohkan dengan Nona Chintya. Semua orang di perusahaan juga tahu itu.” Ruangan mendadak terasa semakin canggung. Beberapa rekan kerja pura-pura sibuk, tapi jelas masih mendengarkan. Wajah Selena memanas karena malu. “Bu, saya benar-benar tidak punya pikiran seperti itu. Saya hanya menjalankan perintah kerja.” Bu Siska mendengus pelan. “Bagus kalau begitu. Jangan sampai saya mendengar gosip yang tidak pantas.” Selena menunduk. “Baik, Bu.” Bu Siska menatapnya beberapa detik lagi sebelum akhirnya pergi. Begitu suasana sedikit tenang, Tiara langsung mendekat sambil berbisik. “Wah… kamu langsung dianggap ancaman nasional.” Selena memijat dahinya. “Aku bahkan belum sempat bernapas normal, sekarang sudah dituduh menggoda CEO.” Tiara menahan tawa. “Ya salahmu juga. Dari semua orang, justru kamu yang terus dipanggil Tuan Muda. ” Selena menghela napas panjang. “Kalau bisa memilih, aku lebih suka dipanggil bagian HR untuk tanda tangan pengangkatan karyawan tetap, bukan dipanggil CEO yang wajahnya seperti hakim sidang terakhir.” Tiara tertawa kecil. “Sudahlah, sekarang cepat ke lobby bawah. Sebelum beliau mencari kamu lagi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD