Selena masuk ke dalam lift dengan langkah berat.
Pikirannya masih dipenuhi ucapan Bu Siska dan tingkah menyebalkan Julian yang terus membuat harinya kacau.
Pintu lift terbuka di lobby utama.
Ia berjalan menuju meja resepsionis sambil membawa map kecil dari Heni.
Dengan sopan, Selena mendekat.
“Permisi, Mbak…”
Resepsionis itu mengangkat kepala.
“Iya, ada yang bisa saya bantu?”
Selena tersenyum tipis, meski jelas terlihat lelah.
“Tadi Pak Julian menyuruh saya mengambil barang di bawah untuk diantarkan ke ruangannya. Saya ingin menanyakan barang apa yang harus saya ambil?"
Resepsionis itu terlihat bingung.
“Barang?”
“Iya, dari lobby bawah. Katanya ada barang penting yang baru datang.”
Resepsionis membuka catatan pengiriman di komputer sebentar, lalu menggeleng pelan.
“Maaf, Nona. Hari ini tidak ada pengiriman khusus atas nama Tuan Julian.”
Selena mengernyit.
“Tidak ada?”
“Iya. Tidak ada paket, dokumen penting, ataupun barang titipan.”
Selena terdiam.
Wajahnya perlahan berubah.
Ia menatap kosong ke meja resepsionis beberapa detik.
Lalu…
“Oh…”
Resepsionis menatapnya heran.
“Mungkin ada informasi lain dari sekretaris beliau?”
Selena tersenyum kaku.
“Iya… mungkin begitu.”
Namun dalam hati.
“Sialan… jadi aku benar-benar dikerjai.”
Tangannya mengepal pelan.
Pria itu.CEO dingin itu.
Benar-benar mempermainkannya hanya untuk membuatnya mondar-mandir seperti setrikaan.
Selena menarik napas panjang, berusaha menahan kesal.
“Baik, Mbak. Terima kasih.”
“Sama-sama, Nona.”
Selena berbalik menuju lift lagi sambil mengomel dalam hati.
“Julian Kingsley… tunggu saja. Kalau bukan karena statusmu CEO, sudah kusiram wajahmu pakai teh tadi.”
Karena lift karyawan penuh, Selena berdiri sambil menghela napas panjang.
“Kenapa hari ini semua terasa menyebalkan sekali…”
Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol lift khusus petinggi perusahaan.
Beberapa detik kemudian.ting.
Pintu lift terbuka.
Selena melangkah maju, tetapi langsung membeku.
Di hadapannya, Julian baru saja hendak keluar bersama seorang pria asing berjas rapi dengan wajah khas Jepang.
Selena membelalak.
“Pak Julian…”
Dalam hati, ia langsung panik.
“Mumpung orangnya ada, aku harus tanya langsung kenapa dia mengerjaiku dari tadi.”
Pria Jepang itu tersenyum sopan.
Julian berjalan keluar sambil mengantar tamunya menuju lobby.
“Senang bekerja sama dengan Anda, Tuan Kingsley,” ujar pria itu sambil menjabat tangan.
Julian membalas dengan tenang.
“Saya juga, Tuan Nakamura. Semoga kerja sama ini berjalan lancar.”
Tuan Nakamura mengangguk.
“Perusahaan Anda sangat mengesankan. Saya menantikan proyek kita berikutnya.”
Julian menatap sopan namun tetap dingin.
“Terima kasih. Tim kami akan segera menghubungi Anda.”
Setelah mobil tamunya pergi, Julian berbalik.
Tatapannya langsung jatuh pada Selena yang masih berdiri kaku di depan lift.
Seolah menunggu ajal.
Julian melangkah mendekat.
Selena menelan ludah.
Belum sempat ia bicara Julian membuka pintu lift kembali.
“Ayo masuk. Urusan kita belum selesai.”
Sebelum Selena sempat menolak, Julian menarik pergelangan tangannya dan membawanya masuk ke dalam lift.
Pintu tertutup.
Suasana langsung terasa sesak.
Selena menarik tangannya.
“Urusan? Bapak sengaja mengerjai saya dari tadi karena kejadian tadi pagi di rumah sakit itu, kan?”
Julian menatapnya diam.
Selena semakin kesal.
“Karena saya menabrak Bapak? Padahal jelas-jelas Bapak juga yang menabrak saya! Kenapa saya yang terus disalahkan?”
Julian melangkah mendekat.
Selena refleks mundur hingga punggungnya menyentuh dinding lift.
“Pak—”
Julian mendekat, menatap lurus ke matanya.
Suasana mendadak sunyi.
Degup jantung Selena terdengar jelas di telinganya sendiri.
Julian mencium bibir Selena.
“Cup.”
Selena melotot.
“Bapak—!”
Julian menatapnya tajam.
“Bisa diam sebentar?”
Selena mendorong dadanya pelan, wajahnya memerah karena kesal bibirnya dicium tanpa izin.
“Kenapa Bapak mencium bibir saya tanpa izin?!”
Julian justru semakin menatapnya lekat.
“Karena kamu berisik…”
Ia berhenti sejenak.
Tatapannya berubah aneh.
Dalam hati Julian.
“Kenapa rasanya aku selalu ingin dekat dengannya? Kenapa milik ku berereksi hanya saat dia ada di dekatku?”
Ia mengingat kembali diagnosis dokter, rasa hampa selama bertahun-tahun, dan hidupnya yang terasa mati.
“Selama ini aku tidak merasakan apa pun… bahkan saat bersama Chintya, semuanya terasa biasa saja. Tapi kenapa dengan wanita ini berbeda?”
Tatapannya turun sesaat, lalu kembali ke wajah Selena.
“Apakah… ini artinya aku sudah sembuh tidak impoten lagi?”
Selena masih menatapnya kesal.
“Bapak ini kenapa sebenarnya? Suka sekali menindas karyawan magang seperti saya!”
Julian kembali memasang wajah datarnya.
“Kalau kamu berani melawan atasan, berati kamu tidak mau bekerja disini lagi.”
Selena mendengus.
“Kalau saya melaporkan Bapak atas tindakan asusila,karena telah mengecup bibir karyawan magang sembarangan bagaimana?”
Julian sedikit menyeringai tipis.
“Melapor ke siapa?”
Ia melangkah lebih dekat.
“Saya CEO perusahaan ini.”
Selena terdiam.
Lalu bergumam pelan,
“Benar-benar menyebalkan…”
Julian menatapnya tanpa berkedip.
Dan untuk pertama kalinya ia merasa wanita di hadapannya ini mungkin adalah jawaban dari hidupnya yang selama ini kosong.
Pintu lift terbuka.
Julian segera melangkah mundur, berusaha mengendalikan dirinya sendiri.
Wajahnya kembali dingin seperti biasa, meski dadanya masih berdebar tidak normal.
“Cepat keluar sana.”
Selena yang masih bingung langsung merapikan bajunya dan menatapnya kesal.
“Baik, Pak.”
Ia segera keluar dari lift sambil menggerutu pelan.
“Benar-benar pria aneh…”
Pintu lift kembali tertutup.
Julian memejamkan mata sejenak.
Tangannya mengepal, mencoba menenangkan napas yang tidak stabil.
“Apa sebenarnya yang terjadi padaku…”
Lift terus naik menuju lantai paling atas.
Sesampainya di ruang CEO, Julian langsung masuk tanpa banyak bicara.
Heni yang melihat wajah tuannya hanya bisa diam.
Julian menutup pintu ruangannya, berjalan ke meja, lalu segera mengambil ponselnya.
Ia menekan nomor Dokter Robert.
Beberapa detik kemudian.
“Hallo, Tuan Muda Julian.”
“Hallo, Dok.”
Suara Julian terdengar lebih serius dari biasanya.
Dokter Robert langsung menanggapi,
“Jika Anda ingin menanyakan tentang wanita yang menerima donor s****a Anda, kami masih melakukan penelusuran. Data pasien cukup banyak dan kami sedang memastikan semuanya.”
Julian menghela napas pelan.
“Bukan itu. Saya ingin konsultasi mengenai kondisi saya.”
Dokter Robert sedikit terdiam.
“Ada apa, Tuan?”
Julian menatap kosong ke arah jendela besar di ruangannya.
“Saya tadi pagi bertemu seorang wanita… sebenarnya pertama kali saya bertemu dengannya di rumah sakit.”
Ia berhenti sejenak, memilih kata-kata yang tepat.
“Saat tanpa sengaja bertabrakan dengannya di koridor, saya merasakan respons fisik yang sudah lama tidak saya rasakan sejak kecelakaan itu.”
Dokter Robert langsung serius.
“Maksud Anda… ada respons hormonal dan fisik yang kembali muncul?”
Julian menjawab rendah.
“Iya.”
Ia melanjutkan,
“Dan bukan hanya sekali. Setelah saya kembali ke kantor, ternyata wanita itu adalah karyawan magang di perusahaan saya.”
Julian mengusap pelipisnya.
“Setiap kali dia berada dekat saya, detak jantung saya meningkat, hasrat saya bergejolak tidak bisa dikontrol, dan tubuh saya kembali menunjukkan reaksi yang selama ini hilang.”
Suaranya makin rendah.
“Tapi saat bersama Chintya atau wanita lain, saya tidak merasakan apa pun. Semuanya biasa saja.”
Dokter Robert terdengar berpikir.
“Ini sangat menarik…”
Julian menatap tajam.
“Jangan bilang menarik dulu, Dok. Saya butuh jawaban.”
Dokter Robert berdeham kecil.
“Secara medis, trauma fisik dan psikologis pasca kecelakaan memang bisa memengaruhi fungsi tubuh dan respons emosional seseorang. Bisa jadi selama ini bukan sepenuhnya masalah fisik, tetapi juga faktor psikis yang sangat kuat.”
Julian terdiam.
Dokter melanjutkan,
“Wanita itu mungkin memicu respons emosional yang mampu membangkitkan kembali fungsi ereksi tubuh Anda. Ketertarikan emosional yang kuat bisa sangat berpengaruh.”
Julian mengingat wajah Selena.
Tatapan matanya.
Keberaniannya melawan dirinya.
Dan debar aneh itu kembali terasa.
“Jadi… saya bisa sembuh?”
Dokter Robert menjawab hati-hati.
“Kemungkinannya ada, Tuan Muda. Bahkan cukup besar, jika memang respons itu konsisten dan alami. Bisa jadi wanita itu adalah kunci pemulihan Anda.”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Julian menatap jauh ke depan.
Lalu berkata pelan.
“Kalau begitu… saya harus memastikan sendiri.”