Sugar Daddy

1844 Words
Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Sebagian besar karyawan sudah pulang sejak satu jam lalu, tetapi Selena masih duduk di depan komputer dengan wajah lelah. Tumpukan berkas di mejanya belum juga selesai. Ia meregangkan bahu sambil menghela napas panjang. “Aduh… capek banget.” Matanya terasa berat, tubuhnya pegal, dan pikirannya masih kacau sejak kejadian bersama Julian siang tadi. Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja. Nama yang muncul di layar membuat wajahnya langsung berubah. “Papa…” Selena memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu. “Halo, Pa…” Suara Ferdi langsung terdengar keras dari seberang. “Halo, Selena! Kenapa jam segini kamu belum pulang?” Selena menatap layar komputernya. “Aku masih di kantor, Pa. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.” Ferdi mendengus tidak sabar. “Pekerjaan apa? Kamu itu cuma karyawan magang.” Kalimat itu lagi.Selalu meremehkan. Selena menahan emosinya. “Magang juga tetap bekerja, Pa. Saya tidak bisa seenaknya pulang.” Ferdi memotong tajam. “Papa tidak mau dengar alasan. Pak Ardan sudah menunggu kamu di rumah.” Jantung Selena langsung terasa berat. “Pa… aku sudah bilang, aku tidak mau bertemu dengannya.” Namun Ferdi tetap keras. “Kamu harus mau! Dia calon suamimu.” Selena menggenggam ponselnya erat. “Dia bukan calon suamiku. Aku tidak pernah setuju.” Ferdi meninggikan suara. “Jangan keras kepala! Kamu pikir hutang keluarga ini bisa lunas sendiri?” Selena mulai frustrasi. “Itu bukan hidupku yang harus dibayar!” Ferdi mengabaikannya. “Pokoknya cepat turun.” Selena mengernyit. “Turun? Maksud Papa?” Suara Ferdi terdengar santai, seolah itu hal biasa. “Pak Ardan sedang dalam perjalanan menjemputmu ke kantor.” Wajah Selena langsung pucat. “Apa?! Jemput ke kantor?” “Iya. Jadi jangan macam-macam. Papa tidak mau malu di depan beliau.” Tut. Telepon langsung dimatikan. Selena menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Dadanya terasa sesak. Kalau Pak Ardan datang ke kantor semua orang akan tahu. Dan itu adalah hal terakhir yang ia inginkan. “Tidak… tidak bisa begini…” Ia buru-buru berdiri dari kursinya.Harus pergi sekarang. Sebelum pria itu benar-benar datang. Selena buru-buru mengambil tasnya dan hampir berlari menuju lift. Jantungnya berdegup cepat. “Harus cepat… sebelum Pak Ardan benar-benar datang ke sini.” Ia masuk ke lift dan menekan tombol lobby berulang kali seolah itu bisa membuat lift bergerak lebih cepat. Ting. Pintu lift terbuka. Namun baru saja Selena melangkah keluar dari lift. Bruk. Tubuhnya menabrak seseorang tepat di depan pintu. Karena terlalu terburu-buru, ia hampir kehilangan keseimbangan dan refleks memegang lengan orang itu agar tidak jatuh. Selena langsung panik. “Ah—maaf!” Ia mendongak cepat. Dan seketika wajahnya membeku, jantung bersabar kencang. Di hadapannya, Julian berdiri dengan jas masih rapi, seolah baru selesai bekerja. Tangannya masih masuk ke saku celana, wajahnya tetap dingin seperti biasa, namun tatapannya jelas tertuju padanya. Selena buru-buru melepaskan pegangannya dan menegakkan tubuh. “Se-selamat malam, Pak…” Julian menatapnya singkat, lalu menjawab tenang, “Selamat malam.” Tatapannya turun pada tas yang dipeluk Selena erat-erat. “Kamu mau pulang?” Selena mengangguk cepat, masih merasa canggung karena baru saja menabraknya. “Iya, Pak. Saya mau pesan ojek online.” Julian tetap menatapnya beberapa detik,Entah kenapa, setiap kali wanita ini menabrak miliknya selalu bereaksi. Julian melihat jam tangannya. “Sudah malam.” Selena tersenyum canggung. “Iya, tapi saya sudah biasa pulang sendiri.” Julian melangkah mendekat. “Pulang bersama saya saja.” Selena langsung menggeleng. “Tidak usah repot-repot, Pak. Saya bisa sendiri.” Nada suara Julian tetap datar, tapi tegas. “Tidak repot.” Ia menatap lurus ke arahnya. “Sudah malam. Teman-temanmu juga sudah pulang. Tidak baik perempuan pulang sendirian.” Selena terdiam. Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa hangat. Sebelum ia sempat menolak lagi sebuah mobil berhenti tepat di depan lobby. Sopir pribadi Julian turun dan membuka pintu belakang. “Silakan, Tuan.” Julian sedikit mengangguk, lalu menoleh pada Selena. “Masuk.” Selena masih ragu. “Pak, sungguh saya—” Belum selesai bicara sebuah mobil lain berhenti tepat di belakang mobil Julian. Pintu terbuka cepat. Pak Ardan turun dengan senyum lebar yang membuat Selena langsung merasa tidak nyaman. “Selena! Kamu mau ke mana? Ayo, masuk mobil saya.” Wajah Selena langsung pucat. Julian yang berdiri di sampingnya sedikit menyipitkan mata. Tatapannya berpindah dari Selena ke pria paruh baya itu. “Dia ayahmu?” Selena langsung menjawab cepat. “Bukan, Pak.” Pak Ardan tertawa kecil sambil mendekat. “Saya pacarnya Selena.” Selena membelalak. “Apa?!” Julian menatap tajam. “Pacar?” Aura di sekitarnya langsung berubah dingin. Pak Ardan tersenyum percaya diri. “Iya. Dia calon istri saya. Setelah menikah nanti, Selena tidak perlu bekerja lagi. Saya akan menanggung hidupnya.” Julian menoleh pada Selena. Tatapannya tajam dan sulit dibaca. “Kamu berpacaran dengan pria tua seumuran ayah mu ini?” Selena buru-buru menggeleng. “Tidak, Pak! Bukan seperti itu—” Pak Ardan langsung memotong. “Ah, anak muda memang pemalu. Tapi keluarga kami sudah setuju.” Julian menatap Ardan dari atas ke bawah. Lalu dengan nada datar namun menusuk, ia berkata, “Jadi… kamu simpanan sugar daddy?” Selena hampir tersedak udara. “Pak Julian!” Pak Ardan langsung tersinggung. “Tuan, jaga bicara Anda! Saya bukan Sugar Daddy tapi calon suaminya.” Julian tetap tenang. “Kalau begitu, jelaskan hubungan kalian yang sebenarnya.” Selena menggigit bibirnya kuat-kuat. Tangannya gemetar, tapi kali ini ia tidak ingin diam lagi. Dengan suara bergetar, ia akhirnya berkata, “Saya… dijual oleh ayah saya sendiri untuk melunasi hutang keluarga, Pak.” Julian menatapnya tajam. Selena menunduk, menahan rasa malu yang menyesakkan. “Mereka ingin saya menikah dengan Pak Ardan… sebagai istri kedua.” Suasana lobby mendadak terasa membeku. Julian menoleh perlahan ke arah Ardan. Wajahnya berubah dingin. “Apa?” Nada suaranya rendah, tapi jauh lebih menakutkan. “Istri kedua?” Pak Ardan masih berusaha terlihat santai. “Itu urusan keluarga kami, Tuan. Ayahnya sendiri yang menyerahkan Selena pada saya.” Selena mundur satu langkah. Air matanya hampir jatuh. “Saya tidak mau…” Ia menatap Julian penuh putus asa. “Tolong saya… saya tidak mau pulang bersama dia.” Pak Ardan langsung meraih pergelangan tangan Selena dengan kasar. “Jangan keras kepala! Ayahmu sudah memberikan kamu pada saya.” Selena berusaha melepaskan diri. “Lepaskan saya!” Pak Ardan menarik lebih kuat. “Dasar jalang jangan sok jual mahal. Cepat ikut saya!” Suara Selena mulai panik. “Pak, tolong! Saya tidak mau!” Dalam sekejap Julian melangkah maju. Tangannya langsung melepaskan cengkeraman Ardan dari tangan Selena. Gerakannya tegas dan penuh tekanan. “Lepaskan.” Tatapannya tajam menusuk. “Kalau seorang perempuan sudah mengatakan tidak, jangan dipaksa.” Pak Ardan menatapnya kesal. “Jangan ikut campur, Tuan! Ini urusan pribadi.” Julian berdiri tegak di depan Selena, melindunginya. Suaranya dingin dan penuh kuasa. “Ini perusahaan saya.” Ia melangkah lebih dekat. “Dan saya tidak akan membiarkan siapa pun membuat keributan atau memaksa karyawan saya di tempat ini.” Pak Ardan terdiam sesaat. Julian membuka pintu mobilnya. Lalu tanpa menoleh, ia berkata, “Masuk, Selena.” Selena menatapnya beberapa detik. Untuk pertama kalinya hari itu ia merasa benar-benar diselamatkan. Dengan cepat ia masuk ke dalam mobil. Julian menutup pintu, lalu menatap sopirnya. “Jalan.” Sopir segera mengangguk. “Baik, Tuan.” Mobil perlahan melaju meninggalkan lobby. Pak Ardan berdiri di tempat dengan wajah penuh amarah. Tangannya mengepal keras. Ia menatap mobil yang menjauh sambil bergumam penuh ancaman, “Selena… awas kamu. Lihat saja nanti.” Mobil melaju meninggalkan halaman kantor. Suasana di dalam mobil terasa sunyi. Selena masih memeluk tasnya erat, berusaha menenangkan napas yang sejak tadi tidak stabil. Beberapa detik berlalu, lalu ia menunduk pelan. “Terima kasih… sudah menolong saya, Pak.” Suaranya lirih, tapi tulus. Julian yang duduk di sampingnya menatap lurus ke depan. “Tidak perlu.” Selena menggenggam ujung tasnya. Tetap saja, baginya itu sangat berarti. Kalau Julian tidak muncul tadi ia tidak ingin membayangkan apa yang akan entah kenapa, jantungnya berdetak kencang. Julian akhirnya menoleh sedikit. “Kenapa orang tuamu menjualmu seperti itu?” Pertanyaan itu membuat Selena terdiam. Ada rasa malu, ada luka lama yang kembali terbuka. Ia menarik napas pelan sebelum menjawab. “Saya… hanya anak angkat, Pak.” Julian mendengarkan tanpa memotong. “Mereka mengangkat saya sejak kecil dari panti asuhan. Awalnya saya diperlakukan seperti anak sendiri.” Senyumnya pahit. “Tapi setelah mereka punya anak kandung, semuanya berubah.” Tatapannya kosong menatap jalan di luar jendela. “Saya tidak lagi dianggap keluarga. Saya hanya dianggap beban… lalu pembantu yang harus membalas budi.” Julian sedikit mengernyit. Selena melanjutkan, “Mereka selalu bilang kalau bukan karena mereka, saya tidak akan punya rumah, tidak akan sekolah, tidak akan merasakan punya orang tua.” Ia menunduk. “Jadi saya harus patuh. Harus membayar semua itu… bahkan kalau caranya dengan menikah dengan pria seperti Pak Ardan.” Julian menatap wajahnya yang berusaha tetap kuat.Ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa tidak nyaman. Marah. Dan anehnya, ia tidak suka melihat Selena seperti ini. “Tapi balas budi bukan berarti menyerahkan hidupmu.” Suaranya rendah, namun tegas. “Bukan dengan menjual anak pada pria seperti tadi.” Selena tersenyum tipis, pahit. “Saya juga tahu itu, Pak.” Ia menatap kedua tangannya sendiri. “Tapi kadang… orang seperti saya tidak punya banyak pilihan.” Julian langsung menjawab, “Semua orang punya pilihan.” Selena menatapnya. Julian melanjutkan dengan nada dingin namun serius, “Hanya saja, tidak semua orang berani mengambilnya.” Mobil perlahan melambat ketika memasuki kawasan rumah sederhana tempat Selena tinggal.Lampu-lampu jalan mulai redup, suasana malam terasa semakin sunyi. Selena menatap ke luar jendela lalu menunjuk ke depan. “Pak, berhenti di depan saja.” Sopir segera mengurangi kecepatan. Julian menoleh ke arah rumah yang tampak sederhana itu. “Di sini rumahmu?” Selena mengangguk pelan. “Iya, Pak.” Mobil berhenti tepat di depan pagar. Selena memegang tasnya erat sebelum menoleh pada Julian. “Terima kasih… sudah mengantarkan saya pulang.” Suaranya tulus, meski wajahnya masih menyimpan kelelahan. Julian menatapnya beberapa detik. “Kamu yakin mereka tidak akan marah?” Selena tersenyum kecil, tapi pahit. “Sudah biasa, Pak.” Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih berat dari yang terdengar. Julian terdiam. Ia bisa merasakan betapa terbiasanya Selena hidup dalam tekanan. Selena membuka pintu mobil. “Saya masuk dulu, Pak.” Julian hanya mengangguk tipis. “Hm.” Selena turun dari mobil, lalu berjalan menuju rumah dengan langkah pelan. Julian masih memperhatikannya dari dalam mobil. Entah kenapa, ada rasa tidak nyaman saat melihat gadis itu kembali masuk ke tempat yang jelas bukan rumah yang hangat baginya. Saat itulahn ponselnya berdering. Nama Dokter Robert muncul di layar. Julian segera mengangkatnya. “Hallo, Dok.” Suara Dokter Robert terdengar serius. “Hallo, Tuan Muda. Saya sudah mendapatkan data penerima sampel s****a Anda.” Tatapan Julian langsung berubah tajam. Tangannya menggenggam ponsel lebih erat. “Siapa?” Dokter Robert menarik napas sejenak sebelum menjawab. “Namanya… Selena.” Julian membeku.Beberapa detik, ia bahkan tidak bergerak.Pikirannya langsung kembali pada wanita yang baru saja turun dari mobilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD