Sempel tertukar

1621 Words
Sementara itu, Julian yang sedang berjalan masuk mendadak menghentikan langkahnya sesaat. Tatapannya yang tajam menyapu seluruh barisan karyawan yang berdiri rapi di lobby. Semua orang menunduk hormat, berusaha memberikan kesan terbaik kepada pemimpin baru mereka. Namun pandangan Julian berhenti tepat pada satu wajah yang sangat familiar. Selena. Gadis itu berdiri di barisan belakang bersama para karyawan magang, berusaha menunduk serendah mungkin agar tidak terlihat. Julian sedikit menyipitkan mata. “Dia lagi…”gumamnya pelan. Chintya yang berada di sampingnya menoleh. “Ada apa, Julian?” Julian kembali memasang ekspresi datar. “Tidak ada.” Di sisi lain, manajer senior perusahaan segera maju menyambut dengan penuh hormat. “Selamat datang, Tuan Muda Julian, di Kingsley Group. Kami semua merasa terhormat atas kedatangan Anda sebagai CEO baru.” Seluruh karyawan serempak membungkuk. “Selamat datang, Tuan Muda!" Suara mereka menggema di lobby. Selena ikut membungkuk sambil menahan napas. “Tolong jangan sampai dia mengenaliku… tolong…” Julian melangkah maju dengan aura dingin yang membuat suasana semakin tegang. Ia berdiri di depan seluruh karyawan, menatap mereka satu per satu. “Saya tidak suka basa-basi,” ucapnya tegas. Suasana langsung sunyi. “Saya tidak peduli berapa lama kalian bekerja di sini, siapa yang dekat dengan siapa, atau alasan pribadi apa yang kalian miliki.” Semua orang menegang. “Yang saya pedulikan hanya hasil. Jika kalian bekerja dengan baik, kalian tetap di sini. Jika tidak…” Julian berhenti sejenak, tatapannya kembali jatuh pada Selena. “…pintu keluar selalu terbuka.” Selena menelan ludah. Entah kenapa, rasanya kalimat itu ditujukan khusus padanya. Tiara yang berdiri di sampingnya berbisik pelan. “Ya ampun… CEO baru kita benar-benar menyeramkan.” Selena menjawab tanpa mengalihkan pandangan. “Bukan cuma menyeramkan… dia juga menyebalkan.” “Hmm?” “Tidak, bukan apa-apa…” Chintya tersenyum tipis sambil menggenggam lengan Julian. “Tuan Muda memang selalu tegas. Karena itu perusahaan ini akan semakin hebat.” Beberapa karyawan wanita memandang iri. “Calon istrinya cantik sekali…” “Benar-benar seperti pasangan sempurna…” Selena hanya diam. Entah kenapa, melihat mereka berdampingan membuat dadanya terasa sedikit sesak. Padahal ia bahkan baru mengenal pria itu hari ini. Julian masih berdiri di depan para karyawan dengan wajah datar. Namun tatapannya belum juga lepas dari Selena yang berdiri di barisan belakang. Gadis itu terlihat gugup, menunduk, seolah berusaha menghilang dari pandangannya. Justru itu membuat Julian semakin penasaran. Ia sedikit memiringkan kepala lalu menoleh pada sekretaris pribadinya, Heni, yang berdiri di samping. “Siapa dia?” Heni mengikuti arah pandangan Julian, lalu segera memahami siapa yang dimaksud. “Oh, yang itu, Pak? Namanya Selena Marie Foster. Dia karyawan magang di divisi administrasi.” Julian mengangguk pelan. “Karyawan magang…” Tatapannya kembali pada Selena. Entah kenapa, wajah gadis itu terus mengusik pikirannya sejak pertemuan mereka di rumah sakit. Dan perasaan aneh itu… masih belum hilang. Julian berbicara singkat, namun tegas. “Tolong suruh dia membuatkan kopi untuk saya. Ke ruangan CEO.” Heni sedikit terkejut. “Selena, Tuan Muda?” “Iya.” “Baik, Tuan Muda.” Tanpa bertanya lebih jauh, Heni langsung melangkah menuju barisan belakang. Sementara itu, Selena masih berusaha bernapas normal ketika melihat Heni berjalan ke arahnya. Jantungnya langsung tidak tenang. “Kenapa sekretaris CEO ke sini…? Jangan bilang…” Heni berhenti tepat di depannya. “Nona Selena?” Selena menelan ludah. “I-iya, Bu?” “Habis ini, tolong buatkan kopi untuk Tuan Muda Julian dan antar langsung ke ruangannya.” Selena membelalak. “Apa?! Saya?!” Tiara yang berada di sampingnya langsung menepuk lengannya pelan. “Ssst! Itu kesempatan besar, jangan ditolak!” Chintya masih berdiri di samping Julian dengan senyum manis yang dibuat-buat. Ia merapikan jas Julian dengan lembut, mencoba terlihat seperti calon istri sempurna di depan semua orang. “Julian, apa aku boleh menemanimu bekerja hari ini?” tanyanya manja. Julian bahkan tidak menoleh. “Tidak. Kamu pulang saja. Saya sibuk.” Senyum Chintya sedikit memudar. “Tapi, Julian—” “Aku tidak suka mengulang perkataan.” Nada suaranya dingin, tegas, dan tidak memberi ruang untuk membantah. Chintya menggertakkan gigi dalam hati, namun tetap memasang wajah manis. “Baiklah… jangan terlalu lelah, ya.” Julian tidak menjawab. Ia langsung menoleh pada sekretaris pribadinya. “Heni, ayo ke atas.” Heni segera mengangguk hormat. “Baik, Tuan Muda. Mari, saya antarkan ke ruangan Anda.” Julian melangkah menuju lift khusus CEO tanpa melihat ke belakang. Semua orang otomatis menyingkir memberi jalan. Aura pria itu benar-benar membuat siapa pun segan. Pintu lift VIP terbuka. Julian dan Heni masuk ke dalamnya, lalu pintu perlahan tertutup. Begitu mereka pergi, suasana lobby kembali ramai oleh bisikan para karyawan. Sementara itu, Tiara langsung menarik tangan Selena dengan semangat. “Ayo, cepat! Kamu juga harus ke atas!” Selena masih terlihat panik. “Hah? Untuk apa?!” Tiara memutar mata. “Ya ampun, masa lupa sih tentu saja untuk mengantarkan kopi! Siapa tahu setelah ini kamu bisa diangkat jadi karyawan tetap!” Selena menggeleng cepat. “Aku tidak butuh promosi mendadak seperti itu. Aku hanya ingin selamat hari ini tanpa dipecat.” Tiara menepuk bahunya sambil tertawa kecil. “Sudah, jangan lebay. Anggap saja ini ujian hidup.” Selena menghela napas panjang. “Kalau ini ujian hidup, sepertinya aku sudah mendekati kiamat…” Namun tetap saja, ia melangkah menuju pantry perusahaan. Karena suka atau tidak ia harus bertemu lagi dengan pria dingin bernama Julian Kingsley itu. Selena menaiki lift karyawan menuju pantry di lantai 60, lantai khusus direksi dan ruang CEO. Sepanjang perjalanan, jantungnya terus berdebar. “Kenapa harus aku sih…? Dari sekian banyak karyawan, kenapa harus aku yang mengantarkan kopi untuk manusia sedingin es itu…” Ting. Pintu lift terbuka. Selena segera berjalan ke pantry mewah yang jarang dimasuki karyawan biasa. Ia menarik napas panjang lalu mulai membuat kopi untuk Julian. Tangannya sedikit gemetar saat menuangkan gula dan kopi. Tiba-tiba ia membeku. “Astaga…” Selena menatap cangkir itu dengan panik. “Kenapa aku lupa tanya takarannya?! Dia suka kopi pahit atau manis? Pakai gula berapa? s**u atau tidak?” Ia menepuk dahinya sendiri. “Ya Tuhan, Selena… kenapa kamu bisa selupa ini?” Tidak ada waktu untuk kembali bertanya. Ia hanya bisa pasrah. “Semoga saja tidak salah…” Setelah selesai, Selena membawa cangkir kopi itu menuju ruang CEO. Di depan pintu, Heni sudah berdiri sambil memeriksa tablet kerjanya. “Kamu bawa masuk saja langsung. Tuan Julian sudah menunggu.” Selena menelan ludah. “Baik, Bu…” Tangannya semakin dingin. Tok tok… Dari dalam terdengar suara berat dan dingin. “Masuk.” Selena membuka pintu perlahan. Ruangan itu luas, elegan, dan sangat mewah. Julian sedang duduk di kursi kerjanya sambil memeriksa beberapa dokumen. Bahkan tanpa menatap pun, auranya terasa menekan. “Permisi, Pak… ini kopinya.” Julian tetap fokus pada berkasnya. “Letakkan di sini.” “Baik, Pak.” Selena meletakkan kopi itu dengan hati-hati di atas meja. “Silakan diminum, Pak.” Julian akhirnya mengangkat cangkir itu dan menyesapnya. Satu detik. Dua detik. Lalu. Pffft! Julian langsung menyemburkan kopinya dengan wajah gelap. “Kopi apa ini?!” Selena refleks mundur. Julian menatapnya tajam. “Manis sekali. Kamu mau meracuni saya?” “Ma-maaf, Pak! Saya lupa menanyakan takarannya…” Julian meletakkan cangkir itu dengan keras. “Buat lagi. Sekarang.” Selena menunduk cepat. “Baik, Pak… maaf…” Belum sempat ia bergerak, ponsel Julian berbunyi. Ia melihat layar panggilan. Dokter Robert. Julian langsung mengangkatnya. “Halo.” Suara Dokter Robert terdengar panik dari seberang sana. “Tuan Muda, maaf mengganggu. Ada masalah serius terkait prosedur fertilitas tadi pagi.” Tatapan Julian berubah tajam. “Kenapa?” “Terjadi kesalahan administrasi di laboratorium… sampel s****a Anda tidak diberikan kepada Nona Chintya.” Julian berdiri dari kursinya. “Apa maksudmu?” Selena yang masih berdiri di sana ikut membeku. Dokter Robert terdengar semakin gugup. “Suster salah membawa sampel. s****a Anda tertukar dengan pasien program bayi tabung lain.” Wajah Julian mengeras. “Bagaimana mungkin kesalahan sebesar itu bisa terjadi?" “Ini murni kesalahan kami, Tuan. Kami sangat menyesal.” Julian mengepalkan tangan. “Sekarang gunakan sampel lain.” Dokter Robert menarik napas berat. “Maaf, Tuan Muda… itu adalah sampel terbaik dan paling sehat. Sampel lain kualitasnya sangat lemah dan kemungkinan keberhasilannya sangat kecil.” Ruangan mendadak terasa sangat dingin. Julian berbicara dengan suara rendah namun penuh tekanan. “Temukan wanita itu.” “Baik, Tuan muda. Kami sedang melacak data pasiennya.” Selena masih berdiri kaku di dalam ruangan CEO, sementara suasana terasa begitu menekan. Pikirannya masih dipenuhi percakapan Julian dengan Dokter Robert barusan. “Siapa wanita yang sedang dicari Pak Julian itu…? Kenapa sampai terdengar sangat serius?” batin Selena penuh tanda tanya. Ia mencoba menepis rasa penasarannya. “Itu bukan urusanku… lebih baik aku fokus agar tidak dipecat.” Dengan hati-hati, ia kembali bertanya. “Pak… jadi… takaran kopinya berapa?” Julian yang masih berdiri di dekat meja menatapnya datar. Setelah kejadian tadi, suasana hatinya jelas sedang buruk. Ia mengusap pelipisnya perlahan. “Kamu sudah merusak mood saya.” Selena langsung menunduk. “Maaf, Pak…” Julian menarik napas pendek. “Sudahlah. Tidak jadi kopi.” Selena mengangkat wajahnya sedikit. “Lalu… saya buat apa, Pak?” Julian menjawab singkat, dingin seperti biasa. “Buatkan saya teh saja.” Selena berkedip. “Teh…?” “Iya. Jangan sampai rasanya seperti racun juga.” Selena langsung mengangguk cepat. “Baik, Pak! Saya akan buat yang terbaik!” Julian menatapnya beberapa detik, lalu kembali duduk di kursinya. “Dan cepat.” “Siap, Pak!” Selena buru-buru berbalik dan hampir saja menabrak pintu karena terlalu panik. Julian memperhatikannya sekilas. Entah kenapa, tingkah gadis itu membuat suasana hatinya yang buruk sedikit lebih ringan. Sementara Selena berjalan cepat menuju pantry sambil memegangi dadanya. “Ya Tuhan… CEO baru ini selain ngeselin juga plinplan…”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD