Ruang interogasi Rendi terasa seperti kotak besi tanpa udara. Lampu putih menyilaukan menggantung tepat di atas kepalanya, memaksa matanya tetap terbuka meski ia ingin menutupnya karena sakit. Tangannya bergetar setelah borgol dilepas, tapi pergelangan yang membiru membuat gerakannya terbatas. Dua petugas berdiri di kiri dan kanan. Satu lagi di depan, memegang koper hitam yang baru saja dibuka. Di dalamnya ada alat setrum genggam, beberapa kabel, dan sesuatu yang terlihat seperti alat medis kecil tapi jelas bukan untuk tujuan baik. Pria bersuara berat berdiri tegap di depan Rendi. Seragamnya berbeda—tidak sama seperti petugas lain. Lebih gelap, insignia pangkatnya ditutup kain kecil. Tidak ada nama. Tidak ada identitas. “Kita mulai lagi,” katanya datar. Rendi menggeleng cepat, napasnya

