Bab 41

723 Words

Lorong servis itu terasa seperti terowongan kematian: gelap, sempit, dan hanya diterangi lampu darurat yang berkedip setiap beberapa detik. Pipa-pipa panas bergemeretak, seolah bangunan itu merasakan ketegangan sama seperti mereka. Alena hampir tersandung kabel yang menjuntai dari langit-langit. Pria berjas hitam menariknya tanpa memperlambat langkah. “Fokus. Kalau kamu jatuh, aku gak akan berhenti buat nunggu.” “Napas gue—” Alena terengah, d**a terasa seperti diremas. “—udah mau copot…” “Lebih baik napas copot daripada kepala copot.” Percikan logam terdengar dari belakang—pintu rahasia juga mulai dipaksa buka. Mereka tidak punya banyak waktu. Alena mencuri pandang ke pria itu. Meskipun mereka baru saja hampir mati, pria itu tampak seperti sedang menyusun rencana lain di kepalanya. T

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD