Panik

1010 Words
"Loretta, Loretta!! Bertahanlah. Aku segera tiba!" Gavriel berlari menuruni tangga dengan langkah panjangnya. Amanda terkejut karena hampir saja tertabrak olehnya. "Anda mau kemana tuan muda?" Gavriel tak menghiraukan apapun. Ia berlari dan langsung menghidupkan mobil sportnya, dan melajukannya dengan sangat kencang. "Bertahanlah Loretta!" Tak lama kemudian, Gavriel telah sampai ke depan Dragonflies Caffee. Sebuah mobil patroli polisi terparkir di depannya. Gavriel turun dengan sangat tergesa-gesa. Seorang laki-laki berbadan tegap dan besar, terlihat di dalam mobil polisi dengan kondisi tangan terborgol. Paman Stanley! "Mr. Cortier?" kata seorang opsir polisi. "Ya, apa yang terjadi, pak?" "Seseorang memberikan info adanya seorang pemabuk yang mengacaukan kafe. Pemabuk itu telah kami amankan, pak." kata opsir polisi itu. "Kerja bagus, opsir! Terima kasih." kata Gavriel memberikan penghargaan pada opsir polisi itu dengan menepuk bahunya. Setelah itu pandangannya menyapu seisi ruangan. Dimana Loretta! Dimana dia. "Gina. Dimana Loretta?" kata Gavriel. "Ya Tuhan. Begitu kacaunya hari ini. Paman Stanley mengamuk. Loretta. Polisi." kata Gina. "Loretta?" "Masuklah ke dalam. Dia sedang beristirahat." kata Gina. "Aku rasa dia perlu ke dokter. Bisakah kau mengantarnya. Aku tak bisa meninggalkan kafe dalam kekacauan seperti ini. Sangat banyak hal yang harus kubereskan." "Baiklah." Gavriel masuk dengan terburu-buru. "Loretta. Bagaimana keadaanmu? Kau tidak apa-apa?" tanya Gavriel. Dia melihat Loretta dari kepala sampai ujung kaki. Loretta tersenyum padanya. "Kau datang." "Kita menemui dokter Fabio sekarang." kata Gavriel. Ia mengangkat tubuh Loretta dengan kedua tangannya. Di gendongnya masuk ke dalam mobilnya. Gavriel tak lagi mempedulikan tatapan orang-orang kepadanya. Sampai di rumah sakit, para perawat segera memeriksa keadaannya. Mengecek suhu tubuh, tekanan darah, denyut nadi, dan entah apalagi. Banyak alat yang terpasang. Sebentar kemudian dokter Fabio datang dan bertindak cepat melakukan pemeriksaan. " Pecah ketuban!" kata dokter Fabio. "Apakah itu berbahaya dokter? Apakah mereka bisa diselamatkan, dokter? Bagaimana dokter?" Gavriel bertanya dengan putus asa. "Bapak tunggu di sini ya, sementara dokter Fabio menangani pasien." kata seorang perawat yang kemudian menutup ruang ICU. Gavriel terlihat begitu gelisah. Apa yang akan terjadi pada orang yang ia sayangi. Ia menunggu dengan sangat gelisah. Tiba-tiba ponselnya berdering. Terlihat di layar tulisan "DADDY". Gavriel mengangkatnya. Dan terdengar suara ayahnya begitu murka. "Gavriel! Dimana kau! Apa yang kau lakukan! Meninggalkan pekerjaanmu begitu saja. Sudah lupakah kau pada janjimu, meminta kebebasanmu dengan jaminan melakukan semua kewajiban dan tanggung jawabmu! Pulang sekarang juga! Ayah menunggumu!" "Maaf ayah. Kali ini aku tak bisa pulang. Loretta dalam bahaya." kata Gavriel lalu mematikan sambungan ponselnya dan mematikannya. Ya. Dia benar-benar menonaktifkan ponselnya. Dia tak ingin diganggu oleh siapapun. Bahkan oleh ayahnya. Seorang perawat keluar dari ruangan ICU. "Bagaimana suster? Apa yang terjadi, bagaimana keadaannya?" "Bapak, tunggu ya. Dokter Fabio sedang menganalisa. Sebentar lagi dia akan keluar memberikan detailnya. Saya permisi dulu." kata perawat itu. "Baik, terima kasih suster?" kata Gavriel Gavriel menunggu kembali dengan gelisah. Tak berapa lama, dokter Fabio dengan seragam putihnya keluar dari ruang ICU. Gavriel langsung memburunya dengan pertanyaan, "Dokter, apa yang terjadi pada Loretta? Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" Dokter muda itu menarik napas dalam-dalam. "Ibu Loretta mengalami pecah ketuban dini, pak." "Lalu apa yang sebaiknya dilakukan, dokter?" "Saya akan mencoba memperlambat waktu lahirnya bayi. Supaya proses pematangan organ tubuhnya baik." "Tapi itupun saya tak bisa menjamin bisa berlangsung lama. Mungkin sekitar 2 atau 3 minggu saja. Dan bayi terpaksa harus dilahirkan." "Tapi bayi masih belum waktunya untuk lahir dokter." kata Gavriel. "Benar. Tapi hanya itu yang bisa kami lakukan. Bayi akan lahir prematur." "Jangan khawatir, peralatan kami cukup baik untuk mengatasinya." kata dokter muda itu sambil menepuk bahu Gavriel yang terlihat sangat panik. "Apakah sekarang saya boleh menemuinya dokter?" "Tentu. Silahkan." kata Dokter Fabio yang kemudian meninggalkan Gavriel. Gavriel masuk ke ruang ICU. Dilihatnya kekasihnya sedang terbaring dengan beberapa selang menancap di tubuhnya. Loretta tersenyum dengan wajah pucatnya. Gavriel membalasnya penuh keraguan. Apakah dia sudah tahu apa yang akan dan sedang terjadi? "Aku akan tinggal di sini sementara, Gavriel. Tolong bantu aku menyampaikan pada Gina." katanya. "Apakah kau baik-baik, Loretta?" Loretta tersenyum, "Aku sedang tidak baik-baik, Gavriel. Tapi aku akan baik-baik saja." jawabnya. Di belainya wajah Gavriel yang sedang duduk di sebelahnya dan menatap padanya. "Tentu, kau harus kuat Loretta. Demi aku. Demi anakmu. Demi anak kita." "Gavriel." "Tentu Loretta. Kau kekasihku. Dan anak itu sudah pasti akan menjadi anakku. Cortier junior, Loretta." Gavriel tak tahan. Air mata menetes di sudut matanya. Di ciumnya punggung tangan kekasihnya itu. Lalu membelai rambutnya dan mencium keningnya. "Gavriel. Aku tak ingin merusak hubunganmu dengan ayahmu." "Sayang. Kita akan perjuangkan bersama, hingga dia merestui. Jangan kau pikirkan itu." "Loretta, aku sangat mencintaimu." Seorang perawat masuk, dan mempersiapkan pemindahan Loretta ke kamar pasien. "Bapak tolong ke bagian administrasi, sementara kami akan memindahkan ibu Loretta ke kamar rawat inap." kata seorang perawat. "Baik suster, tolong bantu rawat ibu Loretta dengan sebaik-baiknya." "Tentu saja pak. Itu adalah tugas dan kewajiban kami. Kesembuhan ibu adalah tanggung jawab kami." jawab perawat itu, yang kemudian mendorong brankar ke lorong menuju ruang kamar rawat inap. Gavriel segera mangurus segala keperluan administrasi. Tak butuh waktu yang lama baginya. Dia segera menemui kekasihnya di kamar inap. Loretta masih terbaring dengan beberapa botol cairan di hubungkan dengan tangan kanannya. "Jangan terlalu banyak bergerak. Kau harus banyak beristirahat." Gavriel menenangkannya saat kekasihnya akan mengambil posisi duduk. "Maaf, aku sungguh merepotkanmu." "Sudahlah tidak apa-apa. Sekarang kau harus fokus pada kesehatanmu dan anak yang ada di perutmu." "Apa perutmu masih terasa sakit?" "Tidak. Ini jauh lebih baik." "Apa yang sebenarnya terjadi tadi?" "Gina sedang pergi mengurus surat adopsi. Dia sudah mendapat persetujuan adopsi. Beberapa saat kemudian paman Stanley datang, berteriak-teriak di depan kafe. Memecahkan botol minumannya. Semua pengunjung menjadi panik. Entah kenapa tiba-tiba perutku juga menjadi sakit. Benar-benar kacau." "Untunglah salah seorang pengunjung kafe segera tanggap dan menghubungi polisi." "Ketika polisi datang, ia sudah masuk ke dalam kafe. Beberapa pengunjung menahannya supaya tidak mengacaukan kafe." "Gina tepat datang setelah itu. Dia menahan Stanley agar tidak keluar dari kamarnya." "Benar-benar kacau." kata Gavriel. "Sekarang, apa kau ingin makan sesuatu? Aku akan keluar sebentar membelinya." lanjutnya menyadari bahwa mereka belum mengisi perut lagi sejak kekacauan itu. Tapi sebelum sempat Gavriel keluar dari kamar itu, Gilbert Cortier masuk ke dalam kamar perawatan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD