Amanda

1010 Words
Tapi sebelum sempat Gavriel keluar dari kamar itu, Gilbert Cortier masuk ke dalam kamar perawatan. "Ayah!" Gavriel terkejut ketika melihat ayahnya sudah berdiri tepat di depannya. "Gavriel Cortier! Apakah yang ada di kepalamu, mengapa kau matikan ponselmu!" kata Gilbert dengan nada tinggi. "Apa kau sudah gila?" "Maaf ayah, saat ini aku ingin fokus pada kesehatan Loretta." Jawab Gavriel, "Dia hampir kehilangan bayinya, ayah." "Lalu apa yang akan kau lakukan?" "Hanya berdiam diri menemaninya? Mematikan semua hubungan dengan dunia luar, dengan dalih fokus padanya? Bahkan pada orang tuamu?" "Maaf ayah. Tapi dia membutuhkan aku. Bahkan dia tidak memiliki satu keluarga pun yang akan menjaganya." "Gavriel. Aku tidak apa-apa. Pulanglah." kata Loretta. Kesedihan dan kekecewaan terlukis dalam suaranya. Tapi apa yang akan dia harapkan. Tak akan ada seorang ayah yang akan membiarkan puteranya mempunyai kekasih bahkan seorang calon istri yang sedang hamil entah anak siapa. "Loretta, aku akan segera kembali." kata Gavriel yang kemudian berlalu meninggalkan kamar rawat inap. Sepeninggal Gavriel, Gilbert Cortier menatap Loretta selama beberapa saat. Menghembuskan napas dalam-dalam kemudian meninggalkan kamar itu. Gavriel tengah duduk di meja kerjanya, di dalam kamarnya. Pandangannya tertuju pada tumpukan kardus berisi box bayi yang belum sempat di rakitnya. "Ayah. Apa maksudnya. Dia telah berjanji memberiku kebebasan asal aku memenuhi tugas dan tanggungjawabku sebagai CEO Famous. Tapi sekarang? Bahkan aku tak dapat bebas." batinnya di tengah kemarahannya. Gavriel menghela napas dalam-dalam. Di dekatinya tumpukan kardus di sudut kamarnya. Perlahan-lahan dibukanya satu demi satu. Dan ia merakitnya. Gilbert perlahan-lahan membuka pintu kamar puteranya. Gavriel yang sedang asiknya merakit box, tidak menyadari kehadiran ayahnya. Dan Gilbert tidak mengganggunya. "Sepertinya cinta mereka tidak mungkin lagi dipisahkan. Apa yang bisa kulakukan untuk menyenangkan puteraku, sekaligus tidak merugikan perusahaan karena skandal mereka." Katanya dalam hati. Gilbert mengurut keningnya. "Ah, benar-benar masalah yang kompleks." Perlahan-lahan dia keluar dari kamar putranya itu. "Amanda. Bisakah kau menemuiku di ruang kerja? Ada yang perlu aku bicarakan denganmu." Kata Gilbert setelah sampai di lantai bawah. "Baik tuan." kata gadis cantik, kepala asisten rumah tangga keluarga Cortier itu. Amanda White sudah bekerja mengikuti keluarga Cortier semenjak dia berusia 21 tahun. Dia bekerja di sela-sela waktu kuliahnya. Keluarga Cortier sangat percaya kepada Amanda karena dedikasi orangtua Amanda yang telah setia melayani keluarga Cortier sampai akhir hayatnya. Ya, ayah Amanda adalah seorang sopir keluarga Cortier. Dia meninggal saat mengantar Gladys Cortier, ibu kandung Gavriel, menghadiri sebuah pameran busana. Mobilnya tak pernah sampai, hanya karena kelalaian seorang sopir truk yang berkendara di saat mabuk. Kelalaian yang menyebabkan nyawa nyonya Cortier dan sopirnya ikut melayang. Kejadian itu telah berlangsung cukup lama. Saat itu Amanda masih berumur 12 tahun. Kemudian Gilbert mengasuh Amanda seperti anaknya sendiri. Karena sama-sama berduka Amanda dan Gavriel merasa dekat. Seperti seorang saudara. Gilbert masuk ke dalam ruang kerjanya diikuti oleh Amanda di belakangnya. "Amanda," kata Gilbert setelah duduk di kursinya. "Ya, tuan Cortier." Kata Amanda setelah menutup pintu ruang kerja. "Aku rasa Gavriel benar-benar jatuh cinta." Lanjutnya disambung dengan helaan napas panjangnya. "Sekarang aku tak tahu harus berbuat apa. Mengekangnya seperti dulu sudah tak mungkin. Dia semakin dewasa." "Tuan Cortier, sangat wajar jika anak seusia tuan muda jatuh cinta. Lagi pula dia telah cukup usia untuk menikah." "Amanda, terlalu banyak skandal yang di ciptakannya. Dan itu merusak reputasinya sebagai seorang CEO." Amanda menghela napas. "Dalam artian apakah anda menyetujui ataukah menentang hubungan tuan muda?" "Terus terang aku tak tahu, Amanda. Hanya aku berharap puteraku akan mendapat gadis baik-baik tanpa ada skandal yang tercipta." jawab Gilbert. "Tapi Gavriel terlihat sangat mencintainya, bahkan tak ada wanita lain selama ini yang dapat menaklukkan hatinya." "Jadi apa yang bisa aku bantu, tuan?" tanya Amanda. "Amanda, gadis itu terbaring di rumah sakit," kata Gilbert. "Tapi aku melarang Gavriel untuk menemaninya. Aku sangat mengerti, gadis itu tak mempunyai siapapun lagi." "Baiklah tuan. Aku mengerti apa yang harus aku lakukan." kata Amanda. "Besok aku akan ke rumah sakit untuk menemani dan melihat perkembangan gadis itu. Dan aku akan memberikan kabar secara rutin pada anda, tuan." kata Amanda. "Bagus Amanda." "Kalau begitu, saya pamit undur diri tuan." Gilbert mengangkat tangannya memberi tanda pada Amanda. Amanda keluar dari ruang kerjanya dan menutup pintu. "Semoga ini adalah keputusan yang tepat. Gladys, seandainya kau masih ada di sini, kau pasti tahu apa yang harus dilakukan." Kata Gilbert perlahan. Keesokan harinya. "Gavriel! Kau mau kemana. Bukankah sesuai dengan perjanjian kita, kau melakukan tugas dan tanggung jawabmu terlebih dahulu jika kau menginginkan kebebasanmu." Gilbert menghadang puteranya yang akan meninggalkan rumah. "Ayah. Aku tetap bisa melakukan segalanya dari rumah sakit." "Tidak, Gavriel. Sudah cukup skandal Cortier yang beredar. Cobalah mengerti apa yang ayah pikirkan. Semuanya untuk kebaikanmu sendiri." "Tidak ayah. Semuanya untuk kebaikan ayah. Aku tidak merasa lebih baik." "Gavriel! Perjanjian tetap perjanjian. Seorang laki-laki harus memenuhi janjinya." Gavriel diam dan kembali ke kamarnya. Di meja kerjanya tampak setumpuk data yang perlu ia pelajari. Dan setumpuk berkas yang perlu diperiksanya. Tampak seperti hari yang panjang untuknya. Gavriel duduk di meja kerjanya dengan begitu gelisah. Sekali-sekali dipandanginya box bayi yang baru semalam dirakitnya. Dalam bayangannya terdengar tangjsan bayi dan suara Loretta bersenandung. Membayangkannya saja sudah membuatnya bahagia. Ah, tapi tumpukan kertas j*****m ini benar-benar memenjarakan dia! Di koridor rumah sakit. Seorang gadis cantik dengan sepatu tingginya berjalan menyusuri lorong. Gadis itu berdiri tepat di depan kamar rawat inap Loretta. Gadis itu mendorong pintu kamarnya hingga terbuka. Terdengar suara sepatunya membentur lantai kamar. Gadis itu tersenyum ramah sebelum kemudian menaruh buket buahnya di meja. "Selamat pagi nona." "Selamat pagi." "Saya diutus keluarga Cortier untuk menjaga dan merawat nona." "Perkenalkan, nama saya Amanda White." katanya sambil mengulurkan salah satu tangannya. Loretta menatap gadis di depannya dengan rasa tak percaya. Dia benar-benar bingung. Apalagi ini. Mengapa Gavriel mengirimkan seseorang padanya, ada apa dengan dia? Apakah Gavriel sakit? Ataukah dia terluka? Dengan keragu-raguan dibalasnya uluran tangan gadis itu. "Loretta." "Siapa yang mengirimmu? Gavriel? Ada.apa dengan Gavriel? Apa dia sakit, apa dia terluka? Mengapa dia mengutusmu alih-alih mendatangiku?" Amanda tersenyum mendengar seribu pertanyaan dari mulut Loretta yang keluar begitu saja. Dia dapat menilai, Loretta mencintai tuan mudanya juga, melihat kecemasan yang terukir di wajahnya. "Tuan Cortier yang mengutus saya! Mereka baik-baik dan sehat semua, nona."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD