Sang Kekasih

1013 Words
"Tuan Cortier yang mengutus saya! Mereka baik-baik dan sehat semua, nona." "Apa ada yang anda butuhkan, nyonya?" tanya Amanda. "Tidak. Tidak ada." Amanda duduk di sofa. Dia asik membaca berita dari tabletnya. Loretta melirik gadis itu, penampilan rapinya benar-benar tak sesuai dengan usianya. "Amanda." Amanda menatap Loretta. "Ada yang bisa saya bantu?" "Boleh aku bertanya?" "Silahkan nona." "Berapa usiamu?" "Pertanyaan itu sangat tidak pantas diajukan, nona." "Jadi aku tidak boleh bertanya?" "Tentu saja boleh nona." "Jadi berapa usiamu?" "23 tahun nona." "Masih sangat muda. Bagaimana kau mengenal keluarga Cortier begitu dalam?" "Tuan Gilbert sangat baik. Beliau mengasuhku seperti puterinya. Aku dapat bersekolah karena bantuannya." "Ah.. benar-benar pria yang baik. Dan bagaimana dengan Gavriel?" "Tuan muda, sangat baik. Dia seorang yang kesepian. Introvert." kata Amanda. "Dia tidak ingin merepotkan orang lain karena urusannya. Sosok pemuda yang hangat dan menepati janji." Amanda menggambarkan karakter Gavriel dengan panjang lebar. "Dia suka pastry saat sore hari, penyuka strawbery. Dan seorang penggemar masakan china." kata Amanda sambil tersenyum. "Amanda. Kau begitu mengenalnya. Bahkan secara mendetail." kata Loretta kagum. "Ah, nona. Itu karena aku telah lama hidup bersamanya." kata Amanda dengan senyum malu-malu Amanda mengambil sebuah apel lalu mengupasnya untuk Loretta. Tangan kanannya memegang pisau buah dan jari jemari tangan kirinya dengan lincah memegang buah apel sambil memutarnya. "Amanda, apakah kau mempunyai kekasih?" Amanda menghentikan tangannya. Menatap kedua mata Loretta sebelum kemudian menjawab. "Kekasih? Mungkin lebih tepat jika aku katakan seorang pria yang kusukai." jawabnya. Dia tersenyum. "Ada seorang pria yang kau sukai, Amanda?" Loretta terkejut. "Ya. Tapi rupanya aku kurang menarik baginya. Jadi aku hanya dapat memandangnya dari jauh." kata Amanda sambil menghela napas dalam-dalam. "Oh Amanda. Apa yang bisa aku lakukan untukmu." kata Loretta sambil merenggangkan kedua tangannya untuk memeluk gadis itu. Mereka berpelukan. "Amanda, aku rasa kau cantik. Kau baik. Seandainya pria yang kau sukai mengetahuinya. Dia akan jatuh cinta padamu." kata Loretta. "Bagaimana kalau kita lakukan sedikit permainan, agar tidak bosan di kamar ini." Loretta tersenyum, mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedangkan Amanda menggelengkan kepalanya. "Kita lakukan make over, Amanda. Jangan khawatir. Aku jagonya." Loretta mengerdipkan matanya. "Ah, kau memang cantik Amanda." Loretta mulai memoles wajah Amanda. Di pasangnya eyeshadow dan bulu mata, kemudian di gambarnya lingkar mata dengan eye liner. Membuat alis. Memasang blush on warna peach dan terakhir warna marron di bibirnya. "Selesai. Amanda lihat, kau sangat cantik!" kata Loretta. "Sekarang buka sanggulmu. Kurasa kau lebih cantik dengan rambut terurai panjang." "Ah. Seorang putri yang sangat cantik. Seperti putri Aurora dalam cerita dongeng." kata Loretta. "Apa kau siap bertemu pangeranmu?" godanya. "Pergilah temuilah pangeranmu. Aku mengijinkanmu, Amanda. Aku akan menunggumu di sini." Loretta kembali mengerlingkan matanya. "Baiklah Loretta. Aku akan menemuinya. Dan segera kembali." Amanda berjalan keluar dari kamar inap. Menyusuri lorong, keluar dari rumah sakit itu. Ia mencegat taksi dan memerintahkan untuk ke kediaman Cortier. Taksi melaju menuju kediaman Cortier. Amanda melihat kembali riasannya dari cermin di dalam tasnya. Ia menghembuskan napasnya dengan keras, sampai-sampai sopir taksi melihatnya dari kaca depan. "Apakah dia akan melihatku? Mungkinkah dia akan jatuh cinta padaku?" Taksi telah sampai di kediaman Cortier. Amanda sempat menyemprotkan beberapa kali parfum di tubuhnya, sebelum seorang pelayan membuka pintu baginya, "Amanda, kau kah itu? Kau tampak berbeda. Kau sangat cantik, Amanda." "Terima kasih." kata Amanda yang terus berlalu. Matanya berkeliling mencari sosok pria yang dia cintai. Saat itu Gavriel sedang sibuk di meja kerjanya, di dalam kamarnya. Amanda mengetuk pintu kamarnya. Lalu segera membukanya. "Tuan muda Gavriel." Gavriel yang sedang menatap setumpuk kertas di depannya, tak bergeming untuk menatapnya. "Ya Amanda. Dari mana engkau seharian? Aku ingin kau membawakan pastry dan segelas coklat hangat untukku. Kepalaku sangat pusing melihat berkas-berkas ini." Gavriel menatap kertas di depannya, kedua tangannya memegang kepalanya. "Baiklah." Amanda kembali turun untuk menyiapkan permintaan Gavriel. Dan membawanya ke meja kerjanya. Amanda mendekat, meletakkan sepiring pastry dan secangkir coklat hangat. Bau parfum lembut yang kuat. Gavriel mengangkat kepalanya, melihat pada Amanda dengan raut wajah keheranan. "Amanda? Kaukah itu?" "Iya tuan muda." Gavriel menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala, melihat perubahan drastis pada Amanda sebelum kemudian berkomentar, "Kau tampak cantik hari ini, Amanda." "Terima kasih Tuan." Amanda tersenyum. Mendapatkan perhatian darinya saja adalah suatu hal yang menggembirakan baginya. Mungkin setelah perhatian didapatkannya, perlahan-lahan hatinya akan ia dapatkan pula. Gavriel aku akan menunggumu. Sebelum kau menikah, adalah bebas untukku mencari cara mendapatkanmu. Bahkan ayahmu lebih menyukai dan mempercayaiku daripada wanita pilihanmu. Amanda turun untuk menemui Gilbert. Di ketuknya pintu ruang kerjanya. Lalu dia masuk. "Tuan Gilbert, keadaan nona baik-baik. Dia banyak beristirahat. Bahkan dia memberiku kesempatan untuk beristirahat." lapor Amanda. "Kerja bagus Amanda. Kita harus mencegah skandal terjadi lagi dan menyebar luas." kata Gilbert. "Aku mengerti tuan." kata Amanda menyelesaikan laporannya. Gavriel masih merasa kesal pada ayahnya. Karena itu ia selalu melewatkan jam makan malam. Amanda membawakannya makan malam, semangkuk soup, steak dan kentang dan sebotol wine ke meja kerjanya. Gavriel makan semua hidangan. Amanda dengan tenang menemaninya dengan menuang wine ke dalam gelasnya. Segelas, dua, tiga... sebotol telah habis. Ketika Amanda bersiap untuk membereskan hidangan, tiba-tiba Gavriel yang tengah mabuk memegang tangannya. "Amanda, apa kau tahu? Kau tahu apa itu cinta?" kata Gavriel lalu tertawa terkekeh. "Aku rasa dia tidak tahu." "Dia melarangku untuk jatuh cinta. Tidak ada cinta. Kerja, perusahaan, uang. Tidak perlu cinta." kata Gavriel sambil mengoyang telunjuknya. Gavriel tertawa terkekeh. "Semua orang perlu cinta, tuan. Semua punya cinta. Dan kami mencintaimu, tuan Gavriel." "Mencintaiku? Dengan cara apa? Dengan posisiku, bagaimana bisa tanpa ada skandal." Gavriel meracau tak karuan. Emosinya yang labil dan pengaruh alkohol membuatnya menjadi kacau. Dipukul-pukulnya kepalanya. "Tuan muda. Tuan muda. Kami semua mencintaimu. Jangan menyakiti dirimu sendiri." Aroma parfum yang lembut, hangat dan kuat menghampiri Gavriel. Dan entah kenapa menggelitik birahinya. "Apa kau mencintaiku Amanda? Tunjukkan jika kau benar-benar mencintaiku." "Tuan muda." kata Amanda berusaha melangkah menjauh dari Gavriel. "Apa kau bohong? Kenapa kau takut?" "Tapi tuan muda. Kau mabuk. Sebaiknya kau beristirahat." kata Amanda memberanikan diri menuju ranjang Gavriel. Menyiapkan tempat untuknya berbaring. "Amanda, kau bohong. Tak ada seorangpun yang mencintaiku." kata Gavriel dengan nada sedih. Amanda tak sampai hati mendengarnya meratap. Maka dipeluknya laki-laki itu. Tapi Gavriel mendorongnya jatuh ke atas ranjangnya, sebelum kemudian...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD