Janji Jari Kelingking

1083 Words
Amanda tak sampai hati mendengarnya meratap. Maka dipeluknya laki-laki itu. Tapi Gavriel mendorongnya jatuh ke atas ranjangnya, sebelum kemudian Gavriel jatuh tak sadarkan diri menimpa tubuhnya. "Gavriel, bangun!" kata Amanda. Didorongnya tubuh lelaki itu, kesamping untuk membebaskan diri. Dipandanginya wajah gadis itu. Gavriel merasakan pusing yang menguasai kepalanya. Dia mengerang. Amanda membantunya memperbaiki posisi tubuhnya. Melepas alas kakinya. Dan memasang selimut di tubuhnya. Ketika itulah, Gavriel memegang tangannya. "Tolong, jangan tinggalkan aku." Amanda memegang kening Gavriel. Terasa panas. Amanda segera turun dan mengambil kompres. "Malam ini benar-benar akan panjang." katanya sambil menghela napas. Amanda kembali naik ke atas, ke kamar Gavriel. Terdengar Gavriel mengerang dalam tidurnya. Amanda melepas beberapa kancing kemeja Gavriel lalu ia mengompres keningnya. Amanda terus menjaganya. Semalaman dia memandang wajah lelaki itu. Mengingat kenangan masa-masa kecil bersamanya. Amanda kecil dan Gavriel kecil pergi bergandengan tangan ke taman hiburan. Menikmati es krim bersama, membeli balon, bermain air, memesan cotton candy. Mereka berdua sama-sama merasakan perasaan sedih yang sama saat itu. Sedih ditinggalkan oleh orangtua tercinta. Sejak saat itu, mereka selalu bersama. Dan berjanji akan kembali ke taman bermain itu bersama lagi. Setiap hari semakin sibuk, hingga janji itu kini terlupakan. Mereka menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran sekolahnya untuk melupakan semua kesedihan. Memikirkan hal-hal indah itu, membuat Amanda merasa relax. Dia mengantuk dan tertidur di sebelah Gavriel. Tepat jam 3 pagi, Gavriel terbangun dengan kompres di keningnya. Dilihatnya Amanda tergeletak tidur di lantai di bawahnya. Gavriel mengangkat tubuh gadis itu dan meletakkannya di ranjangnya. "Terima kasih sudah merawatku." kata Gavriel, tentu saja tak dapat didengar oleh Amanda yang saat itu sedang tertidur dengan pulasnya. Amanda hanya beringsut masuk ke dalam hangatnya selimut Gavriel. Gavriel kembali ke meja kerjanya. Setelah minum segelas air, dia segera memulai pekerjaannya. "Segera selesai, dan aku bebas mengunjungi Loretta." katanya dalam setengah kesadarannya. Setengah jam dia membaca berkas di mejanya, ketika sakit kepalanya kembali menyerang. Diambilnya analgesik dari dalam lacinya lalu diminumnya. Dan akhirnya dia menyerah untuk beristirahat. Gavriel kembali tidur. Pagi itu di kediaman Cortier. Amanda terbangun. Perlahan-lahan di bukanya matanya. Dikerjap-kerjapkan. Digosok-gosoknya dengan kedua tangannya. "Apa yang terjadi? Kenapa dia berada di atas tempat tidur Gavriel? Siapa yang memindahkannya?" Dia melihat pakaiannya, masih utuh. Dia melihat Gavriel masih pulas tertidur. Dengan mengendap-endap dia turun dari sana. Merasa tempat tidurnya bergerak, Gavriel terbangun. Dan membalikkan badan ke arahnya. "Amanda, apa yang kau lakukan?" tanya Gavriel. Dia merasa kebingungan melihat Amanda mengendap-endap. "Maafkan aku, tuan. Aku tidak bermaksud lancang untuk mengganggu tuan." Amanda merasa sangat bersalah. Dia merutuki dirinya, mengapa sampai tertidur di tempat bukan kamarnya. Gavriel bangkit dari ranjangnya, mendekati gadis itu dan memeluknya. "Terima kasih Amanda. Kau telah merawatku semalam." Amanda terkejut mendapat perlakuan itu. Ah, bagaimana bisa semua yang dikatakan oleh Loretta seratus persen benar. Pria yang tak pernah sekalipun melihat padanya, akan melihatnya, juga dengan segala kebaikan hatinya. "Apa yang dapat aku lakukan untuk membalas kebaikanmu, Amanda?" tanya Gavriel. Amanda merasa bahagia. "Bagaimana dengan taman hiburan, Gavriel. Kita menepati janji masa kecil kita yang tertunda." jawabnya. Gavriel mengerutkan keningnya, sebelum kemudian berkata, "Wonderland?" Amanda tersenyum, dan mengangguk. "Apa kau masih ingat? Janji jari kelingking." "Baiklah. Bersiap-siaplah. Aku akan menyelesaikan beberapa lembar pekerjaanku dulu, sebelum berkas ini semakin menggunung." Gavriel mendesah. Merasa putus asa dengan tugas yang terasa mustahil untuk di selesaikannya. "Dan kau, turunlah dalam satu jam. Sarapan pagi akan segera siap." kata Amanda mengingatkannya. Gavriel merasa enggan untuk turun. Jadi setelah menyelesaikan beberapa berkas, dia memilih untuk mandi, tidak turun untuk sarapan. Amanda mengantarkan sarapannya ke meja kerjanya, ketika Gavriel tiba-tiba muncul dari kamar mandi tanpa sehelai benangpun. Amanda segera menutup matanya. "Tuan. Maaf, aku hanya mengantar sarapanmu." Gavriel segera memakai handuknya untuk membalut tubuhnya. Dia mendekati Amanda. Mengangkat wajah Amanda yang tertunduk malu. Amanda wajah lelaki yang dicintainya itu. Sangat tampan, dengan rambutnya yang basah. Beberapa tetesan membasahi wajahnya. Tercium wangi sabun yang lembut dan segar dari tubuhnya. Tak lama kemudian, Gavriel melepaskan tangannya. "Pergilah, sebelum aku berubah pikiran." "Baik tuan." Amanda dengan terburu-buru keluar dari kamarnya. "Dan Amanda, jangan masuk ke kamarku, tanpa seijinku." kata Gavriel tegas. Amanda mengangguk sebelum menutup pintu. Amanda merasa sangat malu. Wajahnya terasa panas, jika mengingat pemandangan yang dilihatnya tadi. Amanda menemui Gilbert di ruang kerjanya. Diketuknya pintu sebelum masuk. Terlihat Gilbert sedang sibuk menatap laptop di hadapannya. "Maaf tuan. Saya akan melihat nona Loretta. Saya juga sudah mengirimkan sarapan untuk tuan muda. Saya mohon diri," kata Amanda. "Amanda, bawakan sebuket buah untuknya," Gilbert menghela napas panjang, "Aku benar-benar merasa bersalah telah memisahkan mereka." "Baik tuan. Saya mohon diri." Amanda segera keluar dan mempersiapkan segala yang akan dibawanya. Sebentar kemudian, dia telah siap dengan sebuket buah segar di tangannya dan memasuki sebuah taxi. "Amanda." seru Loretta melihat Amanda memasuki kamarnya, "kau kembali." Amanda tersenyum. "Apakah itu berhasil?" tanya Loretta. "Dia melihatku. Nanti sore aku akan ke taman hiburan bersamanya." "Kuharap dia akan menepati janjinya." lanjutnya sambil meletakkan buket buah di meja sebelah tempat tidur Loretta. "Kau membawakanku buah lagi? Padahal yang kemarin juga belum habis." "Ini titipan dari tuan Cortier, nona." "Sampaikan terima kasihku padanya." Loretta menghela napas, "Bagaimana kabar Gavriel?" "Tuan Gilbert memberinya banyak tugas, nona. Dia benar-benar terkurung di rumahnya." kata Amanda, tangannya mengambil dan mengupas sebuah pir dengan lincahnya dan menyajikannya di sebuah piring kecil. "Aku harap dia segera berdamai dengan ayahnya." "Dia harus menyelesaikan semua tugas dan tanggungjawabnya dalam perusahaan terlebih dahulu jika ingin memperoleh kebebasannya." kata Amanda menyodorkan piring buah pear pada Loretta. Loretta menghela napas panjang. "Amanda, aku merindukannya." "Tak ada yang bisa kulakukan. Seandainya bisa, aku akan berlari padanya untuk membantunya." Amanda menepuk-nepuk bahu Loretta yang masih harus berbaring saja. Loretta tersenyum, "Tidak apa, Amanda. Jangan khawatir. Aku sudah terbiasa dengan semua ini." "Pergilah dengan pria impianmu, jangan biarkan dia menunggu. Jadilah dirimu sendiri, lepaskan riasan super rapimu itu, Amanda. Kau cantik tampil alami, apa adanya." Amanda tersenyum dan berpamitan. Sore itu, Amanda telah menunggu dengan kemeja merah cerah dan celana panjang hitamnya, rambut ikal panjang coklat gelapnya terurai lepas. Diketuknya pintu kamar Gavriel. Dia tak lagi masuk sebelum ada jawaban. "Masuklah." Dibukanya pintu kamar dan dia masuk. Gavriel terlihat sedang sibuk memasang kancing kemejanya. Dia terlihat sangat tampan dengan kemeja hitamnya. Dia menoleh merasa ditatap oleh Amanda. "Kau sudah siap, tunggulah sebentar lagi." Amanda berjalan mendekati Gavriel, hendak membantu merapikan beberapa baju kotor yang berserakan di depan Gavriel. Tapi kakinya tersangkut pada kaki sebuah kursi kayu antik. Tubuhnya limbung karena sepatu tingginya. Dan dia jatuh terjungkal ke depan. Gavriel dengan sigap menangkap tubuh gadis itu. Tapi malang, gerak reflek Gavriel salah. Di menahan tubuh Amanda dibagian d**a! "Aaah!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD