"Aaah!"
Gavriel spontan melepas tubuh gadis itu yang menimbulkan debuman keras.
"Maaf Amanda, aku tidak bermaksud."
"Kenapa anda melepasku tuan. Ah, sakit.", katanya masih tetap berada di lantai.
"Apa kau bisa berdiri? Atau kita batalkan acara kita?"
"Bisa tuan," katanya sambil memaksakan badannya yang masih sakit untuk berdiri.
Gavriel tersenyum dibuatnya.
* * * * *
Amanda merasa senang dan antusias. Mereka mencoba berbagai wahana. Walaupun tak dapat menikmati roller coaster, dia tetap menaikinya. Dia berteriak ketakutan.
Gavriel merasa geli, dia tersenyum menikmati sore hari bersama Amanda. Tanpa disadari, tangan mereka bergandengan dan berjalan dari wahana ke wahana.
Gavriel melihat wajah bahagia Amanda. Gadis cantik itu sangat bersemangat. Cantik? Ya dia terlihat cantik baru-baru ini. Terlihat sangat cantik saat dia merasa bahagia seperti ini. Gavriel tersenyum.
Tapi entah mengapa hatinya seperti tertusuk duri. Terasa sakit, seperti ada lubang kecil yang terasa berdarah-darah meskipun tak terlihat.
"Amanda, sudah mulai malam. Sebaiknya kita pulang."
"Tapi Gavriel, itu berarti kita melewatkan kembang api."
"Aku sangat capek, Amanda."
"Baiklah, kita pulang setelah kita foto berdua. Dengan pose yang sama seperti masa kecil kita.", gadis itu menyodorkan sebuah foto usang. Dalam foto itu terlihat dua anak kecil yang saling berpelukan dengan tangan bertautan membentuk tanda love.
"Baiklah, baiklah." Gavriel menyerah mengikuti kemauan gadis itu. "Lalu kita pulang kan?"
"Tentu saja.", kata gadis itu.
Dia segera meminta tolong kepada pengunjung yang terlihat di dekat mereka.
KLIK!! KLIK!! KLIK!!
Tanpa dia sadari, kamera yang mengabadikan momen itu bukan hanya kamera ponsel milik Amanda.
"Terimakasih atas malam yang luar biasa ini, Gavriel!", kata gadis itu. Dan tiba-tiba dia berjingkat mengecup bibir Gavriel.
Gavriel meninggalkan taman hiburan itu dengan langkah panjangnya, sementraa Amanda berlari-lari kecil mengimbangi langkahnya.
* * * * *
"Amanda! Kita perlu bicara. Aku menunggumu di ruang kerjaku.", kata Gilbert Cortier pagi itu.
Amanda berjalan dibelakangnya dengan patuh. Masuk setelah tuannya masuk, dan menutup pintunya.
Gilbert duduk di kursinya. Menarik napas panjang, dan tampak memikirkan apa yang hendak diucapkannya.
"Ada yang dapat saya bantu, tuan?", kata Amanda.
"Bagaimana kau menerangkan berita ini.", tanyanya sambil menunjukkan berita yang tampil di layar tabletnya.
Artikel dengan sebuah judul besar, Wanita Simpanan Cortier. Dan sebuah foto besar Amanda mencium Gavriel beserta foto bersama mereka.
Amanda langsung berlutut, membuang dirinya ke lantai.
"Maafkan aku tuan. Aku tak pernah berpikir akan menjadi sebuah sandungan bagi keluarga ini."
Tiba-tiba terdengar suara keributan diluar. Dan suara mobil yang dinyalakan dan dikemudikan dengan kecepatan tinggi. Gilbert melihat dari kaca jendela ruang kerjanya.
"Dia pergi."
* * * * *
Gavriel sedang duduk dimeja kerjanya memeriksa tumpukan berkas yang tiada habisnya untuk dikerjakan. Dengan setengah hati ia mulai pekerjaannya.
Namun sesaat kemudian ponselnya berdering, dengan tulisan nama sebuah rumah sakit. Dia mengangkat panggilan itu, ketika terdengar suara seorang wanita berbicara.
"Selamat pagi, apakah benar saya berbicara dengan tuan Cortier?"
"Ya benar. Saya Gavriel Cortier."
"Tuan Cortier, saya hendak menginformasikan bahwa nyonya Loretta ... ."
Begitu mendengar nama itu, Gavriel bergegas keluar dari kamarnya, disambarnya jas yang tergantung dan berlari ke arah mobilnya.
Dinyalakannya mobilnya dan langsung meninggalkan rumah dengan kecepatan tinggi. Ada apa dengan Loretta? Tadi dia tidak mendengarkan penjelasan dari rumah sakit dengan baik. Firasatnya sangat buruk. Telah beberapa hari dia tak dapat mengunjungi kekasihnya karena kesibukan yang diberikan oleh ayahnya. Dan tiba-tiba rumah sakit menelponnya.
Diparkirnya mobilnya dan segera berlari ke arah kamar VIP yang dipesannya untuk kekasihnya.
Semakin paniklah dia saat melihat kamar itu kosong! Kekasihnya tak terlihat di sana. Apa yang terjadi.
Gavriel mendatangi meja perawat.
"Tolong katakan padaku, apa yang terjadi pada nyonya Loretta?", tanyanya pada seorang perawat yang dijumpainya.
"Ia sedang menjalani sectio, tuan Cortier. Pihak rumah sakit tadi telah berusaha memberitahu sekaligus meminta ijin, tapi sepertinya tidak mendapat respon. Jadi pasien menandatangani sendiri semua tindakan yang akan diambil. Itu semua karena tak ada keluarga sama sekali di pihaknya."
Gavriel merasa dunianya runtuh. Dia tak berada di sisi kekasihnya, disaat paling rapuhnya. Bahkan tak dapat memberinya semangat saat akan menjalani operasi. Operasi kelahiran anaknya sendiri!
"Jangan cemas, melihat usia nyonya Loretta, tidak akan terjadi hal buruk, tuan. Di usianya yang muda, dia akan cukup bertahan. Bersemangatlah.", perawat itu berusaha menenangkan hati Gavriel.
"Loretta, maafkan aku. Berkali-kali aku menyakitimu.", kata hatinya.
Dilangkahkannya kedua kakinya dengan gontai ke arah ruang operasi. Dia ingin menerobos masuk, tapi tak mungkin. Ia hanya dapat duduk menunggu, sambil merenungkan apa yang telah mereka alami.
Beberapa perawat keluar dan masuk dari ruang operasi. Membuat jantung Gavriel semakin berdebar. Apakah semua baik-baik saja? Tak ada suara tangisan bayi atau apapum, hanya suara langkah tergesa para perawat.
Hingga satu jam kemudian, beberapa perawat mendorong brankar dengan Loretta diatasnya masih dalam keadaan tak sadar.
Gavriel mengikuti dibelakang mereka sampai kamar yang ditempati Loretta.
Beberapa saat kemudian, ia sadar. Melihat sekelilingnya. Mendapati wajah yang dikenalinya,
"Gavriel, kau kah itu?", katanya lirih.
"Ya sayang. Aku disini.", digenggamnya tangan wanita itu, dikecupnya perlahan. "Maafkan aku, aku datang terlambat. Sangat terlambat."
Loretta tersenyum. "Gavriel. Tolong aku, aku kedinginan."
Gavriel menekan tombol memanggil perawat dengan panik. Dilepasnya jasnya dan di letakkannya di atas selimut yang menutupi tubuh wanita itu.
Mendengar suara bel yang bertubi, perawat berlari ke kamarnya. "Ada yang bisa dibantu, tuan?"
"Dia mengatakan kedinginan. Tolong bantu dia, sus."
Perawat wanita itu mengecek suhu tubuhnya, semuanya normal, dia mengecek pula aliran cairan infusnya.
"Semuanya normal tuan. Hanya karena biusnya saja. Sebentar lagi biusnya akan habis. Dan dia harus menggunakan obat untuk penyembuhan pasca operasi."
"Sebentar akan saya ambilkan selimut tambahan untuk menghangatkan tubuhnya."
"Terima kasih suster."
Perawat itu bergegas keluar dari kamar itu.
"Anakku? Mana?", tanya Loretta.
Gavriel akan memencet tombol memanggil perawat lagi, ketika tiba-tiba perawat sebelumnya muncul menghantarkan selimut untuk Loretta.
"Sus, tentang bayi nyonya. Bagaimana keadaannya?", tanya Gavriel.
Mendadak wajah perawat itu menjadi tegang. Dia tak menjawab.
"Sus, tolong beritahu kami. Kami orangtuanya berhak untuk tahu.", desak Gavriel.
"Tuan, tolong dipahami. Saat ini fokuskan dulu pada kesehatan nyonya. Dan biar kami menangani masalah bayinya.", kata perawat itu.
Gavriel merasa kata-kata itu sangat benar. Loretta harus sembuh, setelah itu akan lebih mudah baginya menolong bayinya.
"Tuan Cortier. Bisakah saya berbicara sebentar dengan anda? Ada yang perlu saya bahas."
Gavriel menepuk tangan Loretta, menenangkannya sebelum mengikuti perawat itu keluar dari kamar rawat inapnya. Setelah agak jauh, dia mulai berbicara.
"Tuan, kondisi bayi nyonya kurang baik... "