Aku keluar dari lobi rumah sakit dengan langkah gontai. Kaki ini terasa seperti menapak di atas kapas, tak stabil, ringan, tapi setiap langkah terasa begitu berat. Pintu kaca otomatis terbuka, menyambutku dengan hembusan udara panas dari luar. Matahari siang terasa panas menyengat, tapi hatiku dingin membeku. Di belakangku, rumah sakit megah itu masih berdiri dengan segala kemewahannya. Lantai marmer mengilap, lampu-lampu gantung di lobi, aroma wangi pengharum ruangan yang mahal. Tempat yang tidak pernah cocok untuk orang sepertiku. Dan di dalam sana, di ruang perawatan kelas satu, ada Dimas bersama Helena. Bersama keluarganya. Bersama dunianya. Aku tak lebih dari seorang pembantu di matanya. Pembantu. Kata itu terus terngiang di kepalaku, seperti paku yang dipalu berulang-ulang. Andi-

