Bab 22

923 Words

Nining dan Tatik terpaku. Mulut mereka terbuka, tapi tak ada suara keluar. Wajah mereka berubah dari sinis menjadi... bingung? Malu? Aku tak tahu. Aku sendiri terpana. Andi jarang bicara panjang. Apalagi dengan nada setegas ini. "Maaf, kami... kami tadi cuma bercanda aja kok...," gumam Nining akhirnya. "Ya, cuma bercanda, Mbak, Mas..." timpal Tatik canggung. Andi tidak menjawab. Ia hanya menggandeng tanganku. "Sayang, kita lanjut belanja yuk? Masih banyak barang yang belum dibeli." Aku mengangguk, masih syok. Kami meninggalkan Nining dan Tatik yang hanya bisa diam, terpaku di tempat. Aku bisa merasakan tatapan mereka di punggungku. Tapi aku tidak peduli. Yang aku pedulikan hanya tangan hangat Andi yang menggenggam tanganku ini. Setelah agak jauh, aku berbisik, "Andi... tadi kamu..."

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD