BAB 15. Sensasi Di Bawah Meja

1071 Words
Di dalam restoran sudah diatur meja-meja persegi cukup besar yang diputari 6 kursi di setiap mejanya. Terlihat Yudhistira melambaikan tangan dari satu meja yang masih kosong, dia masih hanya sendiri di sana. Memang baru beberapa orang saja yang memasuki restoran. Dan terus berdatangan mulai menempati meja-meja. Rayya tersenyum, membalas lambaian tangan Yudhis. Namun Sabrina berjalan riang, mendahului Rayya, dia langsung menggeser kursi di sebelah kanan Yudhis dan duduk di sana. Saat Rayya datang, Yudhis membantu menggeserkan kursi di sebelah kirinya, Rayya duduk di sana. Sabrina melihat itu dan kedua bola matanya diputar dengan malas. Seorang produser dari tim dua, yang melihat Rayya, ikut bergabung di meja mereka. “Hai Mbak Rayya, saya dengar tim satu lagi ada proyek film besar ya? Pakai artis-artis mahal.” Sorot matanya tampak bersemangat. Rayya tersenyum dan mengangguk sekali. “Iya benar, Mas Abram. Mau kejar tayang.” “Ohh, sukses ya tim satu, Mbak Rayya pasti keren nih handlenya.” Rayya terkekeh kecil. “Makasih, Mas Abram. Aku biasa saja kok, tim aku yang hebat-hebat. Juga didukung penuh oleh Pak Juna.” Abram mengibaskan tangan di depan wajah. “Ah, apanya yang biasa saja sih, berhasil menggaet Reza Rahardian, Acha Septriasa dan juga Laura Basuki, itu keren banget loh!” Melihat Rayya sedang sibuk mengobrol dengan Abram, produser eksekutfi dari tim dua, Sabrina mencolek paha Yudhis di bawah meja. Yudhis menoleh, kedua alisnya terangkat. Seakan bertanya Sabrina mau apa. “Kita ambil makanan yuk! Aku laper nih,” bisiknya sambil mendekatkan mulut ke telinga Yudhis. Yudhis mengangguk, lalu dia mencondongkan badannya ke Rayya. “Mau kuambilkan nasi goreng, Ray?” Itu adalah salah satu makanan favorit Rayya. Rayya mengangguk dengan tetap menyimak obrolan Abram yang seru. Sabrina tidak sabar, dia menarik tangan Yudhis hingga keduanya berdiri dan menuju meja prasmanan panjang. Sabrina senang sekali melihat bermacam makanan menu barat dan indonesia tersaji dengan begitu menggugah selera. “Ahh aku mau lasagna dan steak!” Sedangkan Yudhis memilih masakan Indonesia. Dia juga mengambilkan nasi goreng seafood untuk Rayya. Diletakannya di nampan yang tersedia. Lalu mengambil dua gelas minuman. Sabrina melirik tak suka. Dia yang sudah mengambil nampan sendiri, menghampiri Yudhis. “Minuman untukku nggak diambilin sekalian?” Yudhis tersenyum sambil geleng-geleng kepala. “Ya kan kamu bisa ambil sendiri, Sab.” “Ah, kamu mah, pilih kasih.” Sabrina memberengut lalu meraih satu gelas minuman dingin lalu diletakannya di atas nampan. Yudhis tersenyum melihat tingkah Sabrina, lalu mendekatkan wajahnya. “Cieee cemburu yaaa,” godanya. Sabrina langsung mencubit lengan Yudhis hingga pria itu meringis. “Aduhhh nanti jatuh nih nampannya.” “Lagian kamu sih! Ngeselin! Sudah yuk ah, ke meja lagi.” Sabrina berjalan menuju meja mereka diikuti Yudhistira. Yudhis meletakkan sepiring nasi goreng juga segelas oranye jus di depan Rayya, membuat Abram teralihkan perhatiannya. “Wahh Mas Yudhis perhatian banget ya sama Mbak Rayya. Benar-benar pasangan serasi!” Abram tersenyum menggoda. Lalu berdiri dari duduknya. “Saya mau ambil makanan dulu.” Dan beranjak dari sana. Rayya menoleh pada Yudhis dan tersenyum. “Terima kasih, Mas.” “Ya sama-sama Ray.” Rayya melirik piring di depan Yudhis. “Sudah kuduga kamu pasti ambil nasi empal daging deh. Makanan yang paling kamu suka, kan?” Yudhis mengangguk seraya terkekeh kecil. “Iya dong! Aku memang paling suka nasi hangat empal daging, rasanya mantap banget!” Lalu mulai menyuap dengan lahap. “Aduh Mas Yudhis, pelan-pelan saja makannya dong, sampai belepotan begini.” Rayya mengulurkan tangan kanannya lalu menyeka ujung bibir Yudhis. Lembut sekali sampai Yudhis terpana, tersenyum dan terus memandangi Rayya. Sabrina yang melihat itu tampak terkejut, dia tersedak makanannya sendiri. Batuk-batuk lalu segera mengambil gelas minumannya. Rayya tersenyum. “Sudah bersih, Mas. Makannya pelan-pelan saja ya. Takut keselek loh.” Melirik Sabrina yang baru saja meletakkan gelas kembali. Sahabatnya itu tampak menghela napas dengan kasar, raut wajahnya terlihat kesal. “Makasih Sayang,” ucap Yudhistira. Lalu melanjutkan makan dengan lebih perlahan. Sabrina semakin emosi mendengar panggilan sayang untuk Rayya itu, dia juga kembali melanjutkan makan tapi pikirannya menjadi tidak fokus. Abram datang lalu meletakkan sepiring nasi goreng seafood di depannya. “Lihat kamu makan nasi goreng, saya jadi kepengen juga hehee ….” Menyusul obrolan berikutnya. Yudhis yang sedang asyik melahap potongan empal daging, tiba-tiba tersentak. Punggungnya sontak menegak, berhenti mengunyah dan napasnya seakan tercekat. Yudhis membeku, menelan saliva dengan susah payah. Sabrina di sampingnya tersenyum. Tangan kanannya memegang garpu, sesekali menyuap spagheti sedikit demi sedikit ke mulutnya. Sedangkan tangan kirinya tidak terlihat di atas meja. Tentu saja tidak terlihat, sebab tangan kiri Sabrina sedang mengusap paha kanan Yudhis, di bawah meja. Begitu lembut dan intens. Belaiannya semakin lama semakin naik hingga ke pangkal paha Yudhis. Sabrina memiringkan kepalanya hingga begitu dekat ke bahu Yudhis. “Makannya pelan-pelan saja, Mas Yudhis. Supaya nggak keselek,” bisiknya pelan. Tapi cukup terdengar oleh Yudhis. Yudhis tersenyum. Kembali menyuapkan potongan empal daging ke mulutnya, lalu mengunyah pelan-pelan dengan sesekali memejamkan mata. Dia sungguh tidak konsentrasi. Sebab sensasi yang dirasakannya di bawah sana jauh lebih menarik sekarang dibandingkan menyantap seporsi nasi hangat lauk empal daging kesukaannya. Glek. Sekali lagi Yudhis menelan saliva dengan susah payah. Ketika jemari Sabrina semakin nakal, semakin berani dan semakin menggoda. Tanpa sadar, Yudhis sampai merem melek dibuatnya. Kedua tangan Yudhis yang memegang sendok dan garpu, mengepal kencang hingga ujung-ujung jarinya memutih. Dan Sabrina—dia senang sekali, sesekali melirik ekspresi Yudhis di sampingnya. “Boleh saya bergabung?” Sreett! Tangan kiri Sabrina langsung terlepas dari pangkal paha Yudhis. w*************a itu berdeham pelan dan mengangguk sekali. “Ohh silakan Pak Juna, silakan,” jawab Abram dengan penuh semangat. Dia menggeser kursi yang masih kosong di sampingnya. Arjuna duduk di sana. “Saya datang terlambat dan melihat seluruh meja sudah penuh. Di sini masih ada kursi kosong,” ucap Arjuna santai seraya meletakkan piring dan gelasnya di atas meja. Lalu duduk di sana. Rayya tersenyum seraya mengangguk. Sedangkan Yudhis mencoba ikut tersenyum, tapi canggung sekali. Sebelah tangannya merosot ke bawah meja, mengusap miliknya yang sudah menegang tapi ditinggalkan penggodanya begitu saja. “Mas Yudhis lagi kurang enak badan?” “Hah?!” Yudhis kaget mendapat teguran dari si bos yang duduk tepat di depannya. Dia menggeleng cepat. “Ohh nggak kok, Pak. Sa—saya baik-baik saja.” Namun raut wajahnya tidak menunjukkan kalau dia sedang baik saja. Arjuna memicingkan kedua mata elangnya, memindai ekspresi wajah Yudhis. “Tapi kok … kelihatan tegang sekali, sampai berkeringat begitu, seperti orang yang sedang ….”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD