“Se—sedang apa ya, Pak?” Yudhis gugup sekali. Dia benar-benar takut kalau bosnya ini tahu apa yang sebenarnya terjadi. Akan sungguh memalukan jika orang-orang tahu dirinya menegang di saat jam makan siang seperti ini. Sungguh waktu dan tempat yang salah.
“Ya sedang tegang.” Lalu Arjuna terkekeh dengan santainya. Membuat Yudhis dan Sabrina bernapas lega. Sedangkan Rayya memutar kedua bola mata dengan malas. Pikirnya, itu adalah lelucon yang tidak lucu sama sekali.
“Pak Juna bisa saja bercandanya,” ucap Abram lalu tertawa dengan dibuat-buat, padahal dia juga merasa tidak lucu sama sekali.
Yudhis melirik Sabrina yang sedang menikmati menu makan siangnya, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal dia sudah membangunkan singa jantan yang sedang tertidur lelap.
Di saat yang lain asyik mengobrol sambil menyantap makanan, Yudhistira perlahan mengeluarkan handphone dari saku celana. Dia menulis pesan untuk seseorang. Dia tidak sadar kalau Rayya sesekali melirik ke arahnya.
[Umpan pancinganmu sudah mendapat ikan, Sab. Dan kamu harus bertanggung jawab, menggoreng ikan itu sampai matang!]
Pesan terkirim ke nomor Sabrina.
Dreett dreett. Yudhis memasukkan handphonenya kembali. Berganti Sabrina yang merogoh saku celana lalu mengeluarkan handphone. Rayya masih diam-diam melirik dan memperhatikan mereka. Tapi dia tetap sambil menikmati makannya dan sesekali menanggapi Abram yang terus mengoceh.
Sabrina membaca pesan dari Yudhis, dia tersenyum penuh arti. Lalu menulis di layar handphone.
[Aku selalu siap memasak, karena aku koki yang handal.]
Pesan terkirin ke nomor Yudhistira. Ternyata, bukan hanya Rayya yang memperhatikan kesibukan diam-diam keduanya—tapi Arjuna juga. Sambil terus menikmati makan siangnya perlahan.
Setelah acara makan siang selesai, selanjutnya adalah acara bebas untuk semua karyawan ASP. Lalu nanti dilanjutkan dengan acara utama yaitu gala dinner, dimulai jam tujuh malam di ruang konferensi hotel.
Kebanyakan mereka kembali ke kamar masing-masing untuk sekadar rebahan sambil mengobrol dengan teman sekamar. Tapi banyak juga yang sibuk menyiapkan baju atau accesoris untuk penampilan mereka nanti malam. Terutama para wanita yang akan berlomba-lomba tampil paling cantik mempesona di setiap acara gala dinner. Untuk mengejar predikat raja dan ratu gala dinner. Itu adalah salah satu daya tarik yang dibuat khusus oleh tim kreatif, selain bagian acara lainnya yang juga tidak kalah menarik.
Jadi, acara gala dinner ASP memang selalu ditunggu dengan tidak sabar oleh semua karyawan perusahaan.
Dreettt dreettt. Handphone di saku celana Rayya berdering pelan, tapi getarnya sampai membuat dia kaget sendiri. Dia sedang di dalam toilet, sendiri.
Kedua alisnya terangkat ketika melihat nama ‘Bos Galak’ yang tertera pada layar handphone. “Hemm mau apa Pak Juna telepon? Jangan bilang aku disuruh bantu tim kreatif buat acara nanti malam nih, malas banget!” desisnya pelan. Sangat tidak bersemangat. Tapi akhirnya dia angkat juga panggilan telepon yang tidak mau berhenti itu.
“Ya. Hallo, Pak?”
“Jam empat temui saya di lobby hotel.”
Tanpa basa-basi, perintah itu keluar dari mulut Arjuna. Rayya mendengkus malas. Bosnya ini memang suka semena-mena kalau kasih perintah dan itu tidak bisa dibantah. Tapi kali ini—sungguh sangat—dar der dor. Padahal Rayya juga ingin seperti yang lainnya, berleyeh-leyeh di kamar hotel bintang empat.
“Ada apa ya, Pak?”
“Nanti saya kasih tau. Jangan sampai nggak datang, saya tunggu.”
“Tapi Pak—”
Tut tut tuuttt. Sambungan telepon ditutup Arjuna begitu saja. Meninggalkan Rayya yang melongo lalu menghela napas dalam. Dimasukannya handphone kembali ke dalam saku. Lalu diliriknya jam di pergelangan tangan. Setengah jam lagi menuju pukul dua.
Rayya keluar toilet, disambut Sabrina dengan bibir mengerucut.
“Lama banget sih, Ray! Ngapain aja sih di toilet?”
Rayya tersenyum tipis. “Mules, Sab. Yuk ke kamar!”
Meskipun masih cemberut, Sabrina langsung menggandeng tangan Rayya dengan sikap manja. Mereka berdua berjalan menuju lift lalu naik ke lantai kamar mereka.
Begitu masuk kamar, Sabrina langsung duduk di lantai, di samping kopernya. Dia membongkar koper itu dan senyumnya langsung mengembang saat mengeluarkan stiletto merah darah yang masih tersimpan rapi dalam dusnya.
Rayya melirik. Deg. Seketika ingatannya kembali pada hari naas itu, di mana dia memergoki suami yagn berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—untuk pertama kali.
Kedua tangan Rayya terkepal kencang. Bola matanya membidik tajam pada sepatu dengan hak runcing itu.
“Rayya, bagus nggak sepatu aku?” Tiba-tiba Sabrina menoleh pada Rayya. Namun itu hanya sekilas, sebab sorot matanya dengan cepat kembali pada sepasang sepatu yang dipegangnya. Terlalu berbesar hati pada sepatunya sendiri.
Perlahan ekspresi wajah Rayya melunak. Dia menghela napas dalam, berusaha keras meredam emosi yang membara. “Bagus, Sab.”
Senyum di bibir Sabrina semakin merekah. “Tentu saja bagus! Ini merk terkenal loh, Ray! Harganya lima ratus ribu lebih!”
“Wahh! Pantesan bagus banget!” Rayya ikut tersenyum.
Dengan hati berbunga-bunga, membayangkan betapa cantiknya dirinya nanti malam, Sabrina kemudian mengeluarkan sebuah baguette bag dengan motif etnik. Tas kecil itu jelas akan tampak sebagai center di antara seluruh penampilan Sabrina yang dominan berwarna merah—nanti malam.
“Eh iya Ray, nanti malam kamu pakai gaun apa? Boleh lihat?” Senyuman manis dengan tatapan penuh arti. Sabrina terlihat seperti seorang sahabat yang begitu perhatian, seakan dia siap membantu persiapkan penampilan Rayya untuk nanti malam.
Padahal pada gala dinner tahun lalu, dia jugalah yang ikut andil membuat Rayya terlihat betapa—kacau. Hingga setahun kemudian, tepatnya pada hari ini, Rayya baru menyadari itu. Sangat—terlambat. Memang. Tapi, tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya.
Rayya bertekad tidak akan minta pendapat Sabrina kali ini, untuk penampilannya. Juga tidak akan menerima pendapatnya, meskipun sahabatnya itu memaksa.
Sabrina menjentikkan jari di depan wajah Rayya. “Kok malah bengong sih, Ray? Mana gaunmu? Coba lihat! Hemm jangan bilang kalau lupa bawa deh nih.”
Rayya tersenyum tipis. “Ada kok, Sab.” Dengan ragu dibukanya barrel bag warna hitam. Lalu dikeluarkannya gaun warna biru pucat dengan model begitu sederhana.
Sabrina nyaris tergelak ketika Rayya mengangkat gaun itu dengan kedua tangan hingga begitu jelas terlihat, bagaimana model gaun itu. Sabrina berdeham. “Lalu, sepatu dan tasnya mana? Cocok nggak sama gaunnya?”
“Ohh itu, yaa ada, nanti aku keluarin.” Rayya garuk-garuk kepala. Sebenarnya yang terjadi adalah—dia lupa membawa sepatu pesta—persis tahun lalu!
“Tapi Sab, bagaimana menurutmu gaunku?” Rayya berusaha mengalihkan perhatian. Dia berpikir, mungkin masih ada waktu mencari toko sepatu dekat hotel. Asalkan nanti sore Pak Arjuna tidak memberinya tugas dadakan yang banyak.
“Umm ….” Sabrina tampak berpikir. Jari telunjuk dia ketuk-ketuk di dagu, tatapannya memindai gaun yang masih terbentang di bawah kedua tangan Rayya. “Bagus kok Ray! Gaun ini terlihat sederhana tapi … elegant! Apalagi yang pakai kamu, uhhh pasti cantik banget nanti malam! Oh ya, rambutmu itu … sudah paling cocok dikuncir satu ke belakang, serasi dengan tulang rahangmu, Ray.”
Raut wajah Sabrina tampak begitu serius. “Lalu—hemm … itu tuh, wajah cantikmu, dipoles dengan make up yang senada dengan gaunmu, Ray. Pakai eye shadow warna biru, jadi akan matching banget dengan gaunmu. Lalu … bla bla bla ….” Sabrina terus asyik memberi masukan untuk penampilan Rayya nanti malam.
Huft! Rayya menghela napas dalam. Eye shadow biru ya? Supaya mataku kayak habis ketonjok satpol PP gitu?
Raut wajah Rayya terlihat sangat antusias dengan masukan-masukan fantastis dari Sabrina. Tapi isi pikirannya sibuk, bertanya-tanya kenapa Sabrina begitu ingin melihat dirinya kacau dan buruk?