Malam turun perlahan di rumah besar itu. Langit di luar jendela tampak gelap pekat, hanya diterangi cahaya bulan yang sayup menembus tirai tipis berwarna gading. Dari kejauhan, suara gemericik air mancur di taman belakang terdengar lembut, tapi di telinga Naura, bunyi itu justru terasa menyesakkan. Ia duduk di tepi ranjang besar yang tampak terlalu megah untuk ditempati sendirian. Seluruh kamar berwarna putih keemasan, lampu gantung berkilau di langit-langit, dan karpet lembut menyelimuti lantai marmer. Semua tampak sempurna — tapi keindahan itu hanya membuatnya semakin sadar bahwa dirinya bukan bagian dari dunia ini. Ponsel di meja nakas bergetar pelan. Naura menoleh, menatap layar yang menyala sebentar sebelum mati lagi. Nama yang muncul di sana membuat dadanya serasa diremas: Ad

