Sebuah Pertemuan

1312 Words
Pagi hari Tama dan Anya tampak sedang sarapan bersama dalam suasana hening. Sesekali Anya melirik suaminya yang tampak terlihat cuek. Wanita itu ingin mendengar penjelasan dari suaminya karena semalam tidak tidur di kamar. Namun, sepertinya harapan Anya sia-sia. Ia pun lantas menghembuskan napas panjangnya karena kesal dengan sikap pria tersebut. Dia harus tetap bersabar untuk menghadapi sikap dingin suaminya akhir-akhir ini. “Mas, Aku nanti pulang telat karena ada seminar,” ucap Anya memberi tahu. “Hhmm …,” balas Tama dengan acuh tak acuh. Pria itu hanya berdeham saja sebagai jawaban dari pertanyaan sang istri. Yang dia tahu Anya memang sering mengikuti seminar bergengsi yang diadakan di hotel-hotel berbintang. Lagi-lagi Anya menghela napas panjangnya. Pagi-pagi suaminya telah berhasil menguji kesabarannya. Meskipun terpaksa, ia tetap harus tersenyum karena tidak ingin terjadi perdebatan yang nantinya akan merusak mood mereka berdua. “Mas ada meeting pagi, kalau antar kamu dulu nanti pasti telat,” ucap Tama sambil menyodorkan punggung tangannya pada sang istri. Anya pun langsung menyambut uluran tangan suaminya dan menciumnya. Kemudian mata wanita itu menatap sendu ke arah punggung suaminya yang berjalan menjauhinya. Di dalam hati perempuan itu juga sedang bergemuruh dengan berbagai macam pertanyaan. Dulu Tama pasti akan melarangnya untuk menyetir mobil sendiri. Namun, sekarang semuanya telah berubah. Pria itu seakan hidup di dalam dunianya sendiri dan Anya merasa jika Tama semakin hari terasa kian jauh untuk ia jangkau. Kemudian wanita itu pun juga meninggalkan kediamannya. Dia melajukan mobilnya menuju Himalaya & Co untuk bekerja seperti biasanya. Setibanya di ruangan, Anya memutuskan untuk langsung mengerjakan pekerjaannya agar tidak teringat akan permasalahan rumah tangganya. Bahkan, ia juga membuat rencana kerja untuk satu minggu ke depan. Tak terasa waktu cepat berlalu. Tepat jam sebelas siang, Anya bersama dengan asisten yang sekaligus juga sahabat baiknya pergi menghadiri sebuah acara seminar yang diadakan di salah satu hall hotel bintang lima. Acara tersebut terlaksana tak sampai tiga jam. Anya dan Nolla pun memutuskan untuk makan siang di restoran yang ada di hotel tersebut. Sebenarnya pihak panitia telah menyediakan makan siang untuk keduanya, tapi mereka menolaknya secara halus dengan alasan harus kembali bekerja. Setelah keduanya duduk dan memesan makanan, tanpa sengaja mata Anya menangkap sosok yang mirip dengan suaminya. Detik kemudian ia pun menajamkan pengelihatannya untuk memastikan sosok tersebut. *** Di sisi lain, Tama tampak sedang duduk berhadapan dengan Vani. Wanita yang pernah mengisi ruang di hatinya itu sekarang terlihat lebih dewasa. Mata wanita itu tampak terlihat sembab seperti habis menangis. “Apa sudah kamu pikirkan dengan matang? Apa orang tua kamu sudah tahu keputusanmu ini? Hidup menjanda itu nggak mudah, belum lagi pandangan orang-orang terhadap kamu nantinya,” tanya Tama untuk memastikan. “Aku takut kalau harus memberi tahu mereka sekarang. Nanti setelah semuanya selesai aku pasti akan kasih tahu mereka. Andai suamiku nggak kasar, mungkin aku masih sanggup untuk bertahan. Tapi ini berbeda, Tam. Istri mana yang akan diam saja kalau suaminya punya wanita lain? Kalau aku tanya pasti dia akan memukulku,” tutur Vani panjang lebar dengan mata yang terlihat berkaca-kaca. Mendengar cerita dari mantan kekasihnya membuat hati Tama pun trenyuh. Pria itu merasa kasihan dengan nasib rumah tangga yang menimpa Vani. Ia pun berniat menolong dengan mencarikan pengacara hebat agar proses perceraian wanita itu segera selesai. “Mungkin ini karma yang harus aku terima karena pernah meninggalkan kamu. Aku minta maaf, Tam. Sejak aku pergi waktu itu, hidupku nggak pernah tenang,” ujar Vani sambil meraih tangan mantan kekasihnya itu untuk dia genggam. Tama hanya memandang tangannya yang digenggam oleh perempuan itu. Entah kenapa dia tidak menolak perlakuan mantan kekasihnya tersebut. Kemudian ia pun kembali menatap wajah mantan kekasihnya yang terlihat sedang menatapnya dengan tatapan memelas. “Aku hanya ingin tahu, apa alasan kamu meninggalkan aku dulu?” tanya Tama sambil menatap dalam ke mata lawan bicaranya. “Maafkan aku! Aku harus menikah dengan pria yang dijodohkan denganku. Aku memang sengaja nggak kasih tahu kamu karena aku nggak mau nyakitin kamu, Tam. Selama kita bersama, kamu selalu memperlakukan aku dengan sangat baik dan aku nggak tega kalau harus menyampaikan kabar itu,” tutur Vani mulai menjelaskan. Tama hanya diam sambil menunggu perempuan itu selesai berbicara. Dia harus bisa mencerna semua ucapan Vani dengan baik agar bisa membuat hatinya merasa lega. “Kamu tahu sendiri bagaimana orang tuaku. Jujur, aku nyesel! Karena dulu sudah ninggalin kamu. Mungkin kalau kita masih bersama, pasti kita akan hidup bahagia. Aku mohon kamu mengerti posisiku!” lanjut Vani. Mendengar penuturan dan tatapan memohon dari wanita yang duduk di hadapannya, membuat hati Tama pun tersentuh. Dengan mudahnya lelaki itu percaya begitu saja pada ucapan Vani dan langsung memaafkannya. “Aku mengerti dan aku memaafkan kamu. Kita jangan melihat ke belakang lagi, ya,” pinta Tama dengan tangan masih berada di dalam genggaman Vani. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap dengan tatapan terluka. Hingga akhirnya pemilik mata itu memilih untuk pergi karena tidak sanggup untuk melihat interaksi keduanya lebih lama lagi. Deg …! Jantung wanita itu seakan berhenti berdetak. Darahnya langsung berdesir dan telapak tangannya seketika terasa sedingin es. Matanya menatap tepat beberapa meter ke depan. Tepatnya ke sebuah meja yang saat ini tengah diduduki oleh dua orang yang berlawanan jenis dan saling berhadapan. Suaminya terlihat sedang makan siang bersama dengan seorang wanita. Anya sendiri tidak tahu siapa wanita yang duduk berhadapan dengan suaminya karena posisi wanita itu sedang memunggunginya. Hati Anya terasa sakit. Apalagi ketika melihat suaminya menatap lawan bicaranya sambil tersenyum. Senyum yang belakangan ini tidak pernah dia lihat. Di sana suaminya terlihat bahagia dan nyaman saat berbincang dengan wanita yang tidak ia ketahui identitasnya. “Apa dia yang sudah menyebabkan kamu berubah, Mas?” tanya Anya dalam hati sambil menatap sendu ke arah suaminya yang tidak menyadari kehadirannya. Melihat atasannya tampak sedang fokus memandang sesuatu, membuat Nolla merasa penasaran. Kemudian gadis itu pun mengikuti arah pandang wanita yang telah menjadi sahabat baiknya sejak dari SMA. Setelah Nolla menangkap obyek yang menjadi perhatian sahabatnya, ia pun juga tak kalah kagetnya. Di sana ia melihat suami sahabatnya tampak sedang makan siang berdua dengan seorang wanita. Kemudian ia kembali menatap Anya yang terlihat masih memandangi suaminya. Kali ini Nolla menangkap ada sorot terluka dari mata indah itu. “Nya … kita pindah tempat aja, ya,” ajak Nolla pada sahabatnya. Seakan baru tersadar dari lamunannya, Anya pun langsung menganggukkan kepalanya. Wanita itu ingin segera keluar dari tempat itu. Rasa lapar yang sempat dia rasakan kini sudah hilang entah ke mana. Bagaimana dia bisa menelan makanannya setelah melihat suaminya tersenyum sambil menatap lekat seorang wanita yang tidak dia kenal. Sejak kejadian di resto waktu itu, Anya terlihat sering melamun. Wanita itu juga terlihat lebih banyak diam. Senyuman di wajah suaminya masih terus menghatuinya. Bahkan, sempat timbul pertanyaan di dalam benaknya. “Apa selama ini dia nggak bahagia hidup bersamaku?” batin Anya bertanya-tanya. Sejak Anya melihat suaminya makan siang bersama dengan wanita asing, sikap Tama juga semakin dingin. Bahkan, Anya sering menangkap suaminya terlihat melamun. Sebagai seorang istri tentu saja dia merasa penasaran. “Mas lagi nggak enak badan, ya? Aku lihat belakangan ini Mas banyak melamun,” tanya Anya sambil menempelkan telapak tangannya pada dahi suaminya. Wanita itu ingin memeriksa suhu tubuh sang suami. Sebenarnya apa yang dia lakukan hanya sebuah alasan saja. Tidak mungkin dia langsung bertanya penyebab perubahan sikap pria itu padanya, bukan? Tanpa Anya duga, ternyata tangan wanita itu segera ditepis dengan kasar oleh Tama. Bukan hanya itu saja, bahkan pria itu juga berdecak sambil beranjak dari ranjang dan pergi meninggalkan istrinya begitu saja dengan wajah yang sudah menahan kesal. Melihat sikap suaminya, seketika membuat Anya pun tercengang. Perempuan itu merasakan seperti ada yang mencubit hatinya. Setelah suaminya menutup pintu dengan kasar, tanpa ia sadari air matanya pun menetes. Pernikahannya dengan Tama masih seumur jagung. Di mana seharusnya mereka masih merasakan suasana pengantin baru. Namun, pada kenyataannya rumah tangganya telah diuji dengan perubahan sikap sang suami. “Kenapa kamu jadi kasar begini, Mas, hiks …?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD