Sudah tiga hari berlalu sejak pesan dari nomor asing masuk ke ponsel Tama. Sekarang Anya dan Tama sedang makan malam bersama dengan keluarga Warman. Namun, selama makan malam pria itu tampak lebih banyak diam. Bahkan, terkadang Anya mendapati suaminya seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Nak Tama kayaknya kurang sehat, karena dari tadi Papa lihat diam saja,” ucap Aditya yang sudah tidak tahan lagi menahan rasa penasarannya.
“Nggak, Pa. Tama sehat, kok. Hanya ada sedikit masalah di Perusahaan,” jawab Tama beralasan.
Pria itu terpaksa berbohong karena tidak ingin membuat mertuanya semakin curiga. Padahal dia sudah berusaha dengan sekuat tenaga agar tidak sampai kepikiran, tapi tetap saja ada yang menangkapnya.
Belakangan ini, pria itu juga selalu pulang terlambat dengan alasan lembur. Namun, jika sudah berada di rumah, Tama lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerjanya. Dia lebih memilih mengurung diri di ruangan tersebut, daripada harus menghabiskan waktunya bersama dengan Anya. Bahkan, terkadang dia juga sampai ketiduran dan kembali ke kamarnya saat menjelang subuh.
Perubahan sikap Tama juga dirasakan oleh Anya. Sebagai seorang istri, tentu saja dia merasa penasaran terhadap perubahan tersebut. Namun, wanita itu tidak berani untuk bertanya karena takut akan membuat suaminya merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya.
Dia mencoba untuk berpikiran positif dan percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tama ketika sedang makan malam. Dia tidak ingin menambah beban sang suami dengan pertanyaannya.
Semakin hari hubungan keduanya terasa kian dingin. Anya merasa kasihan dengan suaminya yang tampak sibuk sekali hingga membuat laki-laki itu seakan tidak ada waktu lagi untuk dirinya.
“Kasihan Mas Tama …,” batin Anya.
Perubahan Tama bukan hanya pada waktunya saja, tapi pria itu juga sering berkata-kata pedas pada istrinya, tapi wanita itu tetap sabar. Anya seakan kembali ke masa ketika dirinya baru bertemu dengan Tama dulu, di mana pria itu selalu berbicara pedas padanya.
***
Pagi ini Tama tampak sedang terburu-buru dan tidak sempat untuk sarapan. Dengan sigap, Anya langsung memindahkan sarapan yang telah ia siapkan ke dalam kotak bekal agar suaminya bisa sarapan di mobil. Namun, jawaban suaminya sungguh di luar dugaannya.
“Aku bukan anak kecil yang harus bawa bekal segala!” ucap Tama dengan ketus.
Tentu saja jawaban yang diberikan oleh Tama membuat Anya sempat tersentak kaget dan tercengang untuk sesaat. Dia benar-benar tidak pernah menduga jika respon suaminya akan seperti ini. Namun, dia bisa dengan cepat menguasai dirinya agar tetap terlihat normal.
“Mas bisa memakannya di mobil, jangan sampe perut dibiarkan kosong, nanti Mas bisa sakit,” bujuk Anya.
Tanpa berkata-kata, Tama pun mengambil kotak bekal yang ada di tangan istrinya sambil berdecak. Bahkan, lelaki itu juga memberikan tatapan sinis pada istrinya sendiri. Kemudian Tama memberikan punggung tangannya agar dicium oleh istrinya sebelum dia berangkat ke kantor seperti biasanya.
“Sabar … sabar …,” lirih Anya sambil mengelus dadanya.
Entah seberat apa permasalahan yang sedang di hadapi oleh suaminya hingga membuat sikap pria itu berubah.
Di dalam mobil, Tama lebih memilih untuk melamun. Lelaki itu meletakkan kotak bekal yang diberikan oleh istrinya tadi tepat di sebelahnya dan mengabaikannya begitu saja.
Di kantor, Tama tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Pikirannya masih tentang pesan singkat yang dikirimkan oleh seseorang yang mengaku bernama Vani. Di tengah-tengah lamunannya, tiba-tiba saja terdengar bunyi notifikasi yang menandakan adanya sebuah pesan masuk.
081xxxxxxx: Bagaimana, Tam? Kamu mau kan menolongku? Aku bener-bener membutuhkan pertolongan kamu. Vani.
Lagi-lagi Tama dibuat tercengang setelah membaca pesan tersebut. Jantungnya kembali berdetak dengan kencang. Kali ini dia berniat membalas pesan tersebut. Namun, lelaki itu tiba-tiba mengurungkannya. Jemarinya yang hendak mengetik seketika menggantung di udara. Kemudian ia pun mengepalkan tangannya sambil terus menatap pesan yang ada di hadapannya.
Tak lama kemudian pesan dari nomor yang sama kembali masuk. Pria itu pun kembali membacanya.
081xxxxxxx: Aku tau kamu nggak percaya kalau ini aku. Aku tunggu besok di resto Hotel Max pada jam makan siang.
Setelah membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya, hati Tama pun terasa tak karuan. Bahkan, sekujur tubuhnya terasa gemetar. Sudah bisa dipastikan jika pesan itu dikirim oleh orang yang sama.
Seketika Tama terlihat gelisah. Berkali-kali pria itu mencoba menenangkan hatinya dengan menghembuskan napas panjangnya.
“Kenapa kamu baru datang sekarang?” tanya Tama pada dirinya sendiri.
Ya … masa lalunya telah kembali. Mantan kekasih yang telah meninggalkannya tanpa kata kini menghubunginya. Sebenarnya ada satu pertanyaan yang ingin dia ketahui jawabannya. Mungkin sekaranglah waktunya untuk dia mengetahui jawaban yang selama ini dia cari.
Detik kemudian, pria itu langsung menghubungi nomor tersebut. Degup jantungnya juga semakin kencang ketika panggilannya telah tersambung. Kemudian terdengar suara seorang wanita yang sangat dia kenal.
“Hai … Tam, apa kabar?” tanya Vani begitu menerima panggilan telepon dari Tama.
Tama masih terdiam mendengar suara yang sudah lama tidak dia dengar. Mendadak lidah pria itu terasa kelu. Tenggorokannya juga tiba-tiba terasa kering. Bahkan, dia merasa kesulitan untuk menelan salivanya sendiri.
Beberapa saat kemudian terdengar suara tawa kecil dari Seberang sana. Lagi-lagi Tama dibuat tercengang dengan suara lawan bicaranya.
“Kenapa diam, Tam? Ini aku Vani, kamu masih ingat, kan?” tanya wanita itu kembali.
Seakan baru tersadar dari lamunannya, Tama pun seketika berdeham untuk menetralkan rasa gugupnya. Lelaki itu mencoba menenangkan hatinya terlebih dahulu sebelum dia membuka suaranya.
“Ehemm … baik, kabar aku baik! Kamu apa kabar?” tanya Tama pada akhirnya.
“Aku sedang tidak baik-baik saja, Tam. Aku kabur dari suamiku. Tolong bantu aku supaya bisa lepas dari dia. Sungguh, aku sudah nggak kuat untuk bertahan … hiks,” jawab Vani disertai isakan.
Tama yang mendengar mantan kekasihnya tiba-tiba menangis seketika terkejut. Di dalam benaknya pun bertanya-tanya. Apa yang sudah terjadi dengan rumah tangga mantan kekasihnya itu?
“Sstt … tenang, Van! Oke, aku akan bantu, tapi kamu harus tenang dulu. Besok kita ketemu dan kamu bisa cerita semuanya,” ucap Tama.
Lelaki itu mencoba membujuk Vani agar bisa tenang. Sebenarnya dia sendiri tidak tahu apa yang sedang menimpa wanita itu. Sepertinya permasalahan yang sedang di hadapi oleh Vani cukup serius, hingga membuat wanita itu meminta bantuannya. Akhirnya setelah berbincang sejenak, keduanya pun mengakhiri panggilannya.
Setelah percakapan itu, Tama semakin menjadi pendiam. Lelaki itu juga sering tertangkap sedang termenung. Bahkan, pria itu seperti sengaja pulang malam untuk menghindari istrinya karena dia pulang di saat istrinya telah tertidur.
Saat memasuki kamarnya, di meja sofa sudah terdapat air putih yang biasa disiapkan oleh istrinya ketika dia pulang kerja. Setelah meminumnya hingga habis, ia pun langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena aktivitas seharian.
Setelah selesai mandi, ia pun berganti pakaian yang nyatanya juga sudah disiapkan oleh sang istri. Karena merasa belum mengantuk, Tama pun berjalan keluar kamar untuk menuju ke ruang kerjanya. Dengan langkah hati-hati dia berjalan agar tidak sampai mengganggu tidur istrinya.
Di ruang kerja pribadinya, Tama kembali memikirkan percakapannya dengan Vani tadi siang. Tentu saja dia merasa tidak sabar untuk menunggu hari esok karena dia ingin tahu keadaan wanita itu dengan mata kepalanya sendiri.
“Kenapa dia nggak minta tolong keluarganya?” lirih Tama.
Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh mantan kekasihnya tersebut. Saat ini banyak pertanyaan yang timbul di dalam kepalanya. Kemudian ia pun terlempar ke masa lalu, di mana dia dan Vani masih bersama.
“Apa dia takut sama orang tuanya?” tanya Tama lagi.
Yang dia tahu, Vani berasal dari keluarga sederhana. Namun, keluarga mantan kekasihnya itu cukup disegani di lingkungannya. Ayah Vani adalah seorang kepala sekolah SMA dan terkenal sangat disiplin dalam mendidik anak-anaknya.
Saat ini pikiran Tama sedang dipenuhi oleh sosok mantan kekasihnya itu. Wanita yang sudah lama tidak dia dengar kabarnya kini tiba-tiba menghubunginya. Tentu saja itu membuat hatinya merasa sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi terhadap wanita itu.