Bab 23

1304 Words

Malam itu rumah besar itu kembali tenggelam dalam keheningan. Namun bagi Kaiden, sunyi justru terasa paling berisik. Ia berdiri di bawah guyuran air shower dengan kedua tangan bertumpu di dinding marmer kamar mandinya. Napasnya berat, rahangnya mengeras, sementara air dingin yang terus membasahi tubuhnya sama sekali tidak membantu meredakan panas yang sejak tadi menguasai dirinya. Sial. Kaiden memejamkan mata kuat-kuat. Bayangan itu lagi. Aluna. Cara gadis itu menatapnya diam-diam di mobil tadi. Bibirnya yang sedikit terbuka setelah ciuman singkat itu. Ekspresi terkejut sekaligus bingung yang masih terus terbayang jelas di kepala Kaiden sampai sekarang. Dan yang paling mengganggunya— reaksi tubuhnya sendiri. Kaiden mengusap wajah kasar. Dadanya naik turun menahan emosi yang makin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD