Bab 22

1359 Words

Perjalanan pulang berlangsung jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Mobil Kaiden melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai padat oleh lampu malam dan deretan kendaraan yang bergerak lambat. Dari luar, semuanya tampak biasa saja. Musik jazz pelan mengalun samar dari speaker mobil, pendingin ruangan bekerja stabil, dan lampu-lampu kota memantul di kaca jendela seperti potongan cahaya yang berlari. Namun di dalam mobil itu, suasananya terasa terlalu penuh. Penuh oleh sesuatu yang tidak diucapkan. Aluna duduk diam di kursi penumpang sambil menatap jalan di depan, meski sesekali tanpa sadar matanya melirik ke arah Kaiden. Pria itu fokus menyetir. Satu tangan memegang kemudi, satu lagi bertumpu santai di dekat perseneling. Rahangnya masih terlihat tegang sejak mereka keluar dari restoran t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD