Aluna baru saja membuka pintu kamar ketika ia langsung berhenti di tempat. Dugaan kecil yang sejak tadi mengganggu pikirannya ternyata benar. Kaiden berdiri di depan pintu dengan ekspresi datar khasnya, satu tangan dimasukkan ke saku celana, sementara tangan lainnya memegang jaket tebal warna hitam. Pria itu menatapnya sekilas sebelum mengulurkan jaket tersebut. “Cuaca akhir-akhir ini dingin,” katanya pendek. “Kamu mungkin butuh ini.” Aluna berkedip beberapa kali, sedikit heran. Selama beberapa hari terakhir Kaiden justru makin menjaga jarak. Mereka bahkan hampir tidak pernah berbicara lebih dari dua atau tiga kalimat. Jadi perhatian kecil seperti ini terasa… aneh. Ia menerima jaket itu pelan. “Thanks.” Kaiden hanya mengangguk tipis. Tatapannya turun sebentar ke wajah Aluna yang masi

