Pagi itu berjalan seperti pagi-pagi lain di perusahaan tersebut. Lobi dipenuhi karyawan yang datang silih berganti. Suara mesin kopi terdengar dari pantry. Telepon berdering. Keyboard berdetak. Dan di lantai paling atas, Kaiden sudah tenggelam dalam tumpukan pekerjaan bahkan sebelum sebagian besar staf datang. Sejak pukul tujuh pagi, jadwalnya nyaris tidak memberi ruang bernapas. Rapat. Pemeriksaan laporan. Panggilan dengan klien luar negeri. Lalu penandatanganan beberapa dokumen penting. Namun meski terlihat fokus, pikirannya sebenarnya tidak sepenuhnya berada di sana. Karena semalam... Tatapan mata Aluna yang berkabut itu terus muncul tanpa diundang. "Aku cuma capek, Uncle." Kalimat sederhana itu terdengar biasa. Tetapi ekspresi gadis itu sama sekali tidak biasa. Dan Kai

