Kaiden tidak ikut tertawa. Tapi sudut bibirnya bergerak tipis, hampir tak terlihat. “Makanya,” lanjutnya, suaranya kembali serius, “kita butuh aturan.” Aluna menoleh lagi. “Aturan?” “Iya.” Kaiden berdiri lebih tegak sekarang, aura profesionalnya mulai kembali menutupi sisi lain yang sempat muncul. “Di rumah ini… kamu keponakanku. Itu saja.” Kata itu—keponakan—terasa aneh di telinga Aluna. Seolah tidak cocok dengan semua yang sudah terjadi. “Dan di kantor?” tanya Aluna. “Magang. Bawahan.” jawab Kaiden tanpa ragu. “Dan… di luar itu?” Kaiden menatapnya, lebih dalam kali ini. “Nggak ada ‘di luar itu’.” Aluna menahan napas sejenak. Ia ingin membantah. Ingin mengatakan sesuatu yang lebih tajam. Tapi pada akhirnya, ia hanya mengangguk pelan. “Fine.” Satu kata. Tapi cukup untuk menand

