Malam itu Aluna tidak langsung tidur. Meskipun tubuhnya lelah dan kepalanya terasa penuh, matanya tetap terbuka menatap langit-langit kamar yang gelap. Lampu utama sudah dimatikan. Hanya lampu tidur kecil di sudut ruangan yang masih menyala redup. Cukup untuk menciptakan bayangan lembut di dinding. Namun suasana tenang itu sama sekali tidak membantu. Karena pikirannya masih tertinggal di restoran. Pada ayah dan ibunya. Pada percakapan yang tidak pernah benar-benar selesai. Dan pada begitu banyak pertanyaan yang tiba-tiba bermunculan. Aluna memeluk bantal di dadanya. Mencoba mengingat setiap kalimat yang keluar dari mulut kedua orang tuanya. Semakin diingat, semakin terasa aneh. Mereka tidak terdengar seperti dua orang yang berpisah karena tidak lagi saling mencintai. Justru s

