Pagi itu dimulai dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Matahari baru naik sepenuhnya ketika Aluna menuruni tangga rumah besar itu dengan langkah santai. Rambutnya masih sedikit lembap sehabis keramas, menjuntai di punggung dengan aroma sampo yang samar. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidurnya cukup nyenyak. Tidak ada hujan deras. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada tatapan yang membuat jantungnya berdebar tidak jelas. Setidaknya sampai ia tiba di ruang makan. Kaiden ternyata sudah duduk di sana. Seperti biasa. Kemeja putih yang rapi, lengan digulung sampai siku, secangkir kopi hitam di samping tablet yang menampilkan laporan bisnis. Pria itu terlihat begitu tenggelam dalam pekerjaannya sampai-sampai tampak seperti bagian dari furnitur rumah

