Suara Aluna terdengar lebih pelan. Lebih tulus. Robert mengusap punggung putrinya. "Nggak perlu berterima kasih." "Tapi aku senang banget, Pa," "Kamu memang pantas mendapatkan yang terbaik." Aluna tersenyum.Senyumnya terasa benar-benar tulus. Tanpa beban. Tanpa kepura-puraan. Tanpa luka. Karena dia sudah melanjutkan hidup dan meninggalkan masa lalu di belakang. Aluna masih berdiri di depan jendela besar unit itu, kedua tangannya bertumpu di pagar kaca balkon yang menghadap langsung ke hamparan gedung-gedung tinggi Jakarta. Dari lantai setinggi itu, jalanan di bawah terlihat seperti garis-garis kecil yang dipenuhi kendaraan bergerak lambat. Langit siang tampak cerah setelah hujan semalam, membuat seluruh kota terlihat lebih hidup. Ia masih belum bisa percaya bahwa unit mewah itu

