bc

The Wo(Man)

book_age18+
1.6K
FOLLOW
13.3K
READ
sex
badboy
student
drama
comedy
sweet
campus
first love
friendship
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

Kehidupan Ayu Anjani (20 tahun) tiba-tiba saja terguncang saat sang paman menjodohkannya dengan putra dari seorang pemilik perkebunan sawit. Tidak mau menerima perjodohan itu, Ayu pun memutuskan lari dari rumah sang paman dan memulai kehidupan baru dengan menyamar menjadi seorang laki-laki bernama Riyu. Dengan identitas barunya, Riyu akhirnya tinggal di sebuah rumah kontrakan yang dihuni oleh lima orang pria dengan kepribadian dan latar belakang yang berbeda. Namun dari kelima pria itu yang paling membenci Riyu adalah sosok Darrel Septihan (20 tahun) seorang mahasiswa jurusan seni yang menjadi teman sekamar Riyu. Bagaimanakah nasib Riyu selama berbaur dengan para lelaki itu? apakah Riyu bisa menutupi identitas aslinya selama tinggal di sana? Adakah dari kelima lelaki itu yang nantinya akan menyadari bahwa Riyu adalah seorang wanita?

Ikuti kisah selengkapnya di ‘The Wo(Man)

chap-preview
Free preview
The Wo(Man) – 01

“A-Apa ...? Bude dan Paman ingin menjodohkan aku dengan putranya Pak Anwar?” senyum di wajah gadis itu langsung lenyap seketika.

“Iya, Yu. Menurut Bude dan Paman ini adalah jalan terbaik untuk kamu saat ini. Bude sudah tidak sanggup lagi membiayai kuliah kamu. Saat ini perekonomian Bude benar-benar anjlok dan kamu tahu sendiri kalau sekarang Paman kamu tidak lagi bekerja sejak mengalami kecelakaan,” jelas sang bude.

Ayu menatap nanar. Dia sebenarnya bisa memaklumi kondisi Bude-nya saat ini. Ayu tidak keberatan sama sekali jika dia harus cuti dari kuliahnya sementara waktu karena terkendala oleh biaya. Dia bahkan sudah berencana untuk mencari pekerjaan sambilan selama masa cuti itu berlangsung.

“T-tapi Bude—”

“Kami sudah memikirkan ini semua matang-matang.” Sang paman langsung memotong ucapan Ayu. “Katakanlah kamu cuti dan bekerja untuk biaya kuliah kamu semester depan ... lalu untuk biaya semester berikutnya apa kamu akan cuti lagi? semua itu hanya akan membuang-buang waktu. Sudah waktunya kamu menyerah dan menerima keadaan.”

Hening.

Ayu terpekur seraya meremas jemarinya sendiri. Padahal dia sudah berjuang sampai sejauh ini. Dia sudah berada di pertengahan jalan. Namun apa mau dikata, kehidupannya memang tidak semudah teman-temannya yang lain. Jalan hidup Ayu memang sudah disuratkan berbeda sejak kematian kedua orang tuanya.

“Anto itu anak yang baik. Paman sudah lama berbaur dengan dia. Jadi kamu tidak akan sengsara ataupun teraniaya jika menerima pinangan dia,” ucap sang paman lagi.

Ayu menatap pamannya itu perlahan. “Bukan itu masalahnya, Paman. Tetapi aku benar-benar belum memikirkan tentang pernikahan sama sekali. Aku....”

“Kalau begitu kamu hanya perlu mulai memikirkannya!” sergah sang paman.

“Kamu tidak boleh keras kepala lagi, Yu! Ini semua juga demi kebaikan kamu. Bude dan Paman tidak selamanya bisa menjaga dan menghidupi kamu. Sekarang kamu sudah dewasa. Kamu juga seorang perempuan. Kehidupan kamu akan menjadi jelas jika kamu sudah menikah nantinya,” sahut sang bude.

Sang paman menghela napas seraya meletakkan rokok cerutunya ke dalam asbak. “Pak Anwar itu orang terpandang. Perkebunan sawitnya bahkan sangat luas. Jika menjadi menantu mereka, sedikit banyaknya kamu juga bisa membantu kami nantinya.”

Deg.

Ayu menatap nanar. Bibirnya bergetar hendak menjawab ucapan sang paman, namun dia berusaha menahan diri. Apa sekarang ini sang paman berusaha untuk menjualnya? Apa sang paman kini sedang meminta ganti rugi atas semua yang telah diberikannya selama ini? Ayu benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran paman dan bude-nya yang begitu kuno. Era sudah berganti. Jaman sudah bertukar, tapi mereka masih saja hidup seperti orang di masa lalu.

Perjodohan?

Bukankah itu sebuah hal yang menggelikan dan tidak masuk akal di jaman sekarang ini?

“Tapi, Paman....”

“AYU...! kamu jangan membangkang lagi! Apa kamu tidak mengerti dengan situasi yang semakin sulit ini, ha? kamu harusnya memakai akal sehat kamu itu untuk berpikir. Kamu harus tahu diri. Kamu harus ingat siapa kamu!” bentak sang paman yang sudah mulai terbakar emosi.

Ayu terpekur dengan kedua bola mata yang mulai terasa panas. Dia berusaha keras menahan diri untuk tidak membantah lagi. Sang paman adalah adalah sosok yang temperamental. Adik kandung dari ibunya itu kerap menggunakan kekerasan dalam mendidik Ayu selama ini. Bukan hanya Ayu saja, ketiga keponakannya pun juga mengalami nasib yang sama. Karena itulah Ayu berusaha menahan diri. Karena jika dia gegabah sedikit saja, maka sang paman bisa mengamuk tak terkendali.

Keadaan seketika menjadi sunyi. Sang paman terlihat masih mengatur napasnya yang memburu. Sementara sang bude kini juga termenung seraya memijit keningnya sendiri. Ayu paham betul dengan situasi mereka saat ini. Sejak mengalami kecelakaan kerja di perkebunan sawit, kondisi sang paman tidak lagi sekuat dulu. Luka di pergelangan kakinya membuat sang paman kesulitan untuk beraktivitas. Namun terlepas dari itu semua, bagaimana bisa mereka ‘mengorbankan’ masa depan Ayu dengan mudahnya seperti itu.

“Sekarang lebih baik kamu beristirahat. Besok kita akan membicarakan tentang hal ini lagi,” ucap sang bude kemudian.

Ayu perlahan bangkit dari duduknya dan berjalan gontai memasuki kamar. Setelah sampai di dalam kamar, Ayu segera menutup pintu itu dan menyandarkan punggungnya di sana.

“Haaaah....” Ayu menghela napas panjang sembari memejamkan matanya sejenak.

Cukup lama dia terdiam dalam posisi seperti itu. Ayu masih saja memejamkan matanya dengan helaan napas yang terdengar berat.

“Kenapa aku harus memiliki kehidupan yang seperti ini,” bisik Ayu kemudian.

Ayu beranjak duduk di atas kasurnya yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Ruangan sempit berukuran 1,5 x 1,5 meter itu bahkan sebenarnya tidak layak disebut sebagai sebuah kamar. Tidak ada apa-apa di dalam kamar itu selain sehelai kasur kapuk yang sudah mengeras dan juga sebuah rak kecil yang dugunakan oleh Ayu sebagai tempat menyimpan pakaiannya. Di samping rak plastik itu terlihat deretan kardus yang disusun sedemikian rupa dan dijadikan sebagai rak buku, tempat menyimpan kosmetik yang tidak seberapa dan berbagai barang-barang milik Ayu yang lainnya.

Ayu mendesah pelan seraya memeluk kedua lututnya sendiri. Matanya kini menerawang menatap sebuah kertas yang dia tempel di dinding itu. Kertas itu bertuliskan:

‘AKU PASTI BISA! MARI TUNTASKAN 3,5 TAHUN. WISUDA 2021!’

Ayu tersenyum getir seiring air mata yang mulai menggenang. Tak lama kemudian kedua pundak mungil itu mulai bergetar. Hingga akhirnya suara isak tangis itu pun terdengar samar.

_

Gadis berbadan mungil itu bernama Ayu Anjani. Dua bulan yang lalu dia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 20 tahun. Ayu adalah anak tunggal dari pasangan Hermawati dan Syafrianto. Sewaktu berusia lima tahun, mereka bertiga mengalami kecelakaan lalu lintas dan Ayu adalah satu-satunya yang selamat dari insiden itu. Sejak itulah Ayu di rawat oleh pamannya. Kehidupan tanpa kedua orang tua adalah sesuatu yang berat, tetapi Ayu bisa melaluinya dengan baik. Terbukti dia tetap bisa mengukir berbagai prestasi. Ayu terkenal salah satu anak yang cerdas sejak dia menginjak bangku sekolah dasar. Ayu pernah memenangkan lomba cerdas cermat, dia selalu mewakili sekolahnya setiap ada olimpiade mata pelajaran, dia juga pernah menjadi mayoret untuk tim marching band-nya sewaktu SMA. Ayu benar-benar sosok yang selalu bersemangat setiap harinya. Jika melihat sekilas, maka tidak akan ada yang menduga bahwa dia adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tuanya.

  Saat ini Ayu menyandang status sebagai mahasiswi semester 4 Fakultas Ekonomi, jurusan Akuntansi, Universitas Brawijaya, Malang. Ayu adalah seorang gadis yang energik. Perawakannya kecil dan manis. Tinggi badannya hanya 155 cm saja. namun semua itu terlihat pas dengan proporsi wajahnya yang mungil. Raut wajahnya terlihat lembut. Ayu mempunyai mata yang terlihat sayu dengan hidung yang mancung seperti ibunya. Bibirnya terlihat mungil dan berwarna merah muda. Kecantikan yang dimilikinya benar-benar terlihat natural. Semua kesempurnaan itu semakin indah terbingkai oleh rambut panjang yang bergelombang.

“Hah ....” Ayu kembali mendesah pelan seraya membuka kelopak matanya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 tengah malam, tapi Ayu masih terlihat gelisah di tempat tidurnya. Dia sibuk mengganti posisi tidur. Mulai dari telentang, miring ke kanan, ke kiri, bahkan hingga menelungkup. Tak lama kemudian Ayu menarik selimut hingga menutup wajahnya, tapi tidak beberapa detik kemudian dia kembali menghantam selimutnya itu dengan gusar.

Ayu bangun seraya menggaruk kepalanya dengan rambut yang kini sudah kusut. Dia sama sekali tidak bisa memicingkan mata. Seluruh pikirannya kini terpusat memikirkan tentang perjodohan yang tadi dikatakan oleh bude dan pamannya. Sekeras apa pun Ayu memikirkannya, semua itu tetap saja tidak masuk akal.

Dia benar-benar tidak ingin dijodohkan seperti itu.

Ayu menyelipkan tangannya ke bawah kasur. Dia pun mengeluarkan sebuah potret usang yang menampilkan foto dia dan kedua orang tuanya. Kedua orang tua Ayu tampak tersenyum dengan sosok kecil Ayu yang masih berusia 5 tahun berada di tengah-tengah mereka. Seketika Ayu kembali dirambati oleh rasa rindu yang menjalari hatinya. Dia tersenyum pelan, namun lama kelamaan bibir itu mulai berkedut menahan tangis.

Jikalau kedua orangtuanya masih ada, tentu Ayu tidak akan menjalani kehidupan seperti ini. Semua sudah terasa begitu sulit baginya dan sekarang dia malah dihadapkan pada sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Ayu.

“Ma ... Pa ... apa yang harus Ayu lakukan sekarang?” bisiknya lirih.

Bersamaan dengan itu hujan di luar sana mulai turun berduyun-tuyun. Awalnya seperti gerimis, tapi lama kelamaan curahnya semakin deras. Suara hujan yang mengguyur atap di atas kamar Ayu terdengar sangat nyaring seakan mampu merobohkan atap itu.

“Aaah ... airnya merembes lagi.”

Ayu berbisik pelan seraya mengangkat kasurnya ke pojokan kamar. Setiap hujan datang, maka rembetan air hujan akan menetes dari langit-langit kamarnya itu. Sialnya lagi, posisi jatuhnya tepat berada di atas kasur Ayu. Dia tidak bisa lagi mengakali atau pun mengubah posisi kasurnya karena keterbatasan ruang yang memang ebnar-benar sempit.

 Ayu terduduk di pojokan kamarnya seraya memandangi rintik air yang menetes ke lantai. Dia bahkan merasa enggan untuk sekedar mengambil ember untuk menampung tetesan air itu. Hujan di luar sana semakin deras. Ayu pun semakin larut dalam lamunan panjang yang membuat dadanya tersa sesak.

Lelah.

Dia benar-benar sudah lelah dengan kehidupan seperti ini. Apa memang sebaiknya dia menerima saja perjodohan itu?

Lama sekali Ayu larut dalam lamunan panjang memikirkan jalan hidupnya yang selalu saja terasa terjal. Dulu dia sempat mengira bahwa semakin dewasa kehidupannya akan semakin mudah. Namun ternyata tumbuh dewasa adalah sebuah fase yang terasa mengerikan. Ayu merasa kehidupan yang mendera semakin pelik dan menghimpitnya hingga dia bahkan merasa kesulitan untuk menghela napas. Tumbuh tanpa kedua orang tua memang tidak menyenangkan. Siapa pun yang mengalami nasib yang sama pasti setuju dengan kalimat itu. Dunia terasa kelam dan menakutkan. Tidak ada tempat pulang terbaik selain rumah yang ada sosok orang tua di dalamnya dan Ayu sama sekali tidak memiliki itu.

Ayu mendesah pelan, lalu emnatap nanar dengan kedua bola matanya yang sudah terlihat sayu.

Apa mungkin kehidupannya akan berakhir bahagia seperti yang dikatakan oleh sang paman jika dia menerima perjodohan itu...?

 

_

 

Bersambung...

 

 

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

G e r h a n a

read
37.3K
bc

Mafia and Me

read
2.1M
bc

IKHLASKU DALAM DUKA

read
132.5K
bc

The Lost Love

read
507.2K
bc

Mentari Tak Harus Bersinar (Dokter-Dokter)

read
48.2K
bc

The Imperfect Husband

read
181.4K
bc

Loving The Pain

read
2.8M
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play