Perjalanan pulang dari panti asuhan itu diselimuti oleh keheningan yang ganjil, setidaknya bagi Nicko. Di sampingnya, Nona Lucy duduk dengan punggung tegak, wajahnya sedingin kutub es, berkali-kali ia menyeka roknya yang sudah bersih dengan tisu basah seolah kuman-kuman dari tempat itu masih menempel di kulitnya. Ia benar-benar risih. “Kau tampak sangat membenci mereka, Nona.” Nicko memecah kesunyian, suaranya terdengar lembut, tapi penuh dengan rasa penasaran. “Maksudku, anak-anak itu. Mereka hanya anak kecil yang mendambakan kasih sayang.” Nicko melanjutkan kalimatnya. Nona Lucy hanya mendengus sinis, matanya menatap tajam ke luar jendela mobil yang gelap. “Kasih sayang? Nicko, jangan naif. Anak-anak adalah sesuatu yang menyerupai hama. Mereka berisik, kotor, dan hanya tahu cara mengha

