Pembalasan Kecil

1336 Words
Angin dingin menyelinap masuk, membelai wajah Nicko dengan lembut. Dalam kantuknya yang masih berat, ia berniat menarik selimut lebih tinggi, tapi gerakannya tertahan. Ada sepasang lengan yang melingkar erat di perutnya, menarik tubuhnya untuk tetap menetap. Saat kelopak matanya terbuka perlahan, Nicko tertegun. Di sana, begitu dekat hingga napas mereka hampir bersentuhan, tidak lain dan tidak bukan adalah Nona Lucy. Aroma parfum yang manis bercampur dengan samar-samar sisa wine semalam, kini menghampiri indra penciuman Nicko. Jantungnya berdegup kencang, menciptakan ritme yang tidak beraturan di dadanya. Nicko membeku. Kehangatan tubuh Nona Lucy yang menempel di punggungnya membuat akal sehatnya seolah terbang. Ia mencoba menggeser dirinya sedikit, berniat mencari jarak agar bisa mencerna situasi ini dengan lebih tenang. Namun, belum sempat ia bergerak lebih jauh, sebuah bisikan serak mampir di telinganya. “Sebentar, Sayang.” Nona Lucy mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nicko. “Ini masih terlalu pagi. Biarkan seperti ini dulu.” Nicko berusaha keras mengatur degup jantungnya, tapi sekeras apa pun ia berusaha, selalu saja ia gagal. Setiap inci dari Nona Lucy bagi Nicko hampir seperti alkohol. Walaupun ia belum pernah mencoba minuman itu sama sekali, tapi ia tahu bagaimana rasanya mabuk. Mabuk karena seseorang secantik Nona Lucy. Maka dari itu, Nicko memilih untuk terhanyut. Menikmati degup jantung miliknya yang seolah bersatu dengan napas hangat Nona Lucy yang begitu tenang dan pelan. Satu jam telah berlalu. Nicko kembali membuka matanya. Ia mendengar suara-suara di kamar mandi, dan seketika bangun dari tempat tidurnya. Nicko mengharapkan sesuatu pagi itu, tapi sayang, tepat saat Nicko hendak membuka pintu kamar mandi, Nona Lucy sudah selesai. Perempuan itu keluar dengan jubah mandi dan rambutnya yang masih basah, membuat d**a Nicko berdesir. “Hari ini, aku ada urusan lain. Kau bicaralah dengan Alfred. Kau bisa tanya apa pun soal bisnis, mungkin? Atau apa saja.” Mendengar pertanyaan itu, wajah Nicko seketika memanas. Kecemburuan kembali menyerangnya. Bicara dengan Alfred? Bahkan melihat wajahnya pun ia tak sudi. Nona Lucy tampaknya menyadari perubahan raut wajah Nicko. Ia melangkah mendekat, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka, hingga ujung jemarinya menyentuh dagu Nicko, memaksanya untuk menatap sepasang mata yang dalam dan penuh rahasia itu. “Sayang, jangan memasang wajah seperti itu,” bisik Lucy lembut. Sebelum Nicko sempat memprotes atau menyuarakan kekesalannya, Nona Lucy sudah menyusupkan tangannya ke pinggang Nicko, menarik pemuda itu mendekat hingga d**a mereka bersentuhan. Tanpa aba-aba, Nona Lucy menempelkan bibirnya ke bibir Nicko. Ciuman itu begitu lambat, perlahan demi perlahan. Nona Lucy mencium Nicko dengan penuh perasaan, seolah ingin meninggalkan jejak-jejak yang bisa diingat oleh Nicko, meskipun saat ia tak sedang berada di samping pemuda itu. Nicko terkesiap, tangannya secara tidak sadar melingkar di bahu Nona Lucy yang masih lembap. Dunia di sekitarnya seolah mengabur, Nicko memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Suara napas yang terengah-engah keluar dari mulut Nicko saat Nona Lucy memperdalam ciumannya, menunjukkan tanda kepasrahan yang menegaskan betapa lemahnya ia di bawah kendali wanita itu. Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Nona Lucy melepaskan tautan mereka. Ia memberikan satu tepukan ringan di pipi Nicko yang masih memanas. “Jadilah anak baik hari ini,” ucap Nona Lucy dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Ia kemudian berbalik, berganti pakaian dengan cepat, dan melangkah keluar dari kamar tanpa menoleh lagi. Kepergiannya meninggalkan kekosongan yang menyesakkan bagi Nicko. Tak lama kemudian, setelah Nicko juga berganti pakaian, ia turun ke ruang tengah dengan langkah berat. Di sana, Alfred sudah duduk dengan angkuh di atas sofa. Pria itu sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca berkas-berkas yang terlihat rumit. “Ah, si anak muda sudah bangun,” suara dan gestur Alfred terdengar meremehkan. Ia bahkan tidak menurunkan berkasnya, hanya melirik Nicko dari balik kacamata mahalnya. “Nona Lucy memintaku mengajarimu sedikit soal bisnis. Tapi sejujurnya, aku ragu kau punya kapasitas otak untuk memahami bagaimana dunia luar bekerja.” Nicko mengepalkan tangannya di samping tubuh. “Aku tidak butuh pelajaran darimu.” Alfred terkekeh sinis. “Tentu saja. Kau merasa sudah cukup hebat hanya karena Lucy memberimu sedikit perhatian? Jangan naif, Nicko. Di dunia Nona Lucy, kau hanyalah aksesoris. Indah dilihat, tapi tidak punya nilai jual yang bertahan lama. Berbeda denganku. Aku adalah fondasi yang ia butuhkan untuk tetap bisa menghasilkan banyak uang. Kau tidak tahu apa-apa.” Kata-kata itu menghunjam tepat di titik terlemah Nicko. Rasa kesal yang sudah menumpuk sejak semalam, kini mendidih menjadi amarah yang dingin. Nicko tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya menatap cangkir kopi Alfred yang terlihat tinggal setengah. “Aku akan buatkan kopi baru untukmu. Sepertinya kopi itu sudah dingin,” ucap Nicko dengan suara datar yang dipaksakan setenang mungkin. Alfred hanya bergumam tidak peduli, tanda setuju. Di dapur, tangan Nicko bergetar karena emosi. Ia melihat botol berisi bubuk lada hitam yang sangat halus di rak bumbu. Sebuah ide gila muncul. Dengan gerakan cepat, ia menyeduh kopi baru yang kental, lalu membubuhkan bubuk lada dalam jumlah yang cukup banyak ke dalamnya. Ia mengaduknya hingga lada itu larut dan tidak terlihat secara kasat mata, tertutup oleh aroma biji kopi yang kuat. “Ini,” ucap Nicko sembari menyodorkan cangkir itu. Alfred menerimanya tanpa curiga, matanya masih terpaku pada ponsel. Ia meminumnya dalam sekali teguk. Detik berikutnya, Alfred tersedak. Wajahnya memerah. “Kopi apa ini?! Kenapa rasanya aneh?” Alfred memegangi lehernya. Panas lada yang membakar tenggorokan hanyalah permulaan. Tak butuh waktu lama bagi sistem pencernaannya untuk bereaksi terhadap bumbu yang berlebihan itu. Wajah Alfred yang semula angkuh berubah menjadi pucat pasi. Ia memegangi perutnya dengan kedua tangan. Tanpa sepatah kata pun, ia berlari menuju kamar mandi di dekat dapur. Nicko hanya berdiri di sana, memperhatikan dengan senyumnya yang sinis. Namun, tak cukup sampai di situ saja. Karena satu jam berikutnya timbul kekacauan yang lebih besar. Alfred keluar-masuk kamar mandi dengan wajah yang semakin kuyu. Keringat dingin membanjiri keningnya. Ternyata reaksi tubuh Alfred jauh lebih parah dari yang Nicko duga. Entah mungkin pria itu memiliki lambung yang sensitif atau bagaimana. Alfred akhirnya ambruk di lorong, mengerang kesakitan karena kram perut yang hebat, hingga supir pribadi Lucy harus membawanya ke UGD terdekat. Suasana rumah besar itu menjadi sunyi setelah kekacauan yang tidak pernah ada sebelumnya. terjadi beberapa saat yang lalu. Nicko mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia merasa puas, tapi ada sedikit rasa cemas yang mulai menghantui. Sebuah pertanyaan terlintas. Apakah ia sudah melakukan hal yang benar? Menjelang sore, mobil Nona Lucy meluncur masuk ke halaman. Nicko berdiri di ruang tengah, menanti dengan senyuman paling lebar. Namun, saat pintu terbuka, ia tidak mendapati sambutan hangat atau kecupan lembut seperti pagi tadi. Nona Lucy melangkah masuk dengan aura yang begitu dingin, sampai-sampai para pelayan tak berani mengangkat kepala mereka. Tampaknya, mereka sudah paham suasana hati Nona Lucy. “Apa yang kau lakukan pada Alfred?” Pertanyaan itu terdengar seperti sebuah ancaman. “Aku, aku tidak melakukan apa-apa. Mungkin dia salah makan,” jawab Nicko gagap, mencoba untuk tidak mengakui perbuatannya. Nona Lucy berjalan mendekat hingga ia berada tepat di depan Nicko. Matanya menyala karena amarah. “Supirku menemukan botol lada yang terbuka di meja dapur, dan Alfred didiagnosis mengalami iritasi lambung akut. Kau pikir aku bodoh, Nicko?” Nona Lucy tidak memberi kesempatan bagi Nicko untuk membela diri. Ia mencengkeram lengan Nicko dengan kuat, hal yang tidak pernah dilakukan oleh Nona Lucy sebelumnya, ditambah lagi, Nona Lucy barusan memanggilnya dengan nama? Tidak dengan panggilan sayang seperti biasanya. Ini jelas adalah bencana. Secepat kilat, Nona Lucy menyeret Nicko ke kamar tempat ia dan Alfred menghabiskan waktu semalam. Bau wine yang basi dan sisa-sisa atmosfer malam itu masih menggantung di udara. Nona Lucy terus mendorong Nicko masuk ke dalamnya. Nona Lucy menutup pintu dengan keras dan memutar kunci dua kali. Ia memasukkann kunci itu ke dalam laci, lalu berbalik menatap Nicko yang kini tersudut di antara kenangan pahit tentang Alfred. “Kau ingin berperilaku seperti anak kecil yang cemburu?" tanya Nona Lucy sembari melangkah, mendekat dengan irama yang terdengar mengerikan. Nona Lucy kemudian melanjutkan ucapannya. “Kalau begitu, aku akan mengajarimu bagaimana rasanya menanggung konsekuensi di ruangan ini. Kau tidak akan keluar sampai aku mengizinkannya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD